Lihat ke Halaman Asli

Arifin BeHa

TERVERIFIKASI

Wartawan senior tinggal di Surabaya

Amalan Ponpes "Bahrul Hidayah" dan Aksi Teror Bom

Diperbarui: 16 Mei 2018   10:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pengajian menyambut Ramadhan 1439 di Ponpes Bahrul Hidayah (Dok Khadafy)

Pondok Pesantren Bahrul Hidayah, Suko Legok Sukodono, Sidoarjo Ahad pagi (Minggu, 13/5/2018) diselenggarakan pengajian menyambut bulan Ramadhan 1439 H. Pukul 06.00 pagi KH. Abdul Aziz Munif, pengasuh pondok menyambut para tamu yang mulai berdatangan.

Ustadz Mukharam Khadafy, Direktur Biro Perjalanan Haji & Umrah Manaya Indonesia menyampaikan undangan sambil berpesan, acara pengajian itu dihadiri Habib Umar Bin Muhamad Assegaf Pengasuh Pondok Pesantren Anwarul Musthofa dari Pasuruan.

Sekitar 700-an undangan yang hadir, terbesar merupakan jamaah Ratibul Haddad dan Asmau'l Husna Bahrul Hidayah asuhan Kiai Aziz. "Kegiatan ini merupakan penutupan untuk sementara pengajian rutin tiap minggu pagi karena memasuki bulan Ramadhan," tutur Kiai Aziz ketika memberikan sambutan.

KH. Abdul Aziz Munif, setiap menyampaikan pesan sangat memikat. Berbalut suara "serak-serak basah" tutur katanya menjadi lebih berbobot. Saya menyukai cara dia berdiskusi. Menyenangkan. Dari seringnya menggunakan bahasa Jawa, mencerminkan dia sosok yang rendah hati.

Dalam berkomunikasi Kiai Aziz menggunakan pilihan kata yang tepat. Ada kalanya disisipkan cerita-cerita humor yang faktual, membuat lawan bicaranya mengulum senyum.  Di akhir pembicaraan atau diskusi beliau tak lupa menyampaikan pesan bermuatan dakwah.

Pria kelahiran 23 Desember 1967 ini suatu saat menyampaikan hadist, "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta doa anak yang sholeh". Pesan ini sudah sering melintas di telinga. Tetapi entah mengapa menjadi 'membekas' di kalbu ketika disampaikan oleh Kiai Aziz.

***

Di luar acara pengajian, hari Minggu pagi serangan bom secara tiba-tiba mengguncang Kota Surabaya. Di susul kemudian bom serupa juga meledak pada hari berikutnya. Puluhan nyawa menjadi korban. Pelaku teror membawa serta istri dan anak-anaknya, sehingga tragedi ini disebut sebagai "bom keluarga".

KH Abdul Aziz Munif (kiri, berdiri) dan jamaah ziarah Palestina di depan petilasan Nabi Sulaiman kawasan Al Aqsa (Dok Pribadi)

Tiga aksi teror dilakukan oleh tiga keluarga sekaligus melibatkan ibu dan anak.  Dalam serangkaian serangan bom peristiwa tersebut menunjukkan fenomena baru. Malah mungkin peristiwa pertama kali di dunia. 

Hampir semua komponen bangsa -termasuk saya, tidak habis pikir. Bagaimana mungkin orangtua tega mengorbankan anak-anaknya sendiri demi melancarkan aksi ideologi. Dibilang anak-anak karena usianya masih belasan tahun.

Apakah memang seperti itu arti radikal? Bagi sebagian orang mungkin saja jawabnya: ya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline