Lihat ke Halaman Asli

Siska Dewi

TERVERIFIKASI

Count your blessings and be grateful

Hadiah Terindah dari Kompasiana

Diperbarui: 29 Oktober 2020   16:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tangyar Kompasiana 29 Oktober 2020 pk. 5.00 pagi (Dokpri)

Ini adalah hari ke-135 saya diterima menjadi anggota keluarga besar Kompasiana. Seminggu yang lalu, Kompasiana berulang tahun. "Khey" (meminjam sapaan unik dari sahabat Ayu Diahastuti) telah berusia 12 tahun. Menurut ilmu psikologi (sila baca referensinya di sini), sudah di akhir masa kanak-kanak, siap menjelma remaja dengan segudang mimpi-mimpinya.

Saya, di usia 4 bulan lebih 12 hari di sini, masih bayi. Maka, saat Kompasiana merayakan ulang tahun, saya merasa tidak ada kado yang pantas saya beri. Wong artikel saja baru 31 ... sangat tidak produktif, ya?

Tanggal 24 Oktober 2020 (saya suka mencatat tanggal bersejarah), sebuah komentar di artikel ini tidak lama setelah saya unggah, membuat jantung saya berdetak lebih cepat dari biasa. Serasa ada ribuan kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya di dalam perut saya.

Lebay? Entahlah! Tapi komentar dari orang yang istimewa itu betul-betul membuat saya merasa seperti sedang naik roller coaster!

Tangyar Kompasiana (dokpri)

Saat itu, terpikir ingin menulis sesuatu untuk mengungkapkan kebahagiaan itu. Pikiran yang segera saya buang jauh-jauh karena bisikan halus di hati saya. "Jangan berlebihan, deh! Orang becanda kok dianggap serius begitu? Ke"ge-er"an kamu!"

Entah mengapa, saya meyakini bisikan halus itu bukan kata hati saya yang sesungguhnya. Mendapat figur "ayah" dan "ibu" adalah sesuatu yang sangat membahagiakan, bukan?  Apalagi jika "ayah" dan "ibu" itu selalu setia menginspirasi dengan mutiara-mutiara berharga dari pengalaman hidup mereka!

Beberapa hari saya merasa menjadi seseorang yang sangat melankolis. Tetiba saya ingat potongan pembicaraan lain sekitar tiga setengah bulan yang lalu. Saat itu, usia saya di keluarga besar ini belum sebulan.

Pada suatu pagi, sebuah artikel beliau mengharu-birukan perasaan saya dan menggerakkan saya untuk menulis sebuah komentar dengan sepenuh hati, yang saya yakini dijawab dengan sepenuh hati juga.  

Tangyar Kompasiana (Dokpri)

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline