Mohon tunggu...
Siska Dewi
Siska Dewi Mohon Tunggu... Count your blessings and be grateful

Previously freelance writer https://ajournalofblessings.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kisah Kasih Para "Malaikat" Berjas Putih

24 Oktober 2020   05:00 Diperbarui: 24 Oktober 2020   08:40 836 70 22 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisah Kasih Para "Malaikat" Berjas Putih
Ilustrasi dokter, sang malaikat berjas putih| Sumber: ipopba via Kompas.com

Seorang teman pernah berkeluh kesah tentang pelayanan RS yang menurutnya bak “tragedi kemanusiaan”. Ketika saya gali lebih dalam, meluaplah rentetan kata penuh emosi tentang biaya perawatan yang mahal serta banyaknya pemeriksaan yang tidak relevan, saat anaknya dirawat inap.

“Kalau anak saya sakit bukan di tengah pandemi, sudah saya bawa ke luar negeri.” ujarnya, membuat lidah saya kelu. Mengapa orang Indonesia terkesan senang berobat ke luar negeri?

Dilansir dari Kompas.com, ada dua alasan utama orang Indonesia berobat ke luar negeri. Pertama, kepastian diagnosis yang diartikan sebagai kepastian sembuh. Kedua, kurangnya SDM.

Jumlah dokter spesialis di Indonesia terendah di Asia Tenggara, hanya ada lima dokter spesialis untuk 1.000 orang. (Fathema D.R, Dirut Holding RS BUMN via Kompas.com)

Kenyataan di atas membuat saya tercengang. Beberapa wajah berkelebat dalam benak saya. Wajah para “malaikat” berjas putih yang Tuhan izinkan melintas di jalan peziarahan saya di dunia. Sungguh, suatu anugerah yang luar biasa, mengingat keberadaan mereka demikian langka.

Saya pernah berkisah tentang dokter obgin yang dipakai Tuhan untuk menyelamatkan putri bungsu saya, sejak hari pertama dia dilahirkan. Silakan klik di sini untuk membaca. Kali ini, saya ingin bercerita tentang beberapa “malaikat” lain yang telah menjadi berkat bagi saya.

Pendar Cahaya di Momen Kelam

Dokter Teddy namanya. Beliau hadir sekilas dalam perjalanan kami pada awal November 2015. Saat itu, beliau masih menjabat CEO sebuah RS swasta di Jakarta Utara.

Suatu hari, saya dikagetkan kabar dari Edfren, sepupu saya. Sudah seminggu lebih adik Edfren dirawat pasca stroke dan dalam keadaan koma. Tak ada penjelasan memuaskan dari tim dokter, sementara keluarga merasa kondisi pasien kian hari kian buruk. 

Majikan saya memperkenalkan Edfren kepada dokter Teddy. Saat adik sepupu saya dipindahkan ke rumah sakit tempatnya bertugas, beliau menanggalkan posisi sebagai orang tertinggi. Beliau turun tangan langsung menolong Edfren sejak ambulans tiba di UGD.

Meskipun akhirnya Edfren dan keluarga harus merelakan adiknya menghadap Yang Kuasa, namun edukasi dan empati tulus dokter Teddy beserta tim, telah membuka hati Edfren dan keluarga besarnya, sehingga mereka dapat menerima kenyataan dengan tabah.

Dokter Teddy kembali hadir dalam hidup saya pada akhir Mei 2017, saat ibu saya menderita sakit kanker serviks yang menyebar ke usus. Waktu itu, ibu saya tidak bisa makan dan minum. Beliau memuntahkan apa pun yang dimakan dan diminumnya.

Setelah seminggu dirawat inap dan menjalani aneka pemeriksaan tanpa kejelasan diagnosis, Ibu saya bertengkar dengan internis yang merawatnya dan bersikeras minta pulang.

Tanggal 30 Mei 2017, saya berhasil membujuk suster jaga untuk memberikan seluruh hasil pemeriksaan ibu. Sore itu, dengan membawa seluruh dokumen tersebut, saya bertemu dokter Teddy. Itulah pertemuan kami yang pertama.

Dokter Teddy mendampingi saya berkonsultasi dengan dokter Riki, seorang sub-spesialis gastroentero-hepatologi. Dokter Riki menjelaskan tentang posisi benjolan yang memblokade jalan makanan menuju usus. Satu-satunya cara menolong ibu saya adalah operasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN