Lihat ke Halaman Asli

Adjat R. Sudradjat

TERVERIFIKASI

Panggil saya Kang Adjat saja

Sikap Bijak Menghadapi Komentar yang Merusak

Diperbarui: 24 Februari 2017   09:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi (sumber:bobbyfernando.com)

Bagi Kompasianer yang biasa memposting tulisan khususnya di rubrik Politik, bisa jadi seringkali mendapat komentar bernada menyerang, dengan kata-kata kasar nan vulgar, dan sampai blog keroyokan Kompasiana pun seakan tempat pembuangan sampah seperti di Bantar Gebang saja laiknya.

Terlebih lagi komentator seperti itu meskipun memiliki akun Kompasiana, dengan nama-nama keren yang entah nama sesuai dengn KTP, atawa cuma nama samaran belaka, seringkali juga ditemukan memajang foto profil yang bukan gambar dirinya sendiri. Sehingga benak kita pun ahirnya dikerubungi sejuta tanda tanya. Bahkan terkadang kita punya kesimpulan sepintas, komentator tersebut sebenarnya tak memiliki jiwa ksatria yang bertanggung jawab atas ucapan dan tindakannya.

Bagi penulis postingan itu pun, atawa pembaca lain yang masih beradab, hal seperti itu paling tidak akan merasa sedikit mengganggu juga memang. Bahkan bagi mereka yang masih berjiwa muda, emosinya akan ikut terpancing dibuatnya. Maka yang terjadi, akan ramailah lapak komentar dengan ‘perang’ ungkapan kata-kata yang sebenarnya tak pantas bagi mereka yang masih mengagungkan moral dan etika.

Terlebih lagi blog keroyokan Kompasiana ini serupa panggung publik, pembacanya tidak dibatasi oleh mereka yang telah berusia 18 tahun ke atas. Bisa jadi bocah yang masih sedang belajar mengeja aksara pun ikut pula membacanya.

Inilah masalahnya.

Masalahnya, bagaimana kalau anak-anak itu kebetulan adalah anak kita sendiri, darah daging kita sendiri? Sementara menurut para ahli psikologi dalam usia seperti itu merupakan masa yang kritis dan selalu meniru dengan tingkah laku orang di sekitarnya.

Kemudian, bagaimana kalau anak kita berkata kasar, dan tidak sopan terhadap orang tuanya, karena memang meniru kita sendiri yang selalu bersikap kasar, dan tidak sopan terhadap orang lain, apakah yang akan kita rasakan?

Konon, sejahat-jahatnya seorang pelaku kriminal sekalipun tak pernah berharap anaknya untuk mengikuti jejaknya. Dalam kasus tersebut, bisa jadi di dalam hatinya yang paling dalam, masih tersimpan perasaan sebagai manusia yang tetap memiliki rasa perikemanusiaan dan moral yang menjadi fitrahnya dalam kehidupan.

Apalagi di ruang yang sedang dihadapi saat ini. Saya yakin, para Kompasianer adalah mereka yang memiliki kebiasaan menulis dan membaca. Dengan demikian paling tidak mampu membedakan hitam dan putih, maupun benar tidaknya suatu tindakan. Bahkan kalau dicermati lebih jauh lagi, orang yang sudah biasa melakukan kegiatan menulis dan membaca, boleh dibilang sebagai orang yang sudah mampu mengendalikan emosi dan perilakunya.

Oleh karena itu, bagi para Kompasianer yang di saat postingannya mendapat komentar yang setidaknya membuat daun telinga memerah, atawa sampai ikut terpancing emosinya, karena membaca komentar dengan ungkapan kasar dan hingga terkesan membabi-buta, ditambah pula sampai menyentuh privasi kita, misalnya yang paling sensitif seperti isu SARA, maka cara bijak di dalam menghadapinya adalah sebagai sesuatu yang tidak ada artinya sma sekali, atawa kalau perlu di-delete saja, atawa paling tidak didiamkan saja. Anggaplah seakan komentar itu bukan apa-apa bagi kita. Sebagaimana bunyi pepatah lama: Biarkan anjing menggonggong, kafilah terus berlalu.

Akan tetapi bukan berarti kita mengidentikan Kompasianer yang demikian seperti binatang yang suka menyalak itu. Sama sekali tidak. Peribahasa itu sekedar amsal belaka.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline