Lihat ke Halaman Asli

Mbah Ukik

TERVERIFIKASI

Jajah desa milang kori.

Wanita dalam Kehidupan Masyarakat Suku Tengger (Another Women in Our Life)

Diperbarui: 23 September 2019   18:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Antara tradisi dan modern. Dokpri

Sekitar satu jam sebelum upacara tumpeng gedhe, yakni doa bersama yang dipimpin Tiyang Sepuh dan Mbah Dukun di pendapa balai desa, beberapa pengurus adat, pak lurah, dua mantan lurah berkumpul bersama menunggu kedatangan Bupati Malang.

Tak ada hujan bahkan gerimis pun tidak sekali pun mendung mulai menggelayut di langit Desa Ngadas, dua buah pertanyaan yang ditujukan pada saya terlontar dari antara mereka yang disambut dengan senyuman dan sedikit gelak tawa serta komen yang membuat saya kaget.

Pertanyaan pertama, "Mana...?" dan yang kedua "Kapan..." Jelas saya kaget karena pertanyaan 'mana' mengarah pada sosok seorang wanita. Entah siapa saja yang pernah kuajak bersepeda motor ria ke sekitar Bromo Tengger Semeru. Dan 'kapan' mengarah pada waktu untuk dikenalkan dan diresmikan, sebab selama ini mereka yang kuajak tak pernah kuampir di rumah bahkan kukenalkan pada keluarga. Selain menunjukkan foto, seperti kemarin begitu saya ditanya.

Pengurus adat. Dokpri

Pak Mulyadi dan Pak Kartono, keduanya mantan lurah Desa Ngadas.

Desa Ngadas yang merupakan salah satu desa kuno yang masih bertahan dengan mayoritas penganut Jawa Sanyata merupakan desa yang memegang teguh monogami. Perceraian boleh dikatakan tidak ada. Kecuali yang telah pindah keyakinan di luar agama budi. Poligami sama sekali tidak ada. Ini tentu saja sesuai dengan kisah kasih legenda masyarakat Suku Tengger tentang Rara Anteng dan Jaka Seger yang tak tergoyahkan sekali pun anak mereka, Raden Kusuma tertelan petaka Gunung Bromo.

Jadi pertanyaan di atas bukanlah sebuah dorongan atau dukungan, tentunya dalam hal ini pada saya, untuk berpoligami. Tapi sebuah sindiran yang suka mengantar turis kelas sandal japit alias backpacker. Entah wisnu maupun wisman. Apalagi teman.

Dokpri

Dokpri

Dokpri

Dokpri

Wanita dalam kehidupan masyarakat Suku Tengger
Sosok wanita bagi masyarakat Suku Tengger bukanlah sekedar pendamping tetapi hidup dalam keseteraan dengan kaum pria. Pembagian tugas sesuai dengan kodrat memang ada, namun bukanlan mengabaikan kesamaan hak atau gender.

Ketika menggemburkan ladang (di Ngadas tidak ada sawah) yang memerlukan tenaga yang lebih kuat, para pria lebih banyak berangkat sendiri dan membawa bekal dari rumah yang telah disiapkan pagi hari. Di Ngadas tidak ada warung makan. Sedang para wanita tetap di rumah untuk mengurus rumah. Maka jangan heran jika bertamu pagi atau siang hari tak akan dibukakan pintu atau dipersilakan masuk ke dalam rumah. Ini adalah kearifan lokal yang tetap terjaga hingga saat ini.

Pada saat perawatan dan pemupukan tanaman biasanya (dan sering) wanita ikut bekerja di ladang. Bila mempunyai balita akan diajak dan diasuh secara bergantian. Ikut merawat tanaman agar para wanita mengetahui dan merasakan betapa beratnya bekerja. Demikian juga saat akan panen, para wanita juga sering ikut untuk mengetahui perkiraan hasil yang bisa diperoleh. Tawar menawar dan kesepakatan harga dengan pedagang atau pengepul tentu dibicarakan mereka berdua terlebih dahulu.

Pirang Dokpri

Keluarga muda. Lihat cincinku cuma tiga. Dokpri

Perhiasan kekayaan wanita. Dokpri

Lihat si kecil.... Dokpri

Pembagian harta milik
Hasil panen merupakan milik bersama sebagai sebuah keluarga. Pemakaian pun untuk memenuhi sandang, pangan, dan papan serta beberapa keinginan demi kesejahteraan bersama. Suami sebagai kepala keluarga atau istri sebagai kepala rumah tangga bukan berarti lebih banyak mendapat bagian. 

Sering tampak jelas, para pria mempunyai kendaraan (motor atau mobil) bukan karena pria lebih banyak bagiannya. Motor merupakan sarana terpenting untuk trasportasi ke ladang perbukitan terjal. Atau motor dan mobil untuk ke kota, berbelanja perlengkapan rumah tangga dan pakaian bagi mereka. 

Memang tak ada larangan bagi wanita untuk mengendarai motor atau mobil, namun medan yang berat penuh tikungan tajam, turunan dan tanjakan terjal, serta hutan yang sepi masih merupakan ketidakpantasan bagi wanita menurut adat. Tentu ini tidak berlaku, bagi masyarakat Suku Tengger yang tinggal di kota.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline