Lihat ke Halaman Asli

Berty Sinaulan

TERVERIFIKASI

Penulis, Pewarta, Pelatih Pembina Pramuka, Arkeolog

Bapak Pandu Sedunia Pernah Dikucilkan di Indonesia

Diperbarui: 23 Februari 2017   18:30

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Lord Baden-Powell, Bapak Pandu Sedunia. (YouTube-Allehub Entertainment)

Baden-Powell yang  bernama lengkap Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, adalah pendiri dan penggagas gerakan pendidikan bagi kaum muda yang disebut Scouting (kepanduan), dan atas jasa-jasanya itu, Baden-Powell secara aklamasi diangkat sebagai Chief Scout of the World atau Bapak Pandu Sedunia. Itulah sebabnya setiap tanggal kelahirannya, 22 Februari diperingati sebagai Hari Baden-Powell di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tapi tahukah Anda, bahwa Baden-Powell pernah dikucilkan di Indonesia?

Dilahirkan di London, Inggris, pada 22 Februari 1857, Baden-Powell merupakan anak ketujuh dari pasangan Reverend HG Baden Powell, seorang guru besar Universitas Oxford dan istrinya, Henrietta Grace Smyth. Baden-Powell muda yang sempat dikenal dengan panggil Steph atau Stephe itu sejak kecil memang menyukai petualangan di alam terbuka bersama kakak-kakaknya.

Dia kemudian masuk sebagai prajurit Kerajaan Inggris dan memulai karier kemiliterannya saat ditugaskan di India pada 1876. Dari India, Baden-Powell bertugas berpindah-pindah sampai ke Afrika Selatan. Di Mafeking, Afrika Selatan itulah namanya menjadi terkenal, setelah dia berhasil mempertahankan wilayah itu selama 217 hari dari serangan musuh, sebelum bala bantuan tiba. Keberanian dan kegagahan itulah yang membuatnya menjadi pahlawan bagi bangsa Inggris.

Namun setelah kembali ke Inggris pada 1903, dia justru lebih tertarik melihat kenyataan bahwa buku Aids to Scouting yang disusunnya sebagai pedoman untuk prajurit-prajurit muda, disukai juga oleh para guru dan pemimpin kelompok kaum muda di sana. Sementara di sisi lain, Baden-Powell juga prihatin bahwa makin banyak anak jalanan di London dan sekitarnya yang menimbulkan masalah sosial. Inilah yang membuat perhatian Baden-Powell berubah, dari cara pandang seorang komandan militer, menjadi cara pandang seorang pendidik.

Sesuai saran Sir William Smith, pendiri organisasi ke Boys’ Brigade, suatu organisasi kaum muda Kristen, Baden-Powell dianjurkan untuk memanfaatkan buku Aids to Scouting, dengan membuat skema pelatihan yang lebih bervariasi bagi anak-anak muda agar menjadi warganegara yang berguna. Baden-Powell kemudian memulai menulis ulang Aids to Scouting, kali ini lebih ditujukan kepada pembaca usia muda. Sebelumnya, dia mengajak 22 anak dan remaja putera yang berusia sekitar 13-14 tahun dari sekolah-sekolah umum dan beberapa dari mereka juga merupakan anggota Boys’ Brigade.

Anak-anak itu diajaknya berkemah selama 8 hari mulai 1 Agustus 1907 di Pulau Brownsea, Dorset, yang tak terlalu jauh dari London. Di sana mereka belajar hidup di alam terbuka, bermain bersama, dan sekaligus belajar hidup mandiri. Sepulang dari perkemahan itu, Baden-Powell mulai memasukkan catatan-catatan yang dibuatnya selama berkemah digabungkan dengan isi buku Aids to Scouting. Hasilnya, serial berjudul Scouting for Boys, yang terbit enam kali penerbitan mulai Januari 1908. Itulah awal mula lahirnya Scouting movement atau gerakan kepanduan, yang kini telah ada di 165 negara dan teritori di seluruh dunia.

Indonesia Terbanyak

Bila awalnya hanya 22 anak dan remaja yang mengikuti kegiatan Scouting gagasan Baden-Powell, maka kini jumlah anggota yang terdaftar di World Organization of the Scout Movement (WOSM), yang merupakan induk dari seluruh organisasi nasional gerakan kepanduan di dunia, tercatat lebih dari 40 juta orang. Dari jumlah itu, setengahnya atau lebih dari 20 juta anggota merupakan anggota Gerakan Pramuka. Ini berarti organisasi nasional gerakan pendidikan kepanduan di Indonesia memiliki jumlah anggota terbanyak dibandingkan organisasi lain di dalam WOSM.

Di Indonesia sendiri, kehadiran Scouting dimulai pada pertengahan 1912. Saat itu, seorang pegawai jawatan meteorologi Belanda, P Joh Smits, yang membawanya ke Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia-Belanda, dan memulainya dengan membentuk satu kelompok Pandu di Batavia (sekarang Jakarta). Sewaktu masih di Belanda, Joh Smits – ada yang menyebutnya juga Johan atau Johannes Smits – memang telah aktif dalam kepanduan di negaranya.

Gerakan itu berkembang demikian pesatnya, dan puluhan organisasi kepanduan tumbuh di Indonesia. Mulai yang berlatar belakang kebangsaan, agama, sukubangsa, dan lainnya. Bahkan ketika penjajahan Jepang dan awal Kemerdekaan Republik Indonesia yang ditandai dengan masa revolusi fisik, gerakan kepanduan tetap ada.

Semuanya tetap berpatokan dengan mengikuti prinsip-prinsip kepanduan seperti yang digagas oleh Baden-Powell. Apalagi atas jasa-jasa menggagas dan mendirikan gerakan kepanduan tersebut, Baden-Powell juga telah diangkat secara aklamasi sebagai Bapak Pandu Sedunia, yang dalam Bahasa Inggris disebut Chief Scouts of the World. Itulah sebabnya, setiap tanggal kelahirannya pada 22 Februari selalu diperingati dengan berbagai acara untuk mengenang jasa-jasa Baden-Powell.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline