Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Aliem

ASN di Badan Pusat Statistik.

"Robotisasi" Manusia dan Jam Kerja yang Membunuh

Diperbarui: 29 Oktober 2017   21:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok. pri

Berita kematian seorang pekerja di Jepang yang disebabkan karena hanya memiliki dua hari libur dalam sebulan, masih menyisakan ribuan tanya di benak saya. Dia mungkin dalam keadaan terpaksa mengikuti regulasi di kantor tempatnya bekerja. Bayangkan saja, hanya dua hari libur dalam sebulan. Kejadian ini bukan yang pertama terjadi di dunia. Kemungkinan besar juga sudah terjadi di negara kita, namun tidak ter-publish.

Entah siapa yang pertama kali menelurkan doktrinisasi bahwa bekerja di hari libur dan menambah jam lembur di hari kerja adalah hal yang luar biasa dan patut untuk dicontoh. Doktrin ini memang sangat manjur untuk "memaksa" seorang pekerja yang tidak memiliki wewenang penuh dalam organisasi tempatnya mengabdi. Jika mengikuti perintah atasan dan ikut lembur, mereka akan dicap sebagai pekerja loyal dan menjadi teladan.

Pada beberapa organisasi kerja, Loyalitas diukur dari keikutsertaan pekerja untuk tetap bekerja pada hari libur. Para pimpinan beranggapan bahwa penggunaan hari libur dapat berdampak positif  pada peningkatan hasil kerja. Doktrin bahwa pekerja yang tetap rajin bekerja di hari libur adalah orang yang berdedikasi tinggi, loyal, profesional, dan amanah.

Lalu, bagaimana dampak dari penggunaan hari libur  sebagai hari kerja? Apakah berdampak positif bagi peningkatan kinerja?

Kenyataannya, para pekerja yang sudah berkeluarga harus merelakan waktu mereka demi totalitas dalam pekerjaan. Butuh penelitian lebih lanjut, apakah kurangnya perhatian dari orangtua (ayah dan ibu) memberi dampak positif bagi peningkatan kriminalitas anak remaja. Pelaku begal yang sebagian besar masih usia sekolah, tawuran pelajar, pengguna narkoba, dan anak usia sekolah dasar yang mengisap Lem adalah beberapa perilaku menyimpang yang patut dicugai sebagai dampak buruk kurangnya waktu orang tua bagi keluarganya.

Selain dampak negatif bagi keluarga si pekerja, dampak lain yang terjadi adalah berkurangnya inovasi dalam bekerja. Pada akhirnya, over time work akan berdampak negatif bagi suatu perusahaan. Kinerja malah menurun karena terciptanya rasa bosan. Kondisi ini dapat mengancam perusahaan/organisasi kerja itu sendiri.

Bagi pekerja, kesehatan akan terganggu dan hanya menghabiskan waktu di ruang perawatan rumah sakit dan pada masa pemulihan. Bahkan, kelelahan karena bekerja terlalu keras akan berujung kematian. Jika sudah begini, si pekerja dan keluarganya akan menjadi korban dari buruknya sistem jam kerja.

Rutinitas yang tidak berjeda hanya menghilangkan kompetensi seorang pekerja. Tidak ada kesempatan dalam peningkatan kompetensi diri dan dapat menghilangkan inovasi.  Dimana kata Inovasi hanya sebatas mimpi tanpa sebuah eksekusi.

Jumlah jam kerja tinggi tanpa diimbangi waktu rekreasi bisa memicu stres. Akibatnya,  terjadi penurunan kinerja dan fatalnya lagi bisa berdampak buruk bagi keharmonisan keluarga.

Sebuah tulisan berjudul "Apakah Anda Termasuk Seorang "Zombie Worker"?"  yang ditulis oleh kompasianer bernama Irwan Sutisna, layak mendapatkan perhatian. Pada artikel tersebut dibahas  negara  Skandinavia yaitu Swedia yang menurunkan jam kerja di negaranya menjadi enam jam dalam sehari. Sebuah hasil positif dihasilkan terhadap kinerja para pekerja. Waktu luang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan  kompetensi dan menciptakan inovasi bagi perusahaan tempatnya bekerja.

Kebijakan tersebut juga berdampak pada meningkatnya tingkat kebahagiaan masyarakat Swedia. Dengan perasaan bahagia, proses bisnis dapat berjalan dengan baik dan akan berdampak pada peningkatan kualitas hasil pekerjaan. Kinerja tinggi dan hasilnya berkualitas.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline