Lihat ke Halaman Asli

amin yeremia siahaan

penyuka buka fiksi dan sejarah...

Ikut Nimbrung soal Tilik

Diperbarui: 24 Agustus 2020   23:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Film. Sumber ilustrasi: PEXELS/Martin Lopez

Dulu waktu ikut kelas fiksi bersama Leila S. Chudori, dia bilang kira-kira begini, "Tulisan yang bagus itu yang bisa kasih kejutan, di awal atau akhir". Misalnya, novel Kafka tentang Metamorfosa yang memberi kejutan di awal cerita di mana si tokoh sentral, Samsa, berubah menjadi kecoa ketika terbangun dari tidurnya.

Hal serupa, menurut saya, bisa diterapkan pada sebuah karya film, dan itu saya lihat dari film dokumenter berjudul Tilik besutan Wahyu Agung Prasetyo , yang berhasil menarik animo luar biasa dari masyarakat, baik yang pro maupun kontra.

Lalu, apa kejutannya? Yaitu Dian yang ternyata menyukai mantan suami dari Bu Lurah, yang juga ayah dari Fikri, yang tidak tahan lagi menyembunyikan kisah percintaan mereka. Ending yang, sekali lagi bagi saya, tidak terduga sama sekali.

Saya bukan kritikus film, dan tidak mengerti untuk meresensi film, tetapi saya meyakini film yang tidak "selesai" adalah film yang berhasil memikat penontonnya. Demikianlah Tilik, film dokumenter berdurasi 32 menit lebih sedikit ini bisa memancing diskursus setelah menontonnya.

Pertama, ada yang menyebutkan film ini memperkuat gender stereotipe: bahwa perempuan muda yang belum menikah, kerjaannya suka ke mall dan hotel, jalan sama laki-laki lebih tua, baru kerja tetapi punya uang banyak dan bisa beli barang ini-itu, maka dicap perempuan tidak benar, penggoda, perusak rumah tangga. Apakah demikian?

Bisa ya, bisa tidak. Saya sendiri melihat film ini ingin menyampaikan bahaya laten dari mandeknya berpikir kritis. Bu Tejo adalah representasi dari orang-orang yang mengandalkan informasi dari media sosial dan gosip sebagai sumber kebenaran tanpa mau mencek, atau bahkan mengkritisinya.

Kegigihan Bu Tejo adalah cermin dari kita, baik di desa maupun di kota, yang malas membaca dan berpikir. Muaranya adalah sikap pragmatis dan antidialog, bahasa kerennya sekarang, nggak mau tabbayun.

Lebih jauh, karakter Bu Tejo adalah pesan tersembunyi kepada negara yang membiarkan kondisi seperti ini. Coba searching di Om Google berapa banyak kasus persekusi yang dialami agama lokal atau keyakinan tertentu.

Bukankah kasus ini dapat dicegah kalau negara berperan aktif memediasi dengan mengutamakan dialog, bukannya malah membiarkan kelompok intoleran merasa jemawa. Pengutamaan dialog, bagi saya, adalah bagian dari kedaulatan hukum yang dapat mencegah orang/kelompok main hakim sendiri.

Kedua, saya kurang yakin kalo film ini untuk meneguhkan gender stereotipe. Kenapa? Bukankah gender stereotipe juga berkelindan dengan patriarki dan relasi kuasa, dan dengan demikian maka seharusnya tokoh Bu Lurah diganti dengan Pak Lurah. Namun, nyatanya tidak demikian, Bu Tejo dkk dipimpin oleh seorang perempuan.

Usaha Bu Tejo untuk mengganti Bu Lurah dengan suaminya juga bukan berdasarkan kegagalan Bu Lurah dalam memimpin, tetapi karena alasan sakit-sakitan dan single parent. Tersirat kepemimpinan (prestasi) Bu Lurah diterima warga.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline