Lihat ke Halaman Asli

anton

Mahasiswa S2 Kajian Sejarah FISIP UNNES, Guru SMA

Pahlawan Majapahit yang Diasingkan (Kisah Konflik Mahapatih Gajah Mada dengan Raja Hayam Wuruk)

Diperbarui: 30 Januari 2023   21:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber : https://img.okezone.com/content/2022/05/14/337/2594272/misteri-lokasi-perang-bubat-diduga-sebagai-pelabuhan-di-ibu-kota-kerajaan-majapahit-jq

Begitulah nasib yang harus dijalani oleh Maha Patih Gajah Mada (1290-1364 M), tokoh besar Kerajaan Majapahit yang berakhir tragis. Sebagaimana para pendahulunya Ranggalawe, Lembu Sora dan dan Nambi, GM berubah menjadi pesakitan di negeri sendiri yang ia besarkan. GM merupakan tokoh yang setia dan sangat mencintai negerinya.

Ketangkasannya sebagai prajurit mengantarkannya menjadi Bekel (pasukan elit kerajaan). Saat terjadi pemberontakan  Ra Kuti (salah satu anggota Dharmaputra bentukan Raden Wijaya), GM memimpin pasukan elit Bhayangkara untuk menyelamatkan Sang raja dari incaran pemberontak. Bersama pasukan kecilnya, GM berhasil mengungsikan Sri Jayanegara (Raja ke-2 Majapahit) beserta keluarga ke tempat yang aman (Desa Bedander Bojonegoro) hingga akhirnya mampu melumpuhkan gerakan pemberontak. Sri Jayanegara pun kembali bertahta di singgasana kerajaan Majapahit.

GM juga dianggap berjasa meringkus Ra Tanca seorang tabib yang telah membunuh Sri Jayanegara. Meski sebagian pendapat ahli sejarah mengatakan bahwa kematiaan Jayanegara sudah diatur oleh GM sedemikian rupa. 

Buktinya GM tetap dianggap sebagai pahlawan sang penyelamat kerajaan yang memurnikan garis keturunan Majapahit. Jayenegara dianggap bukanlah pewaris murni wangsa Rajasa karena ia memiliki darah campuran Melayu. Selain itu ia dianggap sebagai raja yang cacat moral dan lemah.

Selain itu GM juga memiliki jasa besar sebagai tokoh pemersatu Nusantara di bawah panji Majapahit. GM juga yang berhasil membongkar dalang dari semua konflik yang terjadi di Majapahit yakni Dyah Halayudha (Mahapati). Sepak terjang Halayudha yang mengadu domba anta relit Majapahit terbongkar di era GM.

Hayam Wuruk merupakan raja yang sangat menghormati GM sebagai tokoh besar Majapahit. Kedekatan itu memberikan keleluasaan bagi GM untuk merealisasikan cita-citanya yang sudah dideklarasikan sejak era Tribhuana Wijayatunggadewi. Cita-cita yang pada mulanya ditertawakan oleh kebanyakan elit Majapahit kala itu. GM berhasil melakukan ekspansi di berbagai wilayah dan mempersatukannya dalam satu teritori yakni Nusantara selama 21 tahun.

Meski wilayah kekuasaan Majapahit meliputi Nusantara, namun ada satu wilayah di sebelah Barat Majapahit masih berdiri sendiri yakni tanah Pasundan. Bagi GM ini adalah suatu hambatan untuk merelaisasikan sumpah  palapanya. Hingga era Hayam Wuruk, tanah Pasundan yang pada masa itu dalam kekuasaan Kerajaan Galuh masih berdiri kokoh.

Setidaknya ada beberapa alasan mengapa tanah Pasundan ini begitu dihormati sehingga Majapahit segan untuk melakukan penaklukan. Alasan pertama, asal muasal agama Hindu berasal dari Tarumanegara. Alasan kedua, tanah tersebut dianggap sebagai tanah para leluhur Majapahit. 

Raden Wijaya adalah putra dari Dyah Lembu Tal yang menikah dengan Raja Rakryan Jayadarma yang merupakan putra Prabu Guru Darmasiksa raja Kerajaan Sunda-Galuh  (memerintah tahun 1175-1297). Rakryan Jayadarma menjadi putra mahkota yang berkedudukan di Pakuan. Akan tetapi ia meninggal dunia karena diracun oleh musuh. 

Sepeninggal suaminya, Dyah Lembu Tal membawa Raden Wijaya pergi dari Pakuan. Keduanya kemudian menetap di Singasari, negeri kelahiran Dyah Lembu Tal. Oleh sebab itu Kerajaan Majapahit segan untuk melakukan penaklukan terhadap kerajaan Sunda. Meski begitu, kedua kerajaan ini tercatat memiliki hubungan yang baik.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline