Lihat ke Halaman Asli

Tamu Tengah Malam

Diperbarui: 12 Maret 2016   02:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="sumber : id-aliexpress-com"][/caption]

Siang itu begitu terik terasa, pancaran mentari seakan ingin memanggang permukaan bumi. Begitupun di sebuah dusun di kaki gunung ciremai yang masih hijau dengan pepohonan tetapi rasa panas tetap menyeruak. Seorang pria paruh baya berjalan perlahan menuju salah satu rumah di dusun tersebut dengan menenteng bingkisan yang cukup besar. Peluh mengalir menjadi ciri bahwa selain udara memang panas juga bingkisan yang dibawa terlihat cukup berat.

Pria itu mengetuk pintu, berbicara sebentar dengan empunya rumah. Hanya 10 menit mereka bercakap-cakap, terlihat pria paruh baya itu meninggalkan rumah duaa tingkat bercat hijau yang terlihat asri tersebut dengan tersenyum simpun dan raut muka yang senang. Kedua tangannya telah bebas dari beban buah tangan yang tadi dia pegang dan dipertahankan, terlihat berjalan cepat tetapi riang gembira.

“Tumben mas, rekan mas begitu baik ngasih oleh-oleh setelah dinas ke luar kota?” Bu Yani bertanya kepada suaminya yang sedang asyik membolak balik patung kepala domba tersebut dengan teliti. “Mas Domi pulang dari kampungnya dan memberikan oleh-oleh ukiran ini buat kita, bagus khan?” Bu Yani menganguk sambil mengagumi halusnya kayu jati yang disulap menjadi bentuk kepala domba yang hampir mirip dengan aslinya. Sementara tanduknya adalah tanduk asli domba yang dipasang di kayu tersebut. Hanya bu Yani sedikit terkesiap karena melihat di ujung sambungan tanduk patung kepala domba itu seperti ada cairan darah yang masih segar. Tapi bu Yani tidak ambil pusing karena itu khan urusan suaminya. Bu yani bergegas kembali ke dapur untuk menuntaskan hidangan yang akan tersaji untuk dinikmati bersama keluarga.

Ardian anak semata wayang kedua pasangan muda tersebut, memperhatikan dari kamarnya dan sudah penasaran untuk melihat lebih dekat. Maka bergegaslah mendekat sang ayah di ruang tengah, “Wah bagusnya yach, boleh pegang?,” “Silahkan de, tapi hati-hati agar tidak cepat rusak” Pa  Darman menjawab. Keduanya mengagumi patung kepala domba yang seperti aslinya, lekukan dan ukirannya begitu pas sehingga patung kayu itu seperti kepala domba yang sebenarnya. Apalagi ditunjang tanduk domba asli yang bertengger kokoh diatas kepalanya. Ardian penasaran dengan tanduk asli yang begitu gagah tersebut, mencoba meraba sambungan tanduk dengan kayu tersebut dan terasa ada cairan yang menempel di jari telunjuknya. Reflek dilihat ternyata setitk cairan merah menempel di ujung jari telunjuknya, perlahan dicium baunya terasa amis. Ardian terdiam dan segera pergi ke belakang rumah untuk mencuci tangannya.

Pa Husni begitu senang dengan kiriman patung tersebut, setelah mencari ruang yang tepat maka patung kepala domba tersebut dipajang tepat di tembok tengah rumah. Setelah itu semua terlarut dengan kesibukan masing-masing hingga senja mejelang. Menggantikan sang mentari yang sudah bertugas menyinari bumi, bergiliran dengan bulan yang pantulannnya bisa menghibur malam menjadi lebih bermakna.

Seiring waktu yang terus bergerak, pasangan muda tersebut melewati waktu magrib dan isya di mushola mungil mereka dilanjutkan makan malam yang sangat nikmat dengan masakan spesial bu Yani. Ardianpun begitu lahap menikmati sayur asem dengan ikan asin kering plus kerupuk bulat tidak lupa perkedel jagung dan sambal terasi memperkokoh cita rasa malam itu. Tak sengaja Ardian melirik patung kepala domba yang bertengger di ruang tengah, terasa ada sesuatu yang menyeruak di benak, perasaan yang tidak biasa.

Menjelang tengah malam, pa husni dan bu yani sudah terlelap di peraduan begitupun Ardian yang tidur sendiri terpisah  di kamar depan. Tetapi tiba-tiba Ardian terbangun karena mendengar suara seseorang yang bertamu di halaman depan, “Punteeen... puntenn” terdengar suara tersebut di depan pintu rumahnya. Ardian penasaran, setelah bangun dari pembaringan, dengan berjingkat bergerak perlahan membuka pintu kamar dan menuju ruang tamu. Setelah mendekati jendela depan semakin jelas suara seseorang yang akan bertamu, “Puntennn... punteeen, punteeen!!”

Ardian perlahan mengintip dari ujung jendela siapa gerangan yang ada diluar sana. Terlihat sesosok tubuh yang bertelanjang dada di halaman luar sedang mencoba membuka pintu pagar. Yang menjadi ganjil adalah sosok tersebut dari kaki hingga leher normal tetapi tidak ada kepalanya. Darah Ardian berdesir, mahluk apa yang ada di halaman depan rumahnya?.... disisi lain terasa ada dorongan kuat untuk membuka pintu depan dan melihat mahluk tersebut lebih dekat. Tiba-tiba mahluk tersebut dengan mudah meloncati pagar yang terkunci dan mendarat hanya sekitar 2 meter di depan pintu depan. Ardian hampir berteriak karena ngeri melihat pemandangan didepannya, sesosok tubuh tanpa kepala dan terlihat dari lehernya masih menetes cairan merah, darah segar. “Puntheen... phuntheennnhh..!” terdengar suara dari rongga leher yang menganga.

Disaat teriakan hampir keluar dari kerongkongan, sebuah tangan yang kekar menutup mulut Ardian sambil terdengar suara lembut sang ayah yang telah berada di belakang tubuhnya. “Jangan berteriak de, sudah masuk kamar dan kembali tidur. Biar ini urusan ayah,” Pa Husni berucap lembut namun tegas. Ardian yang pucat pasi beringsut perlahan menuju kamar depan. Naik ke ranjang dan menarik selimut untuk melindungi tubuhnya yang masih menggigil ketakutan. Tapi rasa penasaran mengalahkan pengalaman menakutkan itu, Ardian coba mendengarkan apa yang terjadi di halaman depan. Terdengar percakapan ayahnya dengan mahluk tersebut tetapi tidak jelas, hanya samar-samar terdengar. Ardian penasaran dan turun lagi dari ranjang menuju ruang depan, dengan perlahan.

Perlahan mengintip dari pintu, terlihat ayahnya menuju ruang tengah dan menurunkan patung kepala domba yang baru dipasang tadi siang. Lalu membawanya ke lantai dua rumah mereka. Ardian penasaran, perlahan-lahan mengikuti langkah ayahnya menuju lantai atas. Ayahnya di lantai atas mengambil tangga dan menaikinya sambil menenteng patung kepala domba tersebut. Membuka plafon dan menaikinya menuju atap rumah. Setelah itu terlihat pa Husni menuruni tangga, Ardian segera kembali ke kamarnya, karena jika kepergok ayahnya bisa berabe dan takut kena marah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline