Lihat ke Halaman Asli

Cadangan Energi Indonesia Menipis, Saatnya Melek Energi Terbarukan

Diperbarui: 22 Agustus 2017   00:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: http://www.reforminer.com/data-simulation/

Jika kalian kemarin sudah membaca tulisan saya sebelumnya di link ini, sekarang saya ingin mengajak kalian semua untuk membahas dampak apabila demand Minyak di Indonesia terus meningkat tanpa diiringi dengan kapasitas produksi dan ketersediaan sumber daya yang juga ikut meningkat.

Dampak yang akan sangat terasa adalah adanya kelangkaan BBM. Sektor yang paling cepat terkena dampaknya jika BBM menjadi langka adalah sektor transportasi dimana fluktuasi supply dan harga minyak bumi seharusnya membuat kita sadar bahwa jumlah cadangan minyak yang ada di bumi semakin menipis, termasuk di Indonesia. Hal ini disebabkan karena minyak bumi adalah bahan bakar yang tidak bisa diperbarui, maka dari itu banyak peneliti-peneliti didunia sekarang sedang gencarnya mencari dan memikirkan bahan penggantinya.

Saat ini Indonesia menjadi negara dengan konsumsi energi yang cukup tinggi di dunia. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian ESDM, dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan konsumsi energi Indonesia mencapai 7% per tahun. Angka tersebut berada diatas pertumbuhan konsumsi energi dunia yaitu sebesar 2.6% per tahun.

Dilansir dari lama sumber ini, konsumsi energi di Indonesia pada tahun 2015 terbagi untuk sektor Industri sebesar 31,79%, rumah tangga sebesar 15,27%, komersial sebesar 5,09%, transportasi sebesar 45,51%, dan lain-lain sebesar 2,34%. Dari data tersebut terlihat bahwa peningkatan konsumsi energi pada sektortransportasi meningkat beberapa tahun belakangan ini.

Berdasarkan data dari Kementrian ESDM RI, konsumsi energi Indonesia yang cukup tinggi hampir 95% dari bahan bakar fosil. Dari total tersebut, hampir 50%nya merupakan Bahan Bakar Minyak (BBM). Jadi tidak heran jika konsumsi energi di sektor Transportasi juga cenderung semakin meningkat beberapa tahun belakangan ini. 

Sejarah%2BProduksi%2BMinyak%2BIndonesia.JPG

Seperti yang terlihat pada grafik diatas, dikutip dari Renstra Direktorat Minyak Dan Gas Bumi untuk tahun 2015 s/d 2019 Kementrian ESDM, ternyata Industri minyak bumi nasional itu sudah tua, umurnya sudah lebih dari 100 tahun, dan produksinya semakin menurun. Sepanjang sejarah Republik Indonesia merdeka, puncak produksi minyak terjadi sebanyak 2 kali yaitu pada tahun 1977 dan 1995 dimana produksi minyak bumi masing-masing sebesar 1,68 juta bpd dan 1,62 juta bpd. Setelah 1995 produksi minyak Indonesia rata-rata menurun dengannatural decline rate sekitar 12% per tahun. Namun sejak tahun 2004 penurunan produksi minyak dapat ditahandengan decline rate sekitar 3% per tahun.

Pada tahun 2014, produksi minyak bumi hanya sekitar 789 ribu bpd atau menurun menjadi 96% dibandingkan tahun 2013 sebesar 824 ribu bpd. Sejak tahun 2010 s/d 2014 ternyata terjadi penurunan produksi rata-rata sekitar 4,41% per tahun. Penurunan produksi tersebut lebih disebabkan selain usia lapangan minyak Indonesia yang sudah tua, dan adanya kendala teknis seperti unplanned shutdown, kebocoran pipa, kerusakan peralatan, kendala subsurface dan gangguan alam. Selain itu, terdapat kendala non teknis masih terjadi seperti perizinan daerah, lahan, sosial dan keamanan. Oleh karena itu, terlambatnya peak production dari the giant field-Blok Cepu, akibat pembebasan lahan yang berlarut-larut menyebabkan on-stream proyek mundur menjadi tahun 2015.

Menghadapi tantangan cadangan energi yang semakin menipis, menghemat energi merupakan langkah cerdas. Namun, peningkatan konsumsi energi sebagai indikator kemajuan ekonomi Indonesia tetap harus difasilitasi dengan keberadaan sumber energi yang mendukung. Menghadapi tantangan tersebut, negara kita perlu memperluas pemanfaatan sumber energi lain untuk menggantikan pemakaian energi minyak dan fosil.

Indonesia sendiri memiliki beberapa alternatif sumber energi terbarukan yang jumlahnya sangat melimpah dan berpotensi sebagai sumber energi utama di masa depan. Sumber energi terbarukan tersebut berupa energi panas bumi (geothermal). Sumber energi panas bumi ini dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik dalam skala besar. Anugerah ini sekaligus menjadi tantangan dalam mengembangkan sumber energi panas bumi yang memiliki karakteristik bersih, ramah lingkungan, dan sustainable selama kondisi lingkungan geologi dan hidrologi terjaga keseimbangannya.

Dilansir dari berita.suaramerdeka.com, Kasubdit Pengawasan Eksplorasi dan Eksploitas Panas Bumi Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Heri Budianto mengatakan, Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. "Secara keseluruhan potensi panas bumi kita ada 29 gigawatt. Namun yang sudah kita manfaatkan baru 5 persen atau 1.600 megawatt," kata Heri pada acara Sosialisasi Pembangunan Infrastruktur Tahap II Pengembangan Panas Bumi Wilayah Kerja Baturaden di Aula KPN Segar Paguyangan, Brebes, Rabu (17/5). 

Potensi panas bumi di dunia yang bisa dimanfaatkan untuk kelistrikan mencapai 113 Giga Watt (GW), di mana 40%-nya dimiliki Indonesia sebesar 29 GW. Dengan potensi sebesar itu, tinggal bagaimana pemerintah bersama para ilmuwan, dengan peran mahasiswa juga tentunya, mengoptimalkan potensi yang ada untuk kesejahteraan rakyat.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline