Lihat ke Halaman Asli

Memaknai Lebih dalam Dirumahkan

Diperbarui: 10 Mei 2020   17:17

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

"Memaknai lebih dalam" maksudnya disini adalah melalui permenungan menemukan nilai lebih daripada apa yang keseharian dirasakan dan dilakukan. 

Permenungan itu diharapkan berlaku untuk umum bukan khusus untuk salah satu profesi,golongan atau keyakinan tertentu, karena "lebih dalam" maksudnya  mau menyentuh nilai-nilai kemanusiaan, yang sedang dirundung keprihatinan menghadapi Covid-19 ini. Khususnya situasi "DIRUMAHKAN" oleh upaya social distancing.  

Sudah banyak sosialisasi, simulasi, persuasi, motivasi upaya2 memahamkan seseorang atau kelompok untuk bersikap dan berbuat sesuai maksud dan tujuan "Dirumahkan" guna mencegah penularan Covid19 itu. Bahkan tanpa kecuali Pemberian sangsi, untuk membuat jera terhadap para pelanggar terhadap ketentuan yang ada untuk tidak berbuat lagi.  Itulah diantaranya nilai-nilai sosial kemasyarakatan ataupun hukum yang sudah disebar luaskan.

Pendisiplinan diperlukan untuk membuat perilaku,perbuatan itu berkelanjutan. Memang ada nilai-nilai positip bermanfaat dari ketentuan-ketentuan yang sudah disosialisasikan itu seperti : kebiasaan menjaga kebersihan, menjaga kesehatan badan, kemungkinan belajar dirumah, kemungkinan beribadat dimana saja, kemungkinan komunikasi sehat dalam keluarga.

Disiplin adalah sikap taat pada azas dan ketentuan tuntunan, arahan yang sebenarnya harus dimiliki oleh pembelajar, murid atau siswa menghadapi arahan gurunya. 

Sekarang belajar dirumah, dan bukan saja anak-anak, tetapi ibu bapak pun harus pandai pandai memahami arahan guru anaknya. Disana ada banyak aneka ketentuan ketentuan yang tersimpul (implisit) sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari anak sebagai siswa. Pertanyaannya apa yang bisa dipelajari bapak ibu memenuhi tuntutan pendidikan anak mereka. Itu membuat ibu dan bapak harus "belajar" lagi.

Semua orang harus belajar lagi. Tinggal dirumah perlu lebih sadar bahwa Rumah sekarang sudah menjadi Sekolah seluruh keluarga. Guru yang terbaik adalah Pengalaman. Mencari pengalaman tidak harus keluar rumah. Tetapi penting bagaimana kwalitas kita menghayati Pengalaman.

Mengalami Peristiwa atau kejadian dengan cara berkwalitas bisa lebih bermanfaat bahkan bisa mengubah hidup seseorang lebih baik daripada yang hanya melihat, menyaksikan bahkan yang menjadi kurban pun dalam peristiwa itu. Internet menjadi jendela untuk mengalami kejadian dan peristiwa. Selain bisa melihat film vcd bermain fiksi melalui aplikasi aneka ragam, bisa juga membaca berita, membaca artikel dan menerima serta belajar hal-hal baru.

Pengalaman saya yang nyata menyadari mengapa artikel saya belakangan sekitar tiga bulan ini di Kompasiana tidak lagi banyak pembacanya. Saya sadar bahwa saya sudah tiga bulan atau lebih tidak lagi sering membaca tulisan orang lain disana . Saya banyak menyita waktu untuk bercanda di media lain, seperti Whatshapp groep, Facebook dan membaca beberapa berita Kumparan dan sedikit lainnya yang mudah saya akses.

Pengalaman lain adalah dalam membaca berita dan sedikit paparan di Kompasiana saya mendapat kesan bahwa banyak penulisan yang cenderung lebih suka membaca orang daripada perkara. Mengkritisi orang daripada pendapatnya. Argumentum ada hominem dari pada analisa materi permasalahan. 

Misalnya kupasan atas Kritik yang satu dibanding kritik orang lain, pendapat pejabat yang satu dihadapkan dengan pendapat pejabat yang lain, sikap politik partai dibahas dikaitkan dengah hubungan keluarga dari sebagian pendukungnya. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline