Lihat ke Halaman Asli

Ayu Rurisa

Mahasiswi Teknik Mekanika

Cerpen Fiski ' Terjebak Imajinasi '

Diperbarui: 12 September 2020   08:30

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Aku tidak menyukai mereka; orang-orang kurang kerjaan yang hobinya menggosipkan orang lain dibelakang, yang mendedikasikan masa muda mereka dengan cinta monyet, bicara dengan terkikik, serta mereka yang tersipu-sipu di depan senior yang menurutku sama sekali tidak keren. 

Dan tentu saja mereka tidak menyukaiku, aku juga tidak peduli. Toh mereka tak ada pengaruhnya dalam hidupku. Aku memiliki duniaku sendiri. Dunia imajinasi buatanku yang penuh dengan segala hal yang kusuka. Dunia dimana semua orang menyayangiku dan penuh dengan orang-orang baik.

Bicara soal dunia imajinasi, aku punya banyak dunia imajinasi yang bervariasi. Dunia-dunia itu berjajaran dan  tersusun rapi di labirin besar, di otak cemerlangku. Tapi entah mengapa mereka selalu menyebut otak cemerlangku sebagai otak bebal. Mengabaikan semua gagasanku mentah-mentah. Dan kupikir aku tidak pernah ambil pusing tentang itu semua. Biarlah mereka bahagia dengan argumennya mengenai diriku. Sudahlah aku harus segera bergegas sekarang.

Drrtt...drrrt....beep.

Aku mengikat tali sepatuku erat-erat, merapikan jas hujan dan payung, bersiap untuk pergi. Hujan pagi ini sangat lebat dengan petir yang senantiasa menyambar. Aku tak tahu seberapa cepat jantungku bedegup sekarang. Aku sangatlah takut dengan petir. Para pengendara motor mulai berebut tempat untuk berteduh. 

kurasa petir memang semakin mengganas. Akupun juga memutuskan untuk mencari tempat berteduh. Aku melihat sebuah kafe kecil di pinggir jalan. Kugerakkan kakiku untuk berjalan ke kafe itu. Aku tiba di depan pintu kafe bersamaan dengan sepasang kekasih yang kurasa juga berteduh di kafe ini. Kutaruh payung kuningku di dekat pintu masuk sebelum aku bersiap untuk masuk.

Tempat ini bergaya seperti Romawi kuno dari luar dan bergaya bagai istana Prancis dari dalam. Kafe ini memiliki tujuh lantai dan semakin keatas semakin mewah juga mahal.Kecil tapi mewah itulah kesan pertama yang aku dapat saat memasuki kafe ini. Rambut yang tersisir rapi, Jas juga gaun lengkap dengan sepatunya memenuhi pemandangan di dalam sini.

Kulihat seseorang berjalan kearahku. Seorang pria yang kemungkinan semumuran denganku. Dia berjalan sambil melambaikan tangan padaku seakan aku sudah mengenalnya. Aku membalas senyuman hangatnya dengan tulus. Bukan karena apa, hanya saja aku tidak ingin dianggap sebagai orang yang angkuh. Dia berhenti tepat di depanku, memandangku seperti aku adalah species baru. Lalu kulihat bibir seksi itu tersenyum lebar-lebar. Baiklah, aku benci untuk mengakui bahwa Ia sangat tampan.

" Hai, apa kabar ? " tanyanya ramah.

" Yah, seperti biasa aku selalu dalam keadaan terbaikku, " jawabku enteng.

" Haha, kau masih sama seperti dulu. Tak berubah sama sekali, " balasnya yang sukses membuatku berpikir. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya ? aku tidak pernah merasa aku bertemu dengan orang ini sebelumnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline