Lihat ke Halaman Asli

Arnold Adoe

TERVERIFIKASI

Tukang Kayu Setengah Hati

"Gojek Tuyul" Beraksi Lagi, Penyedia Jasa Ojek Online Pusing?

Diperbarui: 26 Februari 2020   22:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan menunjukkan barang bukti kasus akun Gojek palsu, Rabu (26/2/2020).(KOMPAS.COM/A. FAIZAL)

Saya bertanya-tanya  sekaligus terkejut membaca berita di Kompas.com, dengan tajuk "Gojek Tuyul" ditangkap Polisi, Punya 8.850 Nomor Telepon dan 41 Akun Gojek".

Bertanya apa yang dimaksud dengan "Gojek Tuyul"?. Apa menggunakan tuyul sebagai pengendara Gojek atau bagaimana? Jika benar tuyul, bagaimana caranya membuat tuyul bisa faham teknologi seperti ini?

Sedangkan terkejut, karena jumlah nomor telepon yang dimiliki "Gojek Tuyul" tersebut sangatlah fantastis menurut saya, apalagi jika bicara tentang jumlah akun Gojek yang mencapai puluhan tersebut, untuk apa?

Jawaban atas pertanyaan saya sedikit terjawab dengan isi berita tersebut.  Dikatakan pelaku yang bernisial MF ang tinggal di Malang dan berusia 35 tahun---berarti bukan tuyul, melakukan manipulasi untuk meraih keuntungan dari Gojek.

Selain membuat akun Gojek yang banyak, pelaku juga membuat 31 akun restoran dan puluhan akun customer dan melakukan transaksi seperti GoFood dan GoBiz secara palsu. Dari manipulasi ini, pelaku memperoleh keuntungan dari poin yang diberikan Gojek berdasarkan jumlah transaksi tertentu dan tentunya merugikan pihak Go-Jek

Melihat gambaran kasus ini, saya lantas mencoba melihat beberapa kasus serupa. Ternyata kasus serupa pernah terjadi bahkan bukan saja merugikan Gojek, tetapi juga Grab.

Pada Februari 2018 misalnya, Grab bahkan merilis bahwa akibat perbuatan  "tuyul" ini, khususnya di Jakarta, pihak Grab mengalami kerugian hingga Rp 600 juta dalam jangka waktu tiga bulan.

Saat itu, manajemen Grab berespons  setelah polisi akhirnya menangkap AA (24), pelaku modifikasi ponsel milik para pengemudi taksi online yang melakukan order fiktif.

Diberitakan, AA dapat  masuk ke aplikasi Grab, lalu masuk ke software dan merubah programnya dan melaksanakan transaksi seperti  mengantar orang, padahal tidak melakukan, hanya diam di tempat.

Bagaimana caranya "tuyul" ini dapat beraksi? Dari perkembangannya, manipulasi ini dilakukan dengan menggunakan aplikasi. Seperti aplikasi fake GPS yang mampu membuat GPS dengan koordinat palsu dengan setinggan tertentu.

Aplikasi ini dapat membuat rute dapat diarahkan darimana kemana, mengelabui perjalanan seperti sebenarnya padahal dilakukan secara fiktif, namun report yang diterima manajemen ojek online adalah transaksi sehingga diberikan poin.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline