Lihat ke Halaman Asli

Arnold Mamesah

TERVERIFIKASI

Infrastructure and Economic Intelligent - Urbanomics - Intelconomix

Wabah Global Akibat Kebijakan Bank Sentral

Diperbarui: 14 Desember 2015   00:48

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Respon Negatif Kebijakan Bank Sentral

Awal Desember 2015, Chairwoman The Federal Reserve (Bank Sentral US) mengindikasi kenaikan suku bunga acuan (Fed Rate) hampir pasti akan diputuskan pada pertemuan 16 Desember 2015. Atas indikasi ini, timbul gejolak pada pasar keuangan yang membuat Dolar Amerika (USD) makin kuat dan mengalami apresiasi yang semakin menekan ekspor produk US, sehingga ekspektasi pertumbuhan bisnis turun. Pasar saham US memberikan respon negatif dan indeks bursa saham turun.

Bank Sentral Euro Area (ECB : European Central Bank) memastikan akan memperluas program Quantitative Easing (QE) dengan suku bunga acuan sangat rendah. Hal ini dilakukan untuk mengangkat inflasi yang selanjutnya diharapkan meningkatkan pertumbuhan. Kebijakan ECB ini ditanggapi negatif pasar saham Europe dan indeks saham turun.

Dalam keadaan nilai ekspor turun, Bank Sentral China (PBoC : People’s Bank of China) mengeluarkan kebijakan mengendurkan kendali devaluasi atas Renminbi (CNY) untuk memulihkan ekspor. Atas kebijakan ini, nilai tukar CNY terhadap USD turun dan demikian juga indeks bursa saham Shanghai.

Dari 3(tiga) kasus yang melibatkan bank sentral besar, ternyata kebijakan yang diterbitkan selalu ditanggapi negatif. Hal ini menunjukkan ketidakpercayaan akan kemampuan bank sentral memulihkan perekonomian.

The Fed, ECB, dan PBoC, merepresentasikan 60% GDP Global. Sebagai gambaran, pangsa  GDP (Gross Domestic Product) dari masing-masing negara dan area tersebut pada Chart-1.

Chart-1 : GDP Share

 

Sumber Informasi : Wikipedia - List of GDP by Country

Pertumbuhan GDP diberikan pada Tabel-2.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline