Lihat ke Halaman Asli

asni asueb

Mencoba kembali di dunia menulis

Belajar dari Keseharian Orang Tua dan Ilmu Ikhlas Adik Bungsu

Diperbarui: 30 November 2020   22:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpribadi

Sedari kecil  kita diajarkan untuk ikhlas dan sabar dalam menghadapi ujian kehidupan, dan sekedar untuk memenuhi keinginan.

Apa yang menjadi panutan dan contoh keseharian adalah kedua orang tua, yang saling melengkapi satu sama lain, memberikan contoh mana yang harus dituruti dan mana yang harus dibuang.

Sedari kecil, kami anak anaknya tak pernah mendengar kedua orang tua kami bertengkar apalagi  drama piring terbang, kebun binatang, kata kata kasar yang tak sepantas. Bahkan keluhan mama, hampir tak terdengar. Sepertinya rumah tangga mereka adem adem saja.

Setelah menikah, aku baru memahami ruang yang mereka buka dan ruang yang tidak mereka buka karena rasa penasaran yang teramat akan kehidupan rumah tangga mama dan papa, sebagai anak tengah dan yang paling dekat dengan papa. Aku memberanikan diri untuk bertanya

" Pa, sedari kecil hingga aku menikah, tak pernah papa berkata kasar, marah, atau ribut dengan mama, kalau boleh tahu semulus itukan rumah tangga yang papa jalani," Sedikit  merasa takut, takut papa tersinggung.

" Nak, semua orang punya prahara rumah tangga namun bagaimana orang itu mampu menyelesaikan praharanya itu tergantung mereka," papa menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya kembali.

Papa sudah sesepuh, usia saat dia menikah pun sudah empat puluh tahun. Ketika usia senja mendekati, anak anaknya baru beranjak untuk mandiri.

Papa kembali melanjutih  obrolan dengan sembari minum teh telor dan sepiring  goreng pisang kesenangannya.

"Begitu pula papa dan mama, mana ada di dunia ini beda rahim, beda kepala tidak bertengkar, bahkan satu rahim pun bisa bertengkar." Sembari mengunyah pisang gorengnya.

" Kami orang tua, tak ingin anak anak mengetahui prahara, lelah, dan sebagainya yang bernilai negatif. Cukup di kamar membahas semuanya, keluar dari kamar kami tetap orang tua, sahabat untuk kalian.," Kata kata papa membuat aku terkesima.

Papa hidup dalam empat jaman, jaman Jepang, Belanda, Orde  Lama dan Orde Baru tapi pemikirannya  jaman milenial . Takjub akan rahasia kehidupan mereka. Bangga menjadi anak anak mereka.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline