Lihat ke Halaman Asli

Bertandang ke Gunung Bromo

Diperbarui: 17 Juni 2015   18:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

14156332471629043534

Mengunjungi suatu tempat bisa jadi merupakan sebuah impian banyak orang, tak terkecuali bagi saya yang sempat berjanji untuk menyambangi Gunung Bromo. Pesonanya yang begitu magis mendorong saya untuk menginjakkan kaki di gunung dengan ketinggian 2.329 m tersebut. Meskipun letaknya tak terlalu jauh dari Yogyakarta, kampong halaman saya, liburan ke Bromo tetap harus direncanakan dengan baik, terutama terkait urusan waktu. Satu lagi, perlu momen khusus untuk memperkuat alasan kunjungan saya ke gunung yang terletak di Jawa Timur tersebut. Tentu, liburan akan terasa lebih berkesan bila pergi bersama dengan teman. Kebetulan, di bulan Desember 2011, seorang sahabat dari Perancis yang bernama Marc memberitahu saya bahwa dia ingin berkunjung ke Indonesia. Tanpa berpikir panjang, Bromo saya rekomendasikan sebagai salah satu tempat yang wajib ia kunjungi di negeri ini. Berhubung saya juga belum pernah ke sana, saya pun ikut serta dalam petualangan menyusuri alam Bromo bersama Marc.

[caption id="attachment_334519" align="aligncenter" width="448" caption="Berpose di depan Gunung Bromo."][/caption]

Cuaca tengah tak bersahabat saat kami memasuki kawasan Bromo dengan sebuah minibus yang berjalan pelan. Jalanan basah diguyur hujan deras. Angin berhembus kencang, menghamburkan udara dingin. Kami yang baru tiba di Bromo langung menggigil kedinginan meskipun sudah memakai baju berlapis. Beruntung, minibus yang kami tumpangi mau berhenti persis di depan penginapan di Area Cemara Sewu yang telah kami pesan. Sejurus kemudian, para pedagang yang menjajakan penutup kepala, syal, dan kaos tangan mengerumuni kami. Saya membeli kaos tangan dan penutup kepala dari salah satu pedagang. Tak ada basa-basi menawar harga karena yang terpikir hanya bergegas masuk kamar untuk ‘menyelamatkan diri’ dari sergapan hawa dingin.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 2 malam, meskipun badan letih tetapi kami tidak bisa langsung beristirahat. Badan yang lengket karena keringat setelah terjebak dalam kemacetan selama 20 jam, minta untuk segera dibersihkan. Maka secara bergantian, saya dan Marc, memberanikan diri mengguyur badan di tengah udara dingin. Naasnya, keran air di dalam kamar mandi yang seharusnya mengalirkan air hangat tidak berfungsi dengan baik. Sambil menggigil kedinginan, kami harus rela menunggu selama 15 menit untuk mendapatkan aliran air hangat.

[caption id="attachment_334522" align="alignleft" width="300" caption="Kami menumpang Jeep ini"]

14156334441029545941

[/caption]

“Tok, tok, tok” suara ketukan orang pada pintu kamar sontak membangunkan kami dari tidur yang tak seberapa lama. Rupanya jarum jam telah bergeser ke angka 4. Dan sesuai janji, panitia tur ‘sunrise’akan membawa kami ke Pananjakan, titik paling popular untuk menyaksikan detik-detik terbitnya sang mentari di atas Gunung Bromo. Untuk menuju Pananjakan, jalan berliku harus kami lalui dengan menggunakan sebuah mobil jeep. Mesin mobil menderu saat jalan mulai menanjak. Sesekali mobil yang kami tumpangi harus berhenti mendadak di tengah tanjakan terjal untuk menunggu antrian lewat. Tapi untungnya, mobil kami selalu lulus melewati medan sesulit apapun. Semua berkat kepiawaian sopir kami yang sudah teruji.

Di Pananjakan, ratusan orang telah mengambil tempat masing-masing untuk menyaksikan matahari terbit.Tampak orang-orang asing dalam berbagai rupa dan bahasa memadati wilayah itu. Sembari menunggu terbitnya sang fajar, ada yang asyik tenggelam dalam obrolan dengan teman-temannya. Namun, ada pula yang memilih diam untuk menikmati heningnya pagi. Saya dan Marc sibuk berebut tempat karena rupanya kami datang terlambat. Berselang satu jam lamanya, kami harus menelan kekecewaan. Matahari yang kami tunggu-tunggu tidak mucul sebab terhalang oleh mendung yang menggantung di langit Bromo sedari tengah malam. Seberkas sinar surya tak nampak sedikit pun.

[caption id="attachment_334525" align="alignright" width="300" caption="Kabut perlahan menutupi lautan pasir dan bukit."]

14156336441438677568

[/caption]

Akhirnya, saya dan Marc memilih duduk di sebuah warung sederhana yang dikelola oleh penduduk setempat.Secangkir kopi panaskami nikmati di atas bangku kayu sederhana, bersama dengan tempe goreng tepung dan tahu isi yang baru saja diangkat dari wajan. Sungguh merupakan perpaduan sempurna dalam mengiringi obrolan kami yang riuh membahas gambaran magis jika saja matahari Bromo dapat terbit dengan sempurna pagi itu. Tak sulit memang mendapatkan imaji itu karena sebelum memulai perjalanan ke Bromo, video matahari terbit di atas Bromo telah kami tonton di dunia maya berulang kali. Sebagai pembanding, Marc kisahkan pula pengalaman tak terlupakannya tatkala menyaksikan sang surya terbit di atas puncak Gunung Fuji di Jepang.

Hari yang mulai terang membuka tabir keindahan alam Bromo. Saya baru tersadar bila tempat kami berkumpul ternyata dibentengi oleh bukit-bukit hijau yang saling berjalinan tak terputus. Vegetasi khas pegunungan, seperti pinus, cemara, dan semak belukar tumbuh berselang-seling mengisi setiap sudut bukit. Kekecewaan kami karena gagal melihat matahari terbit mulai terobati ketika menyaksikan kabut tebal berwarna putih datang dengan tiba-tiba, kemudian menyelimutisecara perlahan lautan pasir yang terhampar luas di bawah tempat kami berdiri. Rasanya, kami terlempar jutaan tahun silam ke jaman Plestosin saat seisi bumi membeku. Meskipun kami datang berkunjung ke Bromo pada waktu yang tidak tepat-saat musim hujan, tenyata alam tampil memikat dengan keajaibannya sendiri. Tak lupa fenomena alam yang menakjubkan ini, kami abadikan dalam sebuah foto.

Suara klakson mobil Jeep memanggil kami untuk bergegas meninggalkan Pananjakan. Tujuan berikutnya adalah lautan pasir yang membentang luas di dasar gunung. Di atasnya, berdiri lima buah gunung yang terbentuk dari aktivitas vulkanis yang berlangsung selama puluhan ribu tahun. Dua gunung, yaitu Gunung Bromo dan Gunung Batok menjadi ikon dari kawasan yang dulunya merupakan bekas gunung berapi raksasa bernama Tengger yang meletus sekitar 250.000 tahun yang lalu. Kami diturunkan di depan pagar kawat yang menjadi pembatas area jelajah mobil. Artinya, kami harus berjalan kaki untuk menuju puncak Bromo atau kalau tidak mau capek, bisa menunggang kuda yang dipandu oleh penduduk setempat dengan harga sewa sebesar Rp100.000 per ekor. Tetapi saya dan Marc bersepakat untuk mendaki Gunung Bromo dengan berjalan kaki saja. Alasannya, kami hanya inginmengenal alam Bromo dengan lebih dekat.

[caption id="attachment_334527" align="aligncenter" width="448" caption="Pura Luhur Poten yang magis."]

1415633833590118446

[/caption]

Sebelum memasuki kaki Gunung Bromo, aura mistis sudah tercium dengan berdirinya sebuah pura di tengah-tengah lautan pasir. Pura ini bernama Luhur Poten.Bentuk pura tak jauh beda dengan pura-pura yang ada di Bali dengan gerbang berupa gapura bentar dan atap model tumpuk pada bangunan utama pura. Namun di sini, bagian yang terasa unik adalah totem khas Hindu Tengger yang menjulang setinggi 6 meter. Figur-figur makhluk hidup dengan sosok Dewa Wisnu yang sedang menunggang garuda terpahat indah pada tugu ini.

[caption id="attachment_334528" align="alignleft" width="300" caption="Totem Pura Luhur Poten."]

14156339161853167911

[/caption]

Matahari telah menampakkan diri ketika kami sampai di kaki Gunung Bromo. Hangatnya sinar mentari memberi energi bagi kami untuk mendaki lereng gunung itu. Sebenarnya tak sulit menuju puncak Gunung Bromo karena pengunjung telah disediakan undakan beton. Di sini, yang dibutuhkan adalah stamina yang prima di mana pengunjung harus menapaki satu per satu anak tangga yang terjal. Undakan-undakan ini telah rusak sebagian, terkoyak ganasnya letusan Bromo yang berlangsung antara November 2010 hingga Maret 2011 lalu. Besi yang menjadi rangka undakan beton ini banyak yang mencuat keluar. Sehingga, saya perlu berhati-hati dalam melangkah agar tidak tertusuk tajamnya besi. Terlebih lagi saya harus berdesakan dengan pengunjung lain, baik yang bersama-sama naik ke puncak atauyang sedang turun.

Marc sepakat dengan saya bila Bromo adalah gunung berapi yang tiada duanya di dunia ini. Kontur tebing gunung ini diliputi pola guratan-guratan yang dibentuk oleh aliran lahar yang berlangsung selama ribuan tahun. Saya menikmati butiran-butiran pasir yang menyelinap masuk ke telapak kaki melalui sela-sela sandal gunung yang saya kenakan. Sejenak, saya merasa terjebak di sebuah gurun pasir. Tetapi hawa dingin yang menerpa badan kembali mengingatkan kalau saya sedang berada di daerah pegunungan, bukan di sebuah gurun pasir. Jauh dari pandangan mata, tetumbuhan semak khas dataran tinggi tumbuh terserak di beberapa bagian, memberi aksen hijau diantara dominasi warna abu-abu pasir Bromo.

[caption id="attachment_334530" align="alignright" width="300" caption="Tebing Gunung Bromo berpola guratan."]

14156341361040301356

[/caption]

Kini kami telah sampai di puncak Gunung Bromo. Mengikuti rasa penasaran, mata saya langsung tertuju pada kawah gunung. Kawah ini tersembunyi pada sebuah ceruk dalam dengan kemiringan dinding yang hampir 90 derajat. Pada saat berlangsungnya upacara Kasada, kawah ini merupakan arena persembahan syukur kepada Gunung Bromo yang mengkaruniakan kesuburan melalui abu vulkanik yang disemburkannya. Sesajen berupa ayam dan kambing dilemparkan ke dalam kawah tersebut oleh para pemeluk Hindu Tengger sambil berharap akan ahasil panen yang melimpah pada masa mendatang. Marc mengajak saya untuk meniti bibir kawah yang sempit. Sebagai orang yang takut ketinggian, saya tampik ajakannya. Saya memilih duduk sambil menikmati panorama kaldera Gunung Bromo. Sedangkan Marc asyik sendiri dengan penjelajahannya di pinggir kawah.



14156344131828705820



Bibir kawah yang sempit.

[caption id="attachment_334540" align="alignleft" width="300" caption="Berpose di bibir kawah Gunung Bromo."]

14156353801920408816

[/caption]

Puas berada di puncak Gunung Bromo, penjelajahan dilanjutkan di lautan pasir. Pernah digunakan sebagai tempat syuting film Pasir Berbisik, lautan pasir itu pun juga dikenal dengan nama yang sama. Perjalanan menyusuri lautan pasir terasa lama karena kami tidak mengetahui secara pasti berapa jarak ke tempat tujuan, Bukit Teletubbies. Nama Bukit Teletubbies diberikan oleh warga lokal kepada bukit itu lantaran bentuknya yang mirip dengan bukit-bukit buatan yang ada dalam serial anak yang diproduksi oleh sebuah stasiun TV asal Inggris, yaitu Teletubbies. Hamparan rumput nan menghijau yang menutupi setiap jengkal bukit beserta lembahnya memunculkan imajinasi tersendiri. Saya ingin berlari dan bergulung-gulung di atas ‘permadani alam’ tersebut layaknya sebuah adegan dalam film The Sound of Music.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline