Lihat ke Halaman Asli

Arif Rahman

instagram : @studywithariffamily

"Freakonomic" 2018, Berlari di Jalur Gelinding Bola Salju

Diperbarui: 26 November 2017   15:25

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

https://www.fotolia.com/id/129183379

Masa awal jatuhnya startup, turbulen perbankan dan respons entrepreneur.

Biar saja yang kuat menang, yang cerdas dan jago menguasai pasar, jangan ada campur tangan pemerintah, tak juga siapa pun, proses ini akan membawa mekanisme pasar yang paling efektif dan efisien. 

Ini kata Adam Smith, pelopor ekonomi modern dua abad yang lalu. Namun berbeda dengan John Maynard Keynes, katanya, kalau tidak dikendalikan, in the long run we are all dead ^_^. Dan tahun-tahun belakangan ini, di level global dan juga Indonesia, kondisi ini terasa semakin nyata.

Dan menariknya, kebijakan pemerintah di tahun ini berani, mengorbankan stabilitas jangka pendek untuk tujuan jangka panjang. Hal ini menambah panjang tantangan yang sudah banyak ada di tahun Ayam Api. 

Ini yang saya ibaratkan, kita tengah berada di jalur gelinding bola salju, dan bukannya mencoba berpindah keluar jalur, namun kita justru lari sekuat mungkin di lintasan tersebut agar tak terlindas. Banyak hal pada akhirnya tak bisa dimengerti, inilah yang kemudian oleh duo Steven Levitt dan Stephen J. Dubner disebut dengan istilah Freakonomic.

Mari kita review sedikit apa yang terjadi di tahun belakangan ini, dan apa yang harus kita lakukan untuk menghadapai 2018, khususnya sikap kita sebagai pengusaha.

Proyek "Mercusuar" ala hari ini, dari sinilah cerita berawal

Pemerintahan sekarang diawali dengan mimpi besar perbaikan infrastruktur, betul kita tertinggal jauh soal ini bahkan dengan negara-negara tetangga yang baru merdeka kemarin sore. Persoalannya, kita nggak punya uang, persis seperti proyek mercusuar zaman Soekarno yang berujung pada kosongnya kas negara. Lalu dari mana uangnya?

Pertama, pemerintah mencabut subsidi (baik listrik maupun bahan bakar), memang argumennya beralasan, karena yang menikmati banyaknya subsidi selama ini adalah golongan kelas atas, tapi penarikan subsidi juga uppercut telat untuk lapisan masyarakat bawah.(1)

Kedua, pemerintah menggencarkan penerimaan negara dari jalur pajak, termasuk salah satu jurusnya Pengampunan Pajak. Dan betul, penerimaan negara berhasil naik dari pajak (2), namun jika dikaji lebih dalam, kebijakan ini berpotensi pada pendapatan yang hilang akibat Pengampunan Pajak mencapai 30 persen dari penghasilan kena pajak yang seharusnya (3)

Langkah ini blunder, semestinya sistem perpajakan kita dikaji, SDM nya di-upgrade, dan jika dilakukan dengan benar, dalam jangka yang sedikit lebih panjang, perbaikan ini bisa kita rasakan manfaatnya, hasil penerimaan akan naik selaras dengan perbaikan yang dilakukan. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline