Lihat ke Halaman Asli

Alya Sekar Kinasih

rumput tetangga lebih hijau

Long Distance Relationship, Can We Have a Happy Ending?

Diperbarui: 24 Desember 2021   12:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Long Distance Relationship (pexels.com/rodnaeproduction)

Kamu pasti sudah tidak asing dengan istilah long distance relationship (LDR). Ya, belakangan ini memang semakin banyak pasangan yang menjalani LDR sebagai akibat dari tuntutan hidup yang bertambah kompleks. 

Walaupun banyak pasangan memilih untuk menjalani LDR daripada memutuskan hubungan, tetapi prosesnya tentu tidak mudah karena terdapat beberapa hal negatif pada individu yang dapat mempengaruhi stabilitas hubungan jarak jauh, yaitu (1) emosi negatif seperti depresi dan kecemasan, (2) pesimisme disposisional tentang masa depan, dan (3) kepercayaan diri yang rendah. 

Hubungan jarak jauh juga dianggap sulit untuk dipertahankan karena kurang memuaskannya kualitas dari hubungan dan kurangnya dukungan sosial karena kendala kepentingan, jarak, ataupun waktu. Oleh karena itu, tak jarang kita mendengar cerita 'putus' dari orang-orang yang menjalani LDR.

Banyaknya potensi  konflik dan masalah dalam LDR pasti membuat kamu cemas dan berpikir "Apakah hubungan saya dan pasangan bisa berakhir bahagia?"

Tenang saja, kamu tetap bisa memiliki hubungan yang bahagia, meskipun kamu dan pasangan terpisah jarak dan waktu. Sebenarnya, kunci utama dari long distance relationship terletak pada komunikasi serta tekad antara kamu dan pasangan. 

Nah, berikut ini ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan saaat menjalani long distance relationship, simak baik-baik, ya!

1. Komunikasi dan Intensitas Komunikasi 

Komunikasi memiliki peran yang sangat penting untuk memberikan pemahanan tentang makna hubungan asmara yang tidak terbatas pada kedekatan fisik, tetapi lebih dalam secara emosional. Komunikasi membantu kamu dan pasangan tetap 'bersama'tanpa memandang adanya jarak. 

Intensitas komunikasi juga penting dalam hubungan jarak jauh. Kamu tidak dapat sering bertemu dengan pasanganmu, maka dari itu kamu harus menanamkan, bahwa komunikasi merupakan cara kalian mengganti pertemuan itu. Berbincang melalui panggilan atau panggilan video yang rutin dapat mempererat kedekatan pasangan secara emosional. Pasangan yang punya intensitas dan iklim komunikasi yang baik memiliki banyak peluang untuk bertahan dalam hubungan jarak jauh. Sebaliknya, pasangan yang jarang berkomunikasi dalam hubungan jarak jauh dapat memunculkan prasangka buruk terhadap pasangannya dan memperbesar kemungkinan berpisah. 

Komunikasi adalah kunci dalam hubungan, tanpa komunikasi hubungan akan mati. Komunikasi harus diiringi dengan kemauan untuk mendengar pasanganmu, minimal sebanyak kamu ingin didengarkan. Dengan begitu, komunikasi dapat terjadi dengan efektif. 

The biggest communication problem is we do not listen to understand, but we listen to reply -Stephen R Covey

In many  ways, effective communication begins with mutual respect, communication that inspires, encourages others to do their best -Zig Ziglar

2. Emotional Intelegence

Emotional intelegence atau kecerdasan emosional berkaitan dengan kemampuan menilai, memahami, serta mengkomunikasikan perasaan dengan efektif. Kecerdasan emosional turut menentukan keberhasilan long distance relationship. 

Bagaimana kamu dan pasangan  saling memahami serta mengkomunikasikan perasaan satu sama lain dapat menjaga keharmonisan dan keintiman hubungan. 

Kecerdasan emosional termasuk pada bagaimana cara kamu merespon pasanganmu saat berkomunikasi. Anggaplah pasanganmu berkata "aku sangat lelah dan hari ini aku dimarahi boss karena laporanku salah", maka respon yang harus kamu berikan adalah mem-validasi perasaan pasanganmu dan membuatnya merasa lebih baik. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline