Lihat ke Halaman Asli

Budi Susilo

TERVERIFIKASI

Bukan Guru

Memilih dan Memilah Serapah di Antara Sampah

Diperbarui: 23 September 2021   09:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gunungan sampah bertumpuk-tumpuk di tepi jalan raya (dokumen pribadi)

Wajah pagi kusut. Matahari enggan beringsut. Burung-burung mendadak gagap, gagal berkicau, serak bersuara gagak.

Gumpalan hitam dari cerobong menjumpai asap melengking dari pantat angkot, dari laju mobil-mobil, dari pekik motor-motor penyebab telinga pekak pengantar manusia-manusia egois.

Bagaimanapun, bengisnya udara dan suara merupakan hal lumrah bagi buruh berseragam kuning. Tanpa sarung tangan, mereka terampil mengaduk-aduk tumpukan buangan dari berbagai rumah.

Memilih sembari memilah sampah, kadang disertai dengan serapah, ketika menemukan partikel teramat bau yang menembus masker berlapis-lapis.

Ia berupa sisa-sisa makanan, atau potongan-potongan, sedang disantap belatung-belatung putih. Bisa juga berwujud mikroorganisme tidak kasat mata pengurai barang busuk menguarkan hawa bacin.

"Kenapa sih orang-orang bebal itu tidak mau memilah," serapah seseorang sambil memilih kardus basah dari tumpukan sampah dengan tangan kosong.

"Itulah susahnya. Sudah berkali-kali ibu-ibu, ART, duda, dan bapak-bapak di permukiman mewah diingatkan," berkacak-pinggang, saya menghembuskan kesal bersama asap putih sisa bakaran tembakau, demi membelokkan bau menyengat agar tidak masuk hidung.

Sekali lagi, serapah membubung menyertai bau anyir tumpukan sampah amis, bertubi-tubi dari mulut-mulut nyinyir.

Angan mengapung, teringat pengharapan saya kepada para penghuni rumah megah, agar memilih dan memilah buangan, sebelum dikumpulkan di bak sampah. Menyisihkan barang anorganik dari limbah organik.

Membungkus kertas, kardus, botol plastik bekas minuman, dan materi yang dapat didaur ulang dalam satu wadah. Barulah jasad mudah busuk dikumpulkan dalam wadah lain dengan ikatan kuat, atau bertutup rapat.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline