Lihat ke Halaman Asli

Hamdani

TERVERIFIKASI

Sang Musafir - Mencari Tempat untuk Selalu Belajar dan Mengabdi

Walau Tidak Lagi Dimuliakan, Guru Tetap Dibutuhkan

Diperbarui: 27 November 2018   16:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dewan guru, staf dan tenaga kependidikan SMPN 2 Banda Aceh berfoto bersama pimpinan sekolah seusai acara peringatan Hari Guru di Banda Aceh, Senin (26/11/2018)/Foto: Yusra

Tidak ada kata yang paling indah hari ini kita ucapkan kepada mereka selain selamat hari guru Indonesia. Mungkin kalimat yang bernada bak ucapan seriomial tersebut tidak lagi bermakna bagi guru, namun sebagai generasi yang telah dibesarkan oleh sang guru sepatutnya tidak boleh melupakan ucapan itu. Sebab kata orang bijak, ucapan adalah sebentuk doa.

Walaupun hari guru selalu ada setiap tahun atau setiap 25 Nopember. Namun hal itu tidak dapat menjadi alasan bagi siapa saja untuk tidak mengucapkan doa bagi seluruh guru Indonesia hari ini. Dengan mengucapkan kalimat selamat hari guru secara tulus dan ikhlas, berarti mereka masih mengingat jasa-jasa guru dalam mendidik dirinya bahkan anak-anak mereka.

Tidak akan berdosa jika kita masih menempatkan guru pada posisi tertinggi dalam kasta sosial. Guru memang pantas berada pada posisi sangat mulia diantara Tuhan dan kedua orang tua kita. Maka, hal apakah yang membuat kita ragu untuk menghormati mereka melebihi penghormatan kita kepada guru.

Bahkan kita diperintahkan oleh Tuhan untuk memuliakan orang-orang yang telah mengajarkan kita sepatah kata walaupun hanya sedetik masa. Itulah guru, mereka yang dengan segala kekurangannya masih mau memberikan ilmu kepada orang lain. Sedangkan orang yang senang berbagi ilmu, maka tempatnya adalah kemuliaan.

Memang, guru kita hari ini berbeda jauh dengan guru di masa lampau, termasuk pada zaman awal kebangkitan ilmu pengetahuan itu sendiri. Pada masa itu guru benar-benar menjadi panutan seperti seseorang tanpa cela, mereka sangat dipatuhi kata-katanya, ditiru perilakunya, dan menjadi lentera serta tauladan setiap manusia.

Dalam mengajar pun guru masa itu sangat memperhatikan budi pekerti, akhlak mulia, dan adab. Hubungan guru dan murid bagaikan hubungan anak dengan orang tua. Mereka saling menasehati satu sama lain, saling berkasih sayang. Sehingga membuat guru dapat memberi begitu banyak ilmu bagi muridnya. Dan yang paling penting ketika ilmu itu diberikan secara ikhlas, maka akan ada keberkahan.

Sehingga tidak heran jika kita melihat, sangat sedikit orang-orang dimasa itu yang tidak suskses dalam kehidupan yang mereka jalani. Kalau mereka memilih jadi pedagang, maka menjadi pedagang yang sukses, kalau mereka memilih berprofesi sebagai PNS maka mereka berhasil menjalankan tugas dan amanah. Hampir sedikit sekali orang-orang dulu yang menganggur, duduk berpangku tangan. Semua itu kalau kita mau jujur, penyebabnya adalah karena didoakan oleh guru-guru mereka.

Doa guru sama dengan kekuatan doa kedua orang tua kita. Kalau ada istilah durhaka kepada kedua ibu dan bapak, maka dikenal juga istilah durhaka kepada guru. Ingat, --guru jangan hanya dibayangkan orang yang mengajar disekolah-- namun mereka juga yang mengajarkan mengaji, membaca Al-Quran dan Kitab atau ustaz dan lainnya.

Oleh karena itu, guru diberikan kelebihan oleh sang pemilik ilmu untuk memiliki sesuatu yang luar biasa terdapat pada dirinya. Mungkin Anda pernah punya pengalaman bagaimana segannya Anda kepada guru Anda padahal mereka orang-orang biasa saja. Atau mungkin pernah merasa bagaimana takutnya Anda kepada guru, padahal ia sangat sopan dan baik. Jika Anda sadar, itulah sebetulnya aura kelebihan yang dimiliki oleh guru. Dan hal itu tidak terdapat pada orang lain.

Sampai titik ini kita mesti paham bahwa guru kita pada masa lalu merupakan sosok pelita, memberi cahaya dalam kegelapan, mereka datang dengan suluh ilmu pengetahuan. Karenanya mereka begitu dihormati dan dimuliakan oleh siapa saja. Keberadaan mereka ditengah-tengah ummat dan sosial masyarakat mendapatkan tempat paling tinggi dan mereka selalu dinanti-nantikan.

Akan tetapi, walaupun mereka secara sosial sangat dihormati dan dimuliakan, sesungguhnya secara materi mereka (guru) hidup dalam kondisi penuh kekurangan. Guru tidak digaji oleh negara, kalaupun ada hanya satu atau beberapa orang saja, itupun dengan jumlah yang tidak begitu besar. Jika dibandingkan dengan gaji seorang pejabat pemerintah, sangat jauh ketimpangannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline