Lihat ke Halaman Asli

Awas! "TV" Mengancam Masa Depan Anda!

Diperbarui: 25 Juni 2015   19:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

“Maaf, saya sudah menggunting kabel TV anda”.

Itu adalah jawaban saya ketika tenaga marketing sebuah perusahaan TV berbayar menelpon. Ia menanyakan minat untuk berlangganan, usai panjang lebar menjelaskan program-program yang dapat kami konsumsi.

Dua tahun lalu, saya gunting kabel-kabelnya, lalu saya telepon kantornya untuk mengatakan berhenti berlangganan.

“Mengapa? Karena TV berbayar itu, bukan membuat kami produktif, tetapi malah seisi rumah menjadi pemalas. Program-programnya terlalu bagus untuk merusak ritme dan harmonisasi yang sudah kami bangun di rumah. Sepanjang hari kami menjadi lebih suka nonton TV.

Ternyata bukan hanya kami. Beberapa kawan mengeluh anaknya minta disuapi di depan TV. Minta dipakaikan kaos kakinya di depan TV, enggan berangkat ke sekolah hanya karena film kartun belum usai tayang, enggan berolah raga, cenderung tidak mau bergerak (lebih suka berteriak dan menjadi “Juragan Cilik”, jika menginginkan sesuatu), malas mandi di hari libur, malas makan, malas belajar, tidak santun terhadap pembantu (jika sudah nonton TV, anak-anak lebih suka menaikkan kaki di atas meja ketika pembantu sedang mengepel).

Program-program itu, telah membius kami agar memikirkan hal-hal yang tidak kami mengerti kegunaannya.

Akhirnya saya gunting kabelnya. Hmm…sadis? Mungkin!

Saya tak kan menulis ini, jika pegawai TV berbayar itu sendiri, tak punya kasus yang sama dengan kami. Kami berbincang ketika ia datang ke rumah melepas antena. Ia mengaku berniatberhenti berlangganan. Dua putra-putrinya, menjadi malas belajar dan cenderung menjadi “tukang menyuruh”. Lebih gemar “memerintah” dan nongkrong di depan TV.

Jika Rp 200 ribu/bulan untuk abonemen TV berbayar, maka harus ada alokasi anggaran sebesar Rp 2,4 juta/tahun untuk membeli produk “pengganggu tatanan” berkeluarga. Tidak sedikit kasus juga yang malah jarang menonton TV meskipun sudah berlangganan.

Masih soal TV.

Di Kompasiana, saya punya sahabat. Ia selalu dibuat stress oleh permasalahan-permasalahan yang didiskusikan oleh TV. Pikirannya jauh masuk ke dalam persoalan Negara. Waktunya habis untuk memikirkan soal Negara. Rasanya tak ada sisa energi untuk mengurus keperluan diri dan keluarganya. Ia memikirkan kisruh Negara, memperbandingkan dengan Negara lain, dan memikirkan dengan sangat mendalam, kiranya apa cara tepat menyelesaikan konflik-konflik Negara. Setiap saat, ia berfikir, menganalisis dan menulis. Ia “berselancar” dari satu TV ke TV lain. Untuk memastikan, bahwa tulisannya berbobot.

Walhasil, istrinya “sumpek” melihat wajahnya yang selalu digelisahkan oleh soal-soal yang diekspose TV-TV itu.

Perasaan, Tuhan (nanti) akan bertanya, “apa yang sudah engkau lakukan”, BUKAN “apa yang sudah engkau pikirkan selama hidup”

Billi P. S. Lim, lewat bukunya “Dare to Fail”, pernah menulis agar kita secara cerdas dapat memilah-milah, mana-mana yang memang urusan kita dan mana-mana yang BUKAN urusan kita.

Terlalu banyak waktu, energy dan pikiran manusia dihabiskan dengan sia-sia hanya untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya bukan urusannya.

Untuk memastikan bahwa sesuatu itu urusan kita atau bukan adalah menanyai diri:

“Seberapa signifikan kita bisa berkontribusi dalam memecahkannya, dan seberapa kapasitas kemampuan kita untuk dapat membantu memecahkannya?”

Jika kontribusi kita tak cukup bermakna dan jika kapasitas kita tak menjangkau, maka itu berarti bahwa persoalan tersebut bukan urusan kita. Hendaknya tidak kita habiskan waktu dan energi untuk ke sana. Untuk sekedar mengetahui, bolehlah. Namun kita pasti bisa mengukur kapan harus berhenti berfikir, sementara ada urusan lain di depan mata, yang harus kita tangani.

Dalam bukunya tersebut, Billi mengajarkan kejelian memilah antara hal-hal yang menjadi “urusan saya” dan halhal yang “bukan urusan saya”.

Ini adalah hal-hal yang menjadi urusan saya:

1.Siapa yang harus saya temui hari ini, terkait pekerjaan saya?

2.Apa yang saya lakukan hari ini untuk mendekati tujuan saya?

3.Bagaimana agar meningkat dalam karir saya?

4.melakukan satu hal yang bisa membuat saya menjadi orang yang lebih baik,

5.mengembangkan diri

6.kembangkan sendiri…

Inilah hal-hal yang BUKAN Urusan saya:

1.Krisis dunia

2.Penerbangan ke planet Mars

3.Skandal sex Presiden

4.Perkawinan dan Perceraian Selebritis

5.Pangeran dan kekasihnya,

6.Bank dirampok,

7.dll, kembangkan sendiri…”

Media, selalu berhasil membius kita. Mari berhitung berapa waktu yang kita habiskan untuk Media.

Rata-rata 4 jam/hari (1-2 jam pagi, 1-4 jam malam), media berhasil menyita perhatian kita untuk:

1.soal perang,

2.perpolitikan (apapun),

3.hukum,

4.korupsi,

5.iklan,

6.perceraian para selebritis,

7.pertikaian selebritis dengan keluarganya,

8.Nonton debat kusir, drama, sinetron, pertunjukan, live music, pentandingan, dll.

9.Nonton berita-berita “penting”

Jika sehari rata-rata 4 jam kita menonton TV, berarti kita menghabiskan 1440 jam/tahun. Jika sebulan setara dengan 720 jam, maka dalam setahun, 2 bulan waktu kita disedot oleh TV.

Dan inilah faktanya:

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline