Lihat ke Halaman Asli

Tertinggal Sunset

Diperbarui: 8 Juni 2016   18:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Ah,… sebenarnya suasana kafe di tepian pantai ini begitu indah. Tapi,…formalitas ini sungguh menyiksaku.  Mungkin juga menyiksanya. Aku yakin, sebenarnya tak ada yang berubah dalam diri kami. Hanyalah masa lalu dan kenyataan saat ini yang menjadikan kami terbelenggu oleh kebekuan. Sesekali aku tak mampu menahan diri untuk menatapnya. Masihkah wajahnya cantik seperti dahulu? Setelah sekian waktu kami tak bertemu.

Tak ingin bertemu, tepatnya. Hmm,…masih seperti dulu. Tak banyak berubah, meski hampir tujuh tahun usia kami bertambah. Hanya saja, yang jelas berbeda tentu saja penampilannya. Ups,..aku sejenak lupa.Tentu saja, dia tampak jauh lebih dewasa, apalagi kini dia adalah Pimpinan Cabang perusahaan kami di Bali ini.

Tapi, masih saja kami salah tingkah, saat tatapan kami bertemu arah. Dia sibuk, entah pura-pura sibuk, dengan potongan-potongan terakhir Grilled Crab-nya, sesekali menyeruput Ice Lemon Tea-nya. Kemudian dia alihkan pandang, pada luruhnya debur ombak yang membelai  pantai. Sekian menit yang lalu, aku telah selesai menyantap BBQ Clam, kemudian lebih memilih asyik dengan kopi hitamku. Juga menyulut sebatang mild, lalu kembali mencuri pandang, pada rambutnya yang dipermainkan hembus  angin.

“ Mas Surya, jangan banyak-banyak..,” terngiang suara merdu itu. Itu cegahnya dahulu, jika dalam waktu kurang dari setengah jam, aku hendak menyulut lagi. Dia selalu dengan lembut mengambil alih sebatang rokok yang sudah terselip di bibirku.  Tapi, itu dulu. Kini tiada lagi suara itu. Membuatku yakin,… ia lebih berhasil dariku. Berhasil melupakan,… menghapus semua kenangan tentang aku.

Sekian detik, lamunanku menerawang pada masa sekian tahun yang terlewatkan. Makan malam berdua  yang penuh keceriaan. Saat kami masih sama-sama merintis karir sebagai staf di perusahaan yang sama di Ibukota. Tentu bukan makan malam di sebuah kafe tepi pantai seperti di Jimbaran sekarang ini. Seringkali, kami hanya menikmati hidangan pecel lele Lamongan, di warung tenda tepi jalan. Tak da sunset, hanya pijar lampu-lampu jalan, penanda bergantinya senja menjadi malam. Perputaran hari yang seringkali seperti berlari dan kami adalah pemuda pemudi yang tertatih mengikuti. Tapi sungguh, dalam kesederhanaan itu, cinta kami tumbuh. Cinta yang membawa kami pada harapan-harapan lugu seperti apa adanya. Menghiasi hampir seluruh percakapan kami di sela menikmati hidangan. Berseling canda, tawa, juga rajuk manjanya. Selalu berbinar mata indahnya, setiap kali kami berbicara tentang angan dan cita-cita berdua. Tentang berumah tangga, berapa saja tabungan yang akan kami kumpulkan untuk melangsungkan pernikahan, dan tentu saja mimpi-mimpi kami untuk berbulan madu, di…Pulau Dewata.

***

Namun itu semua sebelum segala angan kami pupus dan  terdampar di tepian pantai gersang. Setelah timbul tenggelam, diombang-ambing oleh terpaan gelombang kebimbangan. Perjalanan tak semudah yang kami kira. Terantuk kerikil dan batu-batu terjal, membuat telapak kaki kami berdarah-darah.  Di sana ada karang-karang penghalang, dari benturan budaya kedua orang tua kami, begitu pun sulitnya kami mengendalikan kerasnya hati, untuk berdamai ego diri. Pertengkaran demi pertengkaran sering tak selesai dengan pasti. Demikian juga, saat kehadiran rasa saling cemburu berkuasa, karena mulai datangnya peran pihak ketiga. Cinta yang sesungguhnya masih ada, tak mampu juga untuk membuat kami tetap menantang segala badai. Kami lelah. Kami menyerah. Dan kami pun berpisah. Begitu parahnya luka yang kami derita, membuat kehendak untuk membunuh rasa cinta itu menjadi pilihan utama.

Rita, yah…, Rita, wanita yang ada didepanku sekarang ini, dahulu dengan segera menerima tawaran untuk berpindah tugas, ketika perusahaan kami membuka  kantor cabang yang baru di Bali. Dia ingin segera melupakan aku. Dan aku pun ingin segera melupakannya. Hasilnya? Kuakui, bagiku sia-sia.

Sudah beberapa kali aku berupaya berkelit dari perintah atasanku untuk melakukan audit rutin di kantor cabang di Bali ini. Namun, pada akhirnya aku tak berdaya lagi menolaknya, setelah tak da lagi alasan yang pantas diajukan. Jumlah auditor di perusahaan ini terbatas dan semua telah mendapatkan tugas di semua kantor cabang yang ada. Tak ada yang bersedia bertukar tempat. 

“ Kau ini, aneh sekali. Enak-enak disuruh audit sambil wisata kok ogah-ogahan”, komentar rekan-rekanku.

Ah. Mereka kebanyakan adalah orang-orang baru. Tak tahu riwayatku dulu. Pulau Dewata tentu indah untuk berwisata. Tapi, di sana luka kupastikan kembali menganga. Salahku, mengapa masih saja tak mampu melupakannya. Bukan itu saja. Aku tak ingin wanita itu bertemu aku dalam rasa kemenangan. Apalagi rasa kasihan. Jika dia tahu, hingga usiaku yang ke 38 ini, aku masih sendiri. Tak ada yang seperti dirinya. Aku malu padanya, sebab tak mampu membunuh cinta dan melupakannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline