Lihat ke Halaman Asli

Band

TERVERIFIKASI

Let There Be Love

Kaleng Bir Terakhir Belgia

Diperbarui: 3 Juli 2021   18:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Aksi 'diving' Ciro Immobile di laga Belgia vs Italia (foto Reuter), Sumber: indosport.com

Memang hampir enggak kelihatan memudarnya generasi emas Belgium yang sudah mengharu-biru di puncak perempat piala dunia lalu ketika menghempaskan Brasil. Sepak bola proaktif dengan pakem penguasaan bola yang masif telah menjadi banyak istirahat dari sebuah pertunjukan panggung mewah, ketika Italy justru menyontek pola Belgium di era emasnya. Belgia tiba-tiba hilang di balik panggung.

Mungkin mencoba menepis panggilan alam ketika Roberto Martinez membawa "Golden Age Reds" dengan separuh nyawa. Dari Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, Youri Tielemans dan "dobel" Hazards yang masih berkelip keemasannya, ditambah Jeremy Doku, si "Joker" dengan kecepatan dan dribbling   yang memulai kerdipnya. 

Rantai emas kuno di dalam laci lemari masih juga dikeluarkan untuk menjaga pintu sejarah pertahanan oleh Vertonghen, Vermaelen dan Alderweireld. Sementara emas karat tinggi sudah menjadi warisan yang semestinya dari Vincent Kompany, Marouane Fellaini dan Radja Nainggolan. Jadilah Belgia menentang alam.

Mungkin sudah banyak dibahas oleh ahli-ahli bola di Kompasiana, soal pertandingan derita Belgia vs Italia lengkap dengan prediksi sebelumnya bahwa Italia akan keluar sebagai pemenangnya di bawah tangan "Midas", Roberto Mancini. 

Seni sepak bola di tangan penikmat kemeja Girogio Armani ini menjadi seperti opera Italy dua babak. Opera babak pertama adalah seni serang dan opera babak kedua adalah seni bertahan. Mungkin orang terkecoh dengan sihir Mancini yang mengubah orang Italia yang lapar di lapangan, ternyata juga masih gila grendel pintu 'cattenaccio". Terlihat di pertandingan dini tadi, bahwa sapu Mancini masih menyisakan 'kotoran' di belakang pintu yang mesti sama-sama dibersihkan.

Kehilangan warna emas generasi Belgia ini, juga diwarnai dengan dua gol "bonus" untuk masing-masing peserta tanding. Wasit Slovenia Slavko Vincic yang tidak memutuskan meniup peluit saat Immobile "dive" terjatuh karena beradu kaki ringan di udara dengan Vertonghen saat berebut bola persis di depan kotak dalam. 

Immobille bergulingan dan tertidur dengan posisi menekuk di rumput, sehingga mengganggu pergerakan Vermaelen  untuk double cover  Nicolo Barella, yang lepas dari himpitan Vertonghen dan Hazards. Barella yang bersih tanpa ampun keras mengeksekusi ke pojok kanan jala Curtois. 

Menariknya, Ciro Immobille yang melengkung tergeletak kesakitan langsung berdiri dan berlari ikut merayakan kerumunan gol Barella. Wasit tidak pula meniup break saat Ciro tergeletak dengan jeda cukup lama, yang bisa mengganggu pergerakan pertahanan di area kritis Belgia, melainkan terus membiarkan permainan berjalan.

Gol bonus kedua datang bagi penalti Romelu, hanya karena dorongan ringan Giovani Lorenzo di punggung Doku pada menit akhir babak pertama, sudah cukup untuk hadiah sebuah penalti.

Namun secara keseluruhan Belgia menampilkan permainan yang sudah selesai. Sepakbola berkembang sedemikian sejalan dengan kebutuhan taktik. Hanya sepakbola metamorfosa dan cerdik bisa bertahan seperti Italia dan Inggris. Karena sedemikian tipisnya perbedaan di lapangan. 

Sepakbola original malah mungkin akan mendominasi ditingkat major antar negara ke depan, seperti yang dikerjakan oleh Swiss. Enaknya rasa "Suisse Steak" original bisa kita saksikan, terlebih di laga malam kemarin ketika melawan Spanyol yang lelah namun liat. Sepakbola pelatih Vladimir Petkovic, sederhana dari 'text book' yang presisi, dapat dilihat gamblang dan sarat dengan muatan sepakbola sebagai sebuah permainan sebelas.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline