Lihat ke Halaman Asli

Pengalaman Refleksi Belajar dari Ghibah

Diperbarui: 27 Januari 2022   18:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Gibah adalah Berbicara tentang orang lain yang tidak hadir, tentang keburukannya atau hal yang tidak menyenangkan pembicara. Bila halnya itu benar itu seperti keluh kesah, bila tidak benar itu menggunjingkan dan fitnah.

Dalam pergaulan sehari hari, sering dikatakan : merumpi, ngobrol, bergunjing, bergosip, ngerumpi. Biasanya dilakukan berramai-ramai dalam kelompok, tetapi bisa saja dalam cara saling berbisik-bisik. Sementara yang dibicarakan tidak hadir dalam kelompok itu. Saya kira kicauan, postingan di media masa itu serupa ghibah juga 

Tetapi secara mengejutkan saya mendengar kemarin khotbah seorang pemuka agama bicara awal tentang ghibah. Saya kira akan membahas ghibah, mana yang boleh mana yang tidak boleh menurut hukum agama. Ternyata saya salah. Pengkhotbah itu melanjutkan tentang ghibah dengan: "Ghibah itu menghadirkan sosok seseorang... bagi teman-bicaranya"

Selanjutnya kepada umatnya dijelaskan bahwa kehadiran pada umumnya itu dapat positif, tampak nyata, dapat pula imaginer. Seperti kita bertemu orang dalam berteman secara virtual yang umum dewasa itu banyak orang merasakannya dalam praktek dengan medsos dan gadget.

Kehadiran dapat nyata, dan benar-benar karena undangan dan hadir. Pengundang menghadirkannya dalam forum. Dapat pula kehadiran dengan mewakilkan. Yang hendak dihadirkan menghadirkan diri oleh wakilnya. Terkadang juga bahkan hanya mengirim sambutan tertulis, dan dihadirkan oleh protokol dengan pembacaan sambutan dan pesannya.

Seperti kenyataan pula menghadirkan sosok dalam acara mengenang. Di Jawa ada tradisi "memule" mengenang sekian hari Bapak "YTH", dipanggil Tuhan. Disana di"hadirkan" sosok Bpk YTH itu secara simbolis dengan foto atau cukup diucapkan dalam sambutan dan doa. Kehadiran dikenang dan dirayakan.

Pengkhotbah menutup pesan keimanannya dengan ajakan agar umat baik dalam kelompok maupun pribadi membiasakan mambaca Alkitab dan naskah-naskah agamanya. Disana kita itu imaginer menghadirkan Nabi dengan pesan dan kerahmatannya serta para pengikutnya.

Mengalami mendengar khotbah itu saya semalam tak bisa tidur nyenyak merefleksi gaya dan pesan penghotbah itu. Ternyata menurut penilaian saya beliau itu menggunakan pemikiran yang menyeluruh, mampu mengambil tinjauan paradoksnya ghibah, dan menggunakannya mekanisme ghibah berramai ramai untuk menggugah umat untuk bersatu dalam kebersamaan, ber"umat". 

Dan dalam berkhotbah yang tidak "lama" cukup kaya pesan yang disampaikan, secara sistematis, menunjukkan penguasaan alternatip-alternatip kehidupan, mudah dipahami umat pada umumnya.   

Kalau kita belajar sejarah ilmu pengetahuan dari filsafat hingga mathematika dan teknologi serta apa saja, akan melihat dinamika dan peradaban manusia yang terus berkembang. Dan itu memunculkan refleksi dan gagasan-gagasan baru yang semakin lebih besar, bermutu dan baru.

Dengan cara demikian kita berangkat dari pengalaman nyata siap untuk berrefleksi dan belajar menemukan pembaharuan mengisi perubahan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline