Lihat ke Halaman Asli

Siasati Keterbatasan Lansia

Diperbarui: 23 April 2021   11:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Tulisan ini bukan tentang pengalaman masa lalu, bukan tetapi tentang kehidupan masa sekarang ini. Tetapi juga bukan resep,saran,nasehat,melainkan sebuah catatan pribadi penulis yang namanya disebut diatas. Dicatat sebagai upaya dalam mereorganisasi pengalaman sendiri dalam belajar sampai lanjut usia, setelah menghitung 80 th hidup didunia ini.

Sebagai manusia kategori lanjut usia memang merasakan semakin hari semakin menemukan berkurangnya kemampuan dalam bergerak, dalam kecepatan berjalan, bertambahnya kelambatan merespon dan gerak reflek. Apalagi yang disebut kemampuan mendengar, tidak bisu, tetapi tuli iiya. Setiap ada tamu atau orang baru bertemu harus diberi warning agar bicara lebih keras. Walau bagaimanapun itu semua bisa diatasi, tetap saja itulah masalahnya.

Belum lagi rasa pusing  atau kepala terrasa tidak nyaman itu pengalaman sehari hari. Padahal keinginan membaca dan menulis masih ada di dalam sanubarinya. Untung saja sudah lama tidak berpuisi, ini juga bisa jadi bahan berpuisi yang sendu. Atau bahan berfilosofi tentang kehidupan. Semua itu mungkin senada dengan kaum muda yang sekarang bicara tentang "kakehan mikir kapan kerjanya" (terlalu lama bertimbang rasa, kapan kerjanya) atau "kakehan pikiran hampir stress" (terlalu banyak permasalahan yang dipikirannya bisa jadi membuat stress.)  

Overthinking banyak di lontar dipostingan teman-teman.Padahal tentang overthinking itu ada beberapa orang mencatat:. Bahwa banyak orang berfikir tentang problem, permasalahan yang banyak unsurnya belum sungguh terjadi. Dan masalah yang sudah membuat pusing, ternyata tidak terjadi.

Belum sampai overthinking seorang tetangga terlalu banyak kerja didepan layar komputer menjadi buta total. Sementara kepusingan yang lain memberi signal bagi dokter membuat diagnose sakit vertigo bagi penulis. Vertigo itu tampak dengan gejala pusing, mual, muntah, seluruh badan menjadi lemas. Minimal perlu 3 hari untuk memulihkannya.

Dokter menjelaskan dari kerja mata dan berdampak pada otak. Otak kurang oksigen karena terlambat datangnya darah membawa O2. Otak kedua adalah perut. Juga sering ada orang, diarhe karena cemas, grogy, stress ringan. Maka, jelas dokter, upayakan jangan terhambat peredaran darah ke otak lewat senam leher setiap bangun tidur.

Itulah masalah yang beruntun dan susul menyusul. Sebab semua potensi disadari sudah menurun. Ibarat kendaraan onderdeel tua banyak rewel dan kesuluruhannya perlu di perbarui atau disiasati mungkin harus ada bongkar pasang.

Target atau tujuan pemikiran ini adalah agar hidup ini bisa lanjut berjalan seperti ibarat mobil tua itu. Sebab terminalnya belum kita ketahui menunggu Perintah dari Atas. Dalam kendaraan ini kita perlu "HP surgawi" untuk siap menuju ketentuan terminal. HP itu adalah tiga kata kunci dibawah ini :

(satu) Rendah Hati.

Dimasa muda kerendahan hati harus berarti : berani dihandalkan dimana sadar tahu pada kebenaran dan realita.  Dimasa lansia agak berubah resonansinya : lansia harus berani menerima realita dan keterbatasannya. Disinilah dasar dari kedamaian, damai dengan sesama, damai dengan lingkungan, dan terpenting damai dengan diri sendiri. Pantas disayangkan bila sudah lansia belum bisa berdamai dengan diri sendiri. Ini langkah awal untuk damai bertobat berkiblat pada Sang Pencipta.

Rendah Hati bukan masalah keimanan saja tetapi juga kejiwaan / psokologis yang positif dan terbuka serta mampu memotivasi menggerakkan hayat ini untuk maju kedepan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline