Lihat ke Halaman Asli

Christie Damayanti

TERVERIFIKASI

Just a survivor

Tengah Malam di Buleleng Menuju Kuta, Tangan Kami Pun Saling Menggenggam

Diperbarui: 14 Juni 2022   18:04

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

By Christie Damayanti

                                                                                                            Dokumentasi www.coconuts.co

                                                                                                       
Malam tu, sekitar jam 11.00 malam, kami berpamitan untuk pulang kembali ke Kuta. Astaga, aku ingat siang itu, kami dari hotelku di Kuta menuju Dapur Bali Mula di Buleleng Bali Utara, dengan waktu 3,5 jam dan perjalanan naik turun butu pegunungan Batur, yang aku yakin jika malam hari seperti ini, akan sangat berbahaya untuk kami!

Aku sempat ingat, selama perjakanan kami dari Kuta ke Buleleng ini, aku tidak melihat satu pun tiang lampu, ketika kami naik turun perbukitan, keculai ketika kami melewati perkampungan Bali. Tetapi, tidak ketika berada di lereng bukit, apalagi di tepi hutan pegunungan ......

Trus, memang nya kita kembali ke kuta dalam waktu 3,5 jam itu melewati jalan berliku liku dan naik turun pegunungan tanpa lampu, gitu? Astagaaaaaa ......

Kegelisahan ku tentang bahaya perjalanan kami ini, aku katakana kepada sahabatku yang membawa mobil. Ditambah lagi, hari sudah hampir tengah malam dan walau hanya seteguk atau 2 teguk arak 40% itu, sahabatku pun pasti merasakannya, betapa gejolak hangat diperut kami ini, bisa mengundang berbagai reaksi tubuh.

Atau, mungkin kah kami melewati jalan lain, tanpa harus berkelok kelok naik turun pegunungan tanpa lampu? Kupikir, pasti ada jalan memutar, sampai ke Kuta. Walau memutar, paling tidak akan lebih aman bagi kami, jika kami melewati perkampungan Bali .....

Ya, ternyata memang ada jalan memutar, yang diperkirakan akan memakan waktu 30 menit lebih lama daripada jalan pertama tadi. Syukurlah .....

Sahabatku memastikan perjalanan kami akan aman. Dia memeriksa googlemap nya di hp dan memastikan kami akan baik2 saja. Dan, dia mengusap kepalaku serta mencium keningku, sebelum mobil kami bergerak maju.

Aku berdoa, awal dari perjalanan kami. Setelah kami keluar dari Dapur Bali Mula, dan saling melambaikan tanan kami kepada Chef Yadi, mobil kami pun berjalan lambat.

Karena, dari jalan utama Buleleng dan masuk ke Desa Tejakula menuju Dapur Bali Mula ini, ada sekitar ratusan meter, dengan jalan pengerasan tetapi tanpa penerangan, sehingga hanya lampu mobil kami saa yan menerangi jalan setapak Desa Tejakula ini.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline