Lihat ke Halaman Asli

Alip Yog Kunandar

TERVERIFIKASI

Bukan Pemikir, Meski Banyak yang Dipikirin

Lampard Dipecat Chelsea, Mau Nulis Buku Anak Lagi?

Diperbarui: 25 Januari 2021   22:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi: Alip Yog Kunandar

Selesai sudah karir kepelatihan Frank Lampard di klub yang membesarkan namanya sebagai pemain, Chelsea. Hari ini, 25 Januari 2021, The Blues resmi memecatnya setelah 18 bulan duduk di kursi panas itu.

Kursi yang diduki Lampard memang panas sejak dulu. Terutama sejak pengusaha dengan dua kewarganegaraan; Rusia-Israel, Roman Abramovich, mengambil alih kepemilikannya tahun 2003. Sejak era Abramovich, sederet nama besar pernah menduduki kursi kepelatihan. Sebut saja Jose Mourinho, Guus Hiddink, Carlo Ancelotti, Roberto Di Matteo, Rafael Benitez, Antonio Conte, dan juga Maurizio Sarri.

Di antara nama-nama itu, tak ada satupun yang pernah duduk nyaman. Mourinho yang paling banyak menyumbang trofi memang pernah dua kali mendudukinya, antara tahun 2004-2007 dan 2013-2015. Hiddink pernah dua kali juga, 2009 sebagai pengganti, dan 2015-16. Itupun hanya menyumbang satu piala FA.

Konon, Abramovich adalah sosok pemilik yang ambisius. Di satu sisi, ia tak pelit urusan duit. Pelatih minta pemain siapapun, dimanapun, dengan harga berapapun, pasti dipenuhinya jika memungkinkan untuk diangkut ke Stamford Bridge.

Tapi Abramovich yang juga seorang Gubernur Chukotka --sebuah provinsi paling timur di Rusia---sejak 2000-2008 juga sering dianggap terlalu campur tangan urusan teknis. Pemilihan pemain, menjadi salah satu hal yang sering direcokinya. Banyak pemain yang didatangkan ke Chelsea bukan karena kebutuhan tim atau rekomendasi pelatih, tapi karena keinginan Abramovich.

Salah satunya adalah ketika Abramovich kepincut penyerang Ukraina yang bermain di AC Milan, Andriy Shevchenko. Saat itu, semua orang pasti menginginkan Sheva ada di timnya. Maklum, selama tujuh tahun di Milan, ia berhasil menyumbang 127 gol di liga domestik saja.

Tapi tidak dengan Mourinho yang melatih Chelsea saat itu. Ia merasa bahwa squadnya baik-baik saja. Musim 2005-2006 mereka baru saja merayakan ulang tahun klub yang ke-seratus dengan kado mempertahankan juara Liga Inggris yang diraih tahun sebelumnya. Di barisan dengan mereka masih punya Didier Drogba yang masih subur bersama nama besar lainnya, Hernan Crespo dan Eidur Gudjohnsen.

Abramovich tetap ngeyel. Sheva pun diboyong dari Milan. Harganya? Mahal lah pokoknya, sekitar 70 juta euro. Kurang lebih segitu lah, saya lupa, hehe... Milan tak bisa menolak duit segede itu, tawaran diterima, apalagi uang itu masih ditambah lagi dengan Crespo, kan lumayan meski sudah rada gaek. Toh Sheva juga sudah mulai dimakan usia waktu itu.

Hasilnya? Chelsea gagal mempertahankan juara untuk ketiga kalinya. Tertinggal 6 poin dari MU yang jadi juara, meski masih bisa memboyong FA Cup dan Piala Liga. Duet Drogba-Sheva memang tak gagal total, tapi mengecewakan. Sheva malah lebih parah, hanya menyumbang 13 gol berbanding dengan Drogba yang menyumbang 33 gol.

Konon persoalan Sheva itu yang membuat Mou jengkel. Ia pun angkat kaki sebelum dipulung Inter dan menyumbang piala Champions di sana; piala yang waktu itu sangat diidamkan oleh Abramovich.

Ketika Chelsea menendang Maurizio Sarri setelah 'hanya' menyumbang satu piala UEFA. Penggemar Chelsea dan publik sepakbola dunia terkejut dengan pemilihan Frank Lampard. Lampard memang nama besar dalam sejarah modern Chelsea, tapi sebagai pemain. Bukan sebagai pelatih. Pengalamannya melatih hanya setahun di klub Championship, Derby County. Itupun tak sukses-sukses amat, peringkat ke enam, dan gagal promosi ke Premiership.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline