Lihat ke Halaman Asli

Chaterine Juliana Sitorus

Pelajar/Mahasiswa

Meningkatnya Harga Pupuk yang Berakibat pada Hasil Panen Padi

Diperbarui: 6 Desember 2022   18:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

Beberapa desa dikecamatan silaen, yang terletak dikawasan toba saat ini sudah memasuki musim panen padi. Namun hasil panen tahun 2022 mengalami penurunan yang sangat drastis disebabkan mengingkatnya harga pupuk. 

Petani asal desa silaen, Gokkon Sitorus (39) mengungkapkan bahwa pada awal panen tahun ini dari 1 hektar luas lahan sawah yang dimilikinya hanya mendapatkan 3,5 ton. Turun sekitar 2,5 ton dari hasil tahun sebelumnya. 

“Pada tahun sebelumnya itu saya mendapatkan hasil panen sebesar 6,5 ton,” ungkapnya saat berada di satu toko pupuk di jalan silimbat-parsoburan kec. Silaen, (sabtu 24/09/2022) pagi. 

Ia mengatakan bahwa penurunan hasil panen saat ini disebabkan oleh meningkatnya harga pupuk. 

“Turunnya hasil panen, kerena meningkatnya harga pupuk sehingga panen tahun ini gak maksimal,” ujarnya. 

Ia juga menyatakatan beberapa tahun belakangan ini produksi padi menurun yang disebabkan oleh faktor cuaca dan tikus.Tapi hasil panen tahun ini semakin menjadi yang disebabkan meningkatnya harga pupuk yang membuat petani kesulitan dalam mencukupi nutrisi tanaman padinya. Jika pada tahun-tahun sebelumya petani melakukan pemupukan sebanyak dua kali sebelum panen, namun kali ini mereka hanya mampu melakukan pemupukan sekali atau bahkan tidak pernah karena ketidakmampuan mereka dalam membeli pupuk. 

“Memang tahun sebelum nya hasil panen saya itu menurun tapi tidak separah sekarang ini, dulu itu disebabkan hama tikus dan juga cuaca, dimana itu masih bisa kami atasi dengan menggunakan racum hama dan juga menyiram padi dengan membuat irigasi dari sungai. Tapi tahun ini harga pupuk betul-betul naik yang seharusnya kami biasa memupuk dua kali sebelum panen ini hanya sekali atau bahkan ada beberapa sawah yang tidak mendapatkan pupuk”, ujarnya.

Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Arkeologi SPI Muhammad Qomarunnajmi mengatakan kenaikan ini dikarenakan peningkatan harga bahan baku produksi terutama gas alam dan permintaan. 

“Jenis pupuk kimia yang naik. Setidaknya dua pemicunya yaitu kenaikan bahan baku produksi, terutama gas alam dan kenaikan permintaan, karena kuota pupuk subsidi yang berkurang.” Katanya kepada CNNIndonesia Senin (14/3). 

Petani asal silaen ini juga mengungkapkan Ketidakmampuan petani dalam membeli pupuk disebabkan karena kenaikan harga pupuk yang berbanding terbalik dengan harga jual hasil padi. Dimana harga gabah padi per- kg hanya dinilai dengan Rp.6.000. 

“Harga pupuk terus naik sedangkan harga jual dari padi kami itu tidak naik, hanya 6.000 per kilonya, kecuali tadi harga hasil panen juga naik mungkin kami akan berusaha untuk membeli pupuk walaupun harganya mahal. Tapi ini harga pupuk naik tetapi harga jual barang tetap”, imbuhnya lagi. Kenaikan harga pupuk dapat dilihat berdasarkan tabel dan juga penurunan hasil panen dapat dilihat dari gambar grafik yang disajikan. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline