Lihat ke Halaman Asli

Sayyid Jumianto

Menjadi orang biasa yang menulis

Buku Biru 36, [Tantangan Menulis Novel 100 hari]

Diperbarui: 18 April 2016   21:39

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="alsayidja.paint"][/caption]

 

 

Cerita yang kemarin:

http://fiksiana.kompasiana.com/alsayidjumianto/buku-biru-35-tantangan-menulis-novel-100-hari_571382d3d17a612805e1498f

Hari yang penuh tanya

Jogja menjadikanku bertemu denganya dan tidak tahu mengapa sang pangeran ini sempat singgah di hatiku dalam banget, dan kadang  aku jadi sedikit jelous ketika dikerubuti cewek-cewek di kampus dan semua seakan sudah menjadi takdirNya, aku  dan mas sayyid ketemu di kampus walau waktu tidak memihak kami.

Kadang hidup harus memilih dan kadang pilihan hatilah yang dianggpa paling benar tetapi ujungnya tetap kecewa dan apalah arti bila hanya menurut kata hati  bila kedepanya kita harus patah hati, kadang pikiran dan ego mengalahkan rasa dan perasaan hati terdalam kita, dan kita lupa, benar pengalaman ini membuatku menjadikan dewasa dan aku bersyukur atas pengalaman hati ini, aku kuliah sore dan yang membuat aku  takut adalah mengalahkan rasa malas dan kantuk disor ini, apalgi aku hari ini mengikuti kuliah perdana kata kakak kelas dosennya agak “killer “ begitu dan dan selalu  banyak tugas!

“setiap orang punya cita-cita, mengapa anda memilih menjadi guru?” tanyapak dosen muda kala itu pak Sigit Handoko

“mari kita  diskusikan apda sesi kuliah saya ini yang saya tanyakan pada  anda sekalian dan inia da kertas anda sekalian menulislah impian anda kuliah disini, yang terbaik nanti saya suruh maju ke depan mewakili yang ada” penuh wibawa dan semua terdiam karena bapak ini adlah juga dekan bidang kemahasiswaan dan pengurus yayasan juga, suasan hening ketika kertas mulai di bagikan dikelas ini, dan tiba-tiba ada seornag mahasiswa yang masuk dalam kelas kami dan aku tahu dia mas Sayyid dan  seakan jantung ini berdegup  keras karena bangku yang ada sudah penuh dan tinggal yang dideapan aku yang masih kosong, kaok ikut  semester ini aku jadi bertanya-tanya dan jawabannya ada  pada pak Sigit ini juga

“inilah teman-teman, dia aktivis kampus sayang kuliah keteteran dan ikut semester satu ini, pad amata kuliah saya, saya tekankan boleh aktif di kampus tetapi jangan lupa 75 % keahadiran, di absen harus ada, terserah kalian” kata pak Dosen lagi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline