Lihat ke Halaman Asli

Teguh Perdana

Menulis dan Berbagi Cerita

Cerita Sebuah Perjalanan Panjang, dari Yogyakarta sampai Banjar

Diperbarui: 11 April 2020   07:43

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Travel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Jcomp

PULANG. Awan mendung yang biasanya menghinggapi langit Jogja seolah terganti dengan awan cerah dan bersahabat untuk sebuah perjalanan. Setelah berjibaku selama satu semester penuh, kemarin (13/1) waktu liburan akhirnya tiba. Keluar dari daerah Blimbingsari, aroma deburan asap dan suara bising klakson kendaraan telah menyapa seperti biasa. 

Pukul 10.00 WIB memang telah kurencanakan sebelumnya untuk memulai sebuah perjalanan panjang berjarak lebih dari 200 km dengan waktu tempuh sekitar 8 jam menuju sebuah kota di ujung timur Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah.

Tugu Jogja yang monumental menyapa pertama kali sebelum kutinggalkan daerah istimewa ini selama satu minggu. Memang keindahanya selalu menawan ragaku untuk berpindah, tapi apa boleh buat rasa rindu untuk bersua orang rumah energinya lebih besar. Kulewati tugu dengan hati lapang, memandang kedepan untuk fokus pada perjalanan.

Perjalanan selama satu jam telah kutempuh, kini Wates, daerah yang bagiku indah dengan bising kendaraan yang sedikit lebih baik dari Jogja menewarkan pemandangan berbeda dari daerah sebelumnya. Hamparan sawah masih dapat kulihat, walau tidak dapat dibilang sangat luas, tapi aku bersyukur ibu bumi masih menjaganya. Deretan pohon palm pun seperti menyambutku, kibasan daun yang tertiup angin seolah-olah mengajaku untuk berhenti sejenak. Aku berhenti sejenak dan sengaja beteduh dibawahnya, melihat petani dari kejauhan hingga melihat tronton saling salip.

Berselang beberapa kilometer, bandara baru NYIA dengan gagah telah berdiri walaupun belum sempurna. Masih kuingat sekitar dua tahun lalu masih ada rumah berdiri di daerah tersebut, rumah sederhana dengan tulisan di depanya "terus nandur" tanda tidak mau digusur. Juga sapi yang lalu-lalang mencari rumput, kini hilang diganti bising kendaraan berat alat konstruksi.

Entahlah, kadang ingatan bisa membuat kita menjadi manusia lemah. Lemah karena rasa kemanusiaan. Kupacu kembali motorku dengan kencang agar ingatan itu sirna hingga tidak terasa telah masuk Jalan Deandels.

Jalan Deandels

Walaupun hanya berbekal motor butut keluaran tahun 2008, tapi aku rasa tidak ada salahnya untuk tetap memacu kecepatan diatas 60 km/jam.

Aspal mulus, dengan angin yang bertiup agak kencang adalah salah satu ciri khas yang dimiliki oleh Jl. Deandels. Jika kalian  berpandangan bahwa ini jalan yang dibangun oleh H.W Deandels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda dulu, kalian keliru. Walaupun sama-sama Deandels, kedua orang tersebut sangat berbeda. 

Jika H.W Deandels adalah Gubermen, beda dengan Deandels yang disematkan pada jalan penghubung Bantul, Purworejo, Kebumen, hingga Cilacap. Dia adalah A.W Deandels, asisten residen wilayah Ambal (salah satu nama kecamatan di Kebumen) masa kolonial.

Sekitar 3 jam perjalanan menyusuri jalan deandels, memang tidak banyak pemandangan yang disuguhkan. Pinggiran jalan yang biasanya ramai oleh pom mini, warteg ataupun warung sembako, hanya dapat ditemui di kilometer tertentu jalan ini.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline