Lihat ke Halaman Asli

Tak Hanya Negara, Pribadi Pun Berbhineka

Diperbarui: 18 Juni 2015   03:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Sabtu lalu, saya bertemu seorang teman lama, tepatnya sih janjian untuk bertemu. Meski sama-sama tinggal di Surabaya, kami bisa dibilang sangat jarang bertemu. Sesekali menyapa di WA, itupun kalau masing-masing ada perlunya saja (bukankah ini sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari?). Sabtu lalu, mungkin untuk pertama kalinya, kami bertemu tanpa ada maksud tersembunyi.  Hanya ingin ngobrol ringan. Tidak lebih.

Saat bertemu, dia terlihat lebih gemuk dan rambutnya lebih panjang. Selama 4 tahun saling mengenal, tak sekalipun saya melihat dia memanjangkan rambutnya hingga sebahu. Selain dari itu, senyumnya, jahilnya, kerenyahan suaranya, dan keramahannya masih sama seperti yang dulu. Kami berdua sama-sama lupa kapan terakhir kali bertemu. Mungkin ini yang membuat kami bisa connect. Dua perempuan yang sama-sama pelupa, sama-sama cuek dan sama-sama jahil.

Singkat cerita, dari pertanyaan basa-basi seputar kabar, karier, pacar, obrolan melebar hingga urusan Pilpres, Isis, film, sepatu, uang NKRI yang rumornya diluncurkan hari ini, hingga peluang bisnis. Banyak? Seru? bangeett!! Hampir 3 jam ngobrol ngalur ngidul, sungguh menyenangkan. Saat membahas Pilpres, baru terungkap kalau kami punya jagoan yang berbeda.  Adu argumen sempat terjadi, tapi karena saya bukan tipe orang yang suka memperdebatkan sesuatu yang saya tidak kenal betul, tidak tahu pasti, dan tidak paham 100%, maka saya akhiri dengan tantangan untuk bertaruh. Saya mengajak dia taruhan ice cream Zangradi selama 2 Sabtu berturur-turut, dan dia setuju.

Untunglah, adu argumen ini berakhir dengan seru. Tak terbayangkan bila pertemanan kami harus renggang hanya karena dua pasang Capres yang sama sekali nggak kenal kami berdua. Konyol kan? Entah seperti apa ceritanya, tiba-tiba saja, kami ngobrol tentang ISIS, lalu merembet soal Agama.  Teman saya ini keturunan tionghoa, beragama Katolik, dan peranakan Menado-Palembang. Dia baru tinggal di Surabaya selama 6 tahun. Sebelumnya, sama seperti saya, dia harus hidup nomaden dari satu kota ke kota lainnya.

Ditengah obrolan yang seru, tiba-tiba dia bertanya “Kamu pernah nggak, ibadah di Masjid dengan perasaan khawatir?” Saya mengerutkan kening saya. Sebetulnya saya sudah tahu, kemana arah pertanyaannya, tapi saya memutuskan untuk pura-pura tidak tahu. “Aku pernah beberapa kali. Ketika ibadah seharusnya hikmat, malah jadi takut” sambungnya. Saya masih terdiam. “Tapi itu dulu, beberapa tahun lalu. Semoga saja, tidak terulang lagi.” Saya pun tidak bertanya maksud kalimatnya yang “semoga tidak terulang lagi”.

“Aku belum pernah, tapi kakakku pernah. Bukan cuma ibadah, bahkan saat beraktifitas.” Kali ini dia yang mengerutkan keningnya. Saya kemudian menceritakan pengalaman kakak perempuan saya yang tinggal di Ambon, Maluku Tengah. Ia memutuskan untuk mengenakan jilbab sekitar 2 tahun yang lalu. Keputusannya itu dibuat saat pulang ke Surabaya, merayakan lebaran bersama kami. Ibu saya dan saya yang tidak berjilbab, merasa terharu dengan keputusannya. “Alhamdulillah” sahut mama dan saya kompak. “Supaya nggak dikira Kristen ma” sambung kakak saya dengan segera. Ibarat film kartun, mama dan saya seperti terjungkal ke belakang. Gedubrak.

Saya yang besar di Sumatra, bersekolah di sekolah Katolik, bertemankan teman-teman tionghoa, India, Kalimantan, Sumatra, Jawa beragama Islam, Katolik, Budha, Konghucu, Kristen, dan Hindu tidak pernah merasa sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak menyamankan, sesuatu yang harus membuat saya merasa gelisah. Teman akrab saya justru kebanyakan bergama Katolik dan Budha. Melihat altar dengan berbagai buah dan hio di rumah teman-teman adalah hal yang biasa buat saya. Mendengar cerita mereka tentang berbagai ritual, berkunjung ke rumah mereka dan rumah teman Mama yang merayakan Imlek, mendapat angpao merah juga menjadi hal yang biasa. Bukan sesuatu yang luar biasa buat saya. Di sekolah saya, ada kebiasaan tiap tahun yang pasti terjadi. Saling memberi kartu ucapan Natal dan Idul Fitri kepada teman-teman yang merayakan. Sampai SMP, saya juga menyimpan kartu bergambar Avalokitesvara (Dewi Kwan Im) pemberian teman. Katanya kartu itu bisa melindungi saya. Saya juga pernah mendapat booklet bergambar Nabi Isa (Yesus Kristus) lengkap dengan doa’nya, juga pemberian teman.

Setiap hari saya bertemu mereka, duduk sebangku bersama mereka, bermain bersama, menikmati menu Imlek yang halal, menikmati kue lebaran di rumah saya, dan menikmati kue Natal serta telur Paskah bersama. Tidak ada yang menyeramkan. “Mungkin karena waktu itu kamu masih SD. Anak kecil kan nggak kenal perbedaan semacam itu?” celetuk teman saya.

Ketika saya dan Mama berkunjung ke Ambon dan Masohi, tempat tinggal kakak perempuan saya, kami diajak berkeliling. Seperti guide, kakak saya menjelaskan berbagai tempat yang kami lewati. Beberapa kali saya mendengar penjelasan yang serupa. “Ini perkampungan Kristen Ma. Ini sekolah khusus Islam dek, kalau yang di atas khusus Kristen.”

“Islam nggak boleh ya sekolah di sekolah yang di atas?”

“Boleh, tapi ya gitu dehh.. ada nggak enaknya. Tapi di sini aman kok” sambungnya menenangkan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline