Lihat ke Halaman Asli

Mengeja Ulang Mimpi Anies di Pilkada DKI

Diperbarui: 3 Februari 2017   23:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Wartanesia.com

“Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character give him power.” Kata-kata pamungkas ini diutarakan oleh Abraham Lincoln, presiden ke-16 Amerika Serikat dalam salah satu momen orasinya. Terbukti, semua orang akan memperlihatkan warna dan bentuk aslinya ketika memegang kekuasaan. Tidak hanya saat mereka mempunyai kekuasaan, dalam usaha mengejarnya saja pun mereka seperti itu.

Barbara Goodwin mengatakan, “Force is the ability to cause someone to do something against her will,”. Kekuasaan adalah kemampuan untuk menyebabkan seseorang melakukan sesuatu melawan kehendaknya. Bila seseorang mampu melakukan hal tersebut, maka orang itu mempunyai kuasa terhadap orang lain.

Intinya, kekuasaan adalah kemampuan untuk mengeluarkan sanksi. Bila seseorang tidak mengikuti perintah sang penguasa, maka ia berkewajiban menerima hukuman. Perintah dan sanksi itulah yang menggambarkan kendali seorang penguasa. Kendali itulah yang menjadi keuntungan menjadi pengampu kekuasaan.

Demi keuntungan itulah, banyak orang mengejar kekuasaan hingga menghalalkan segala cara. Salah satu contohnya adalah Prabowo Subianto dengan smear campaign yang dilakukannya pada Pilpres 2014 lalu. Ia, dalam misinya mencapai kekuasaan, memanfaatkan ketidaktahuan publik tentang kehidupan  Jokowi. Tampaknya, demikian juga yang dilakukan oleh Anies.

Pertama kali penulis melihat Anies Baswedan adalah ketika Ia menjadi moderator acara debat presiden perdana tahun 2009. Dengan penuh karisma, Ia memimpin jalannya debat. Ia muncul sebagai orang yang pintar dan terpelajar dengan segala prestasinya.

Bertahun-tahun lewat dan nama Anies Baswedan kembali terkenal dengan posisinya sebagai rektor muda Universitas Paramadina. Saat itu, bagi penulis Ia merupakan sosok yang patut dijadikan contoh.

Sejarah pendidikannya mencatat bahwa Ia adalah lulusan S1 UGM, setelah itu menempuh Master of Public Policy di University of Maryland dan Phd. di Northern Illinois University. Sambil berdecak kagum, terpilihnya seorang Anies Baswedan sebagai rektor muda Paramadina merupakan kewajaran.

Saat terpilihnya Presiden Joko Widodo, penulis yang saat itu masih duduk di bangku sekolah, berdiskusi hebat dengan rekan sekelas. Tak lain mendiskusikan rasa kagum akan seorang Anies Baswedan yang terpilih menjadi menteri pendidikan. “Akhirnya, menteri yang bisa diharapkan,” ujar penulis ketika itu.

Pada saat itu, Anies Baswedan sangat populer di mata masyarakat.  Citranya sebagai sosok yang terpelajar dan adil menjadi idola di kalangan pelajar. Namanya begitu harum dan dihormati saat pembina upacara bendera membacakan suratnya yang penuh pepatah di hari-hari penting.

Oleh karena itu, berita dipecatnya seorang Anies menjadi berita menggemparkan. Apakah Jokowi sakit? Gimana ceritanya Anies kok bisa dipecat? Bukankah Anies adalah calon terbaik sebagai menteri pendidikan? Bukankah Anies pendukung paling setia Jokowi? Pertanyaan itu simpang siur di setiap pembicaraan mengenai pemerintah.

Tetapi, sekarang penulis mendapatkan pencerahan mengenai pemecatan Anies yang terkesan semena-mena. Saat ini, Anies Baswedan merupakan Cagub DKI yang dipasangkan dengan Sandiaga Uno. Tanggal 25 Januari 2017 kemarin Ia diundang ke acara Mata Najwa. Di acara itu Ia mengutarakan pandangannya terhadap masalah SARA yang dihadapi Indonesia dewasa ini. Bukan kepalang terkejutnya penulis saat Ia dengan santai mengatakan bahwa non-muslim tidak pantas menjadi calon pemimpin. Ucapan yang meluncur mulus dari mulut Anies itu benar-benar  berbeda dengan citra yang selama ini terpatri di kepala banyak pengagumnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline