Lihat ke Halaman Asli

Hamdani

TERVERIFIKASI

Sang Musafir - Mencari Tempat untuk Selalu Belajar dan Mengabdi

Indoktrinasi di Kampus

Diperbarui: 15 Februari 2020   12:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto: dianmegantara

Kata kampus identik dengan ilmu pengetahuan, mahasiswa, dan dosen. Selain itu kampus juga sering dipadankan dengan kata intelektual. Begitulah sebagian besar masyarakat Indonesia memposisikan dunia kampus. Tapi bagaimana bila disebut dengan istilah "Kampus Merdeka."?

Kampus merdeka adalah peradaban baru dunia kampus yang ditawarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud) RI Nadiem Anwar Makarim. Salah satu anggota kabinet pemerintahan Jokowi-Ma'ruf.

Secara bahasa Melayu merdeka bermakna bebas atau tidak bergantung/independen. Sedangkan dalam bahasa Sanskerta memiliki makna manusia yang bebas. Dengan demikian merdeka dapat dikatakan sebagai suatu kondisi dimana manusia itu terbebas dan tidak bergantung.

Sehingga pada masa kolonialisme, kata merdeka sering dipakai sebagai penyeru semangat untuk melepaskan diri dari penjajahan. Penjajahan tersebut baik dalam bentuk fisik, mental, dan psikis.

Pada era pos-kolonialisme, oleh pemerintah kata merdeka sering digunakan sebagai energi untuk melepaskan diri dari kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan.

Di sisi lain, salah satu bentuk belajar yang sering diterapkan di dunia pendidikan termasuk kampus adalah indoktrinasi.

Indoktrinasi adalah sebuah proses yang dilakukan berdasarkan satu sistem nilai untuk menanamkan gagasan, sikap, sistem berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu.

Praktik ini seringkali dibedakan dari pendidikan karena dalam tindakan ini, orang yang diindoktrinasi diharapkan untuk tidak mempertanyakan atau secara kritis menguji doktrin yang telah mereka pelajari.

Indoktrinasi yang dilakukan secara sistematis dan berulang akan mengakibatkan "korban" nya menjadi kehilangan daya pikir orisinal. Mereka tidak lagi mampu mengembangkan pola pikir objektif sebagaimana prinsip ilmu pengetahuan.

Dalam waktu yang relatif lama mereka akan menjadi koloni yang tidak lagi merdeka dalam berpikir dan bertindak. Kemampuan berpikir kritis sudah terkikis habis karena dibenamkan oleh sistim indoktrinasi dalam sistem berpikirnya.

Ketika seseorang kehilangan kesahihan berpikirnya, rasa, dan budi daya, maka saat itulah mereka telah ditaklukkan menjadi budak dan dogma orang lain. Dia kehilangan jati diri yang memiliki prinsip benar adalah benar dan salah adalah salah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline