Lihat ke Halaman Asli

Bung Amas

Kolektor

Apa Urgensinya Politisi Milenial di Parlemen?

Diperbarui: 19 November 2019   20:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi politisi milenial di parlemen. (sumber: pixy.org)

KETERWAKILAN kaum milenial di Senayan pada periode 2019 - 2024 cukup mewarnai pentas politik Nasional. Lantas apa pentingnya adanya politisi milenial di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)?. Ekspektasi publik tentu juga disematkan pada mereka melalui kerja-kerja politik yang konkrit.

Bagaimana jadinya, jika politisi milenial di parlemen tidak dibekali pengetahuan yang mumpuni tentang tugas-tugas pokok mereka?. Mungkinkah dengan pengabdian satu periode membuat mereka mampu berkontribusi dan berkompetisi dengan politisi senior lainnya.

Tentu mereka akan kehilangan peran. Lamban melakukan adaptasi. Bila relasi politik kerabat kuat, akan menunjang. Tapi berharap pada kemandirian pribadi, rasanya belum bisa. Kita mengandalkan mereka yang milenial di parlemen. Lebihnya, jangan terlalu berharap karena mereka masih minim pengalaman.

Bukan juga tidak serius memberi diri. Para politisi milenial kita perlu perbanyak belajar. Jika serius mengikuti proses di Senayan, maka pembentukan parakter sebagai politisi nasional dapat dilakukan. Tidak dengan jangka waktu lama. Asalkan sungguh-sungguh belajar disana.

Kita pun berharap agar mereka senantiasa peduli pada interest rakyat. Mematangkan diri dengan pengalaman itu perlu bagi politisi milenial. Jangan sombong. Karena rata-rata mereka adalahnya anaknya para pejabat. Kalau bukan anak mantan Kepala Daerah, politisi besar, Kepala Daerah.

"Legislator milenial itu karirnya belum berakhir, jika dijaga. Artinya, dari segi umur dan produktifitas legislator milenial belum lansia. Sehingga tidak mudah pikun."

Itu sebabnya cukup hijau mereka. Butuh banyak pengalaman yang diambil atau dicuri dari politisi senior. Tak harus malu belajar, sampaikan sesuatu sesuai yang diketahui saja. Bila tidak mengetahui satu hal, baiknya diam. Kemudian, belajar meningkatkan kapasitas, kompetensi diri. Jangan malu belajar hal baik.

Menempa diri mereka dengan terus belajar merupakan pilihan tepat. Seperti apapun itu, jam terbang politisi milenial juga menjadi aspek penting dalam membaca kemampuan mereka. Secara teoritis boleh jadi politisi milenial punya bekal. Berbeda dengan itu, ketika diuji dalam soal pengalaman.

Publik tentu menokohkan dan memuji keberhasilan para politisi milenial. Betapa tidak, diusia muda mereka telah menggapai posisi politik yang terhormat yakni sebagai anggota DPR RI. Ditengah ramainya pujian, doa-doa terbaik dilayangkan. Kita berharap para politisi milenial tidak sombong dan tinggi hati.

Menjadi politisi milenial memang rawan. Karena masa depan politiknya panjang. Makin menanjak, biasanya banyak rintangan yang menghadang. Tantangan seumuran mereka, kalau korupsi rasanya masih sulit. Yang dekat dengan pergaulan mereka adalah penggunaan obat-obat terlarang seperti narkoba.

Bahkan bisa jadi kalau tak punya kontrol diri akan terjerumus ke sex bebas. Idealisme mereka boleh terjaga, walau tak ada garansi untuk itu. Publik juga berharap antara retorika, etika dan visi besar para legislator milenial berjalan selaras dengan tingkah lakunya. Jangan lain di bibir, lain di hati, lalu lain juga diperbuatan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline