Lihat ke Halaman Asli

Kepedihan Mengantarkan Fauzan ke Juara Dunia

Diperbarui: 22 Juli 2018   08:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

banjarmasin.tribunnews.com

Viral kemenangan Lalu Muhammad Zohri menjadi juara dunia dalam ajang lari 100 meter IAAF U-20 di Finlandia, ketika Zohri dihujani hadiah dari berbagai kalangan. Kemenangan Zohri dan viral bagi dirinya mungkin sebagai sesuatu yang menggantikan kepedihannya sebelum ia viral seperti sekarang.

Betapa Zohri yang tinggal di rumah gubuk, makannya kurang, gizi tak terperhatikan, tidak ada supplemennya,  sepatu lari juga bahkan tak punya. Lain Zohri di lari, ada seorang Indonesia lainnya di karate, dia adalah Fauzan alias Ozan. 

Pemuda berusia 20 tahun asal Kampung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini tercatat namanya sebagai juara dunia karate yang diperolehnya di WASO World Championship Januari 2018 lalu di Cekoslovakia. Nasib Ozan tak seberuntung Zohri yang viral dan mendapat hadiah dari berbagai kalangan. Perjalanan Ozan dan pelatihnya Mustafa ke Cekoslovakia tidaklah mudah.

Sepulang dari Ceko, ia sempat menikmati kemenangannya namun ia menikmatinya hanya dalam sunyi, lalu setelah itu kembali ke kehidupan nyata, mengais rezeki. Ozan mempunyai cita-cita untuk menjadi tentara. Ia juga melamar untuk menjadi polisi, tapi ia tak lolos dari seleksi. Hingga yang terakhir ia mengajukan lamaran sebagai anggota Satpol PP di provinsi Kalimantan Selatan. Hingga sekarang belum ada kelanjutan nasib lamaran tersebut.

Pekerjaan Ozan kini adalah sebagai pegawai di sebuah toko retail untuk menopang ekonomi keluarganya. Sedang ibunya, Jamariah (56) berprofesi sebagai tukang pijat. Ozan berharap ke depannya pemerintah menaruh perhatian pada nasib atlet yang sudah mengharumkan nama negara.

"Ga ada perhatian, apa pemerintah lagi sibuk ngurus rakyat" kata Ozan.

Perjalanan Ozan dan pelatihnya ke Ceko tidak mudah, mereka kesulitan biaya ke perjalanan ke Ceko. Bantuan akhirnya datang dari Korda Federasi Karate Tradisional Kalsel memenuhi keinginan Ozan berlaga di tingkat dunia.

"Kesulitan biaya dan urusan visa kemudian dibantu beberapa pihak asing dan Korda Federasi Karate Tradisional Indonesia", kata Fauzan.

Pihak WASO World Championship memberikan fasilitas tempat istirahat dan keperluan sehari-hari selama tinggal di Ceko, namun semua bantuan dan fasilitas itu mesti dibayar usai kejuaraan. Usai kejuaraan uang tersebut kami gantikan, kata Fauzan.

Menurutnya, pemerintah kurang memperhatikan atlet-atlet karate.

"Walau demikian, yang penting main sebaik mungkin, ngga mengecewakan", ujar Ozan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline