Lihat ke Halaman Asli

ariza fahlaivi

Content Writer

Kitab Para Pencari Kebenaran, Risalah Khusus al-Ghazali untuk Para Salik

Diperbarui: 26 November 2019   17:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Diolah dari freepik.com

Dalam ranah kajian ilmu tasawuf, Salik merupakan sebutan bagi mereka yang ingin menggapai Sang Maha Sejati. Dalam perjalanannya, para Salik harus melalui tahapan-tahapan supaya mereka bisa benar-benar wushul (sampai) kepada Allah swt. Tanpa tahapan-tahapan tersebut mustahil rasanya seorang salik mampu menggapai Dzat yang ia tuju, Allah swt.

Menjadi seorang salik bukanlah perkara yang mudah. Seorang salik harus siap secara lahir dan batin dalam menjalankan laku syariat dan hakikat agar ia benar-benar mengenal diri sendiri sebelum akhirnya mampu mengenal Tuhan. Untuk mempermudah perjuangan para Salik ini, Imam al-Ghazali pun akhirnya menulis sebuah karya berjudul Raudhatut Thalibin wa 'Umdatus Salikin yang telah diterjemahkan oleh Penerbit Turos Pustaka dengan judul Kitab Para Pencari Kebenaran.

Dalam kata pengantar buku tersebut, Imam al-Ghazali menulis:

"Aku menulis risalah ini sebagai pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu mereka dalam menempuh suluk, insya Allah."

Pada bagian-bagian awal, al-Ghazali menjelaskan istilah-istilah tasawuf yang sudah tidak asing di kalangan pengkaji sufisme, seperti makna suluk, wushul dan wishal, makrifat, mahabbah, qurb, dan sebagainya.

Tidak hanya itu, kitab ini juga membahas berbagai aspek lain, seperti kemuliaan ilmu, makna ketergelinciran lidah, larangan ghibah, arti akhlak mulia, dan lain-lainnya yang mengarahkan seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam menjalin hubungan dengan Allah swt. maupun kepada sesama manusia.

Dalam menerangkan bagian-bagian yang dicantumkan di dalam kitab, al-Ghazali memadukan pendapatnya dengan konsep-konsep yang bersumber dari al-Quran, Hadis, dan perkataan para ulama dan sufi terdahulu, seperti Abu yazid al-Busthami, al-Junaid, Sahl bin Abdullah at-Tustari, dan sebagainya.

Memang ada begitu banyak kajian yang al-Ghazali coba angkat di dalam kitab ini, tapi kesemua pembahasan itu mengerucut menjadi satu premis yang terangkum dalam salah satu ungkapan paling masyhur dalam ruang lingkup kajian tasawuf, 'barang siapa mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya'.

Premis di atas membukakan jalan bagi kita untuk memahami makna tasawuf menurut Imam al-Ghazali. Di bagian ketiga pada bab Makna Suluk dan Tasawuf, al-Ghazali menulis: "Tasawuf berarti mencampakkan nafsu dalam ibadah dan menggantungkan hati dengan hal-hal Ilahiah."

Di sini kita bisa sedikit memahami mengapa al-ghazali mengatakan bahwa tasawuf itu mengandung tiga hal, yakni ilmu, amal, dan pemberian. Ilmu bermanfaat untuk menyingkap tujuan, amal berguna untuk membantu mencapai tujuan, sedangkan pemberian sebagai capaian puncak pengharapan seorang Salik.

Ketiga kandungan tersebut berdiri pada tingkatan yang berbeda-beda. Tingkatan ilmu adalah tingkatan murid, tingkatan amal adalah tingkatan menengah, dan tingkatan pemberian adalah tingkatan wushul.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline