Lihat ke Halaman Asli

Alifah Thaha

Mahasiswi S1 Pendidikan Masyarakat UPI

Memartabatkan Kelompok Marjinal melalui Suaka Community Development

Diperbarui: 29 November 2022   21:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

KONDISI EMPIRIS

Community Development atau Perkembangan Masyarakat telah diaplikasikan kajiannya oleh hampir keseluruhan kelompok/organisasi dari seluruh penjuru dunia dengan tujuan satu, yakni, meningkatkan kualitas (Bhattacharyya, 2004). Terminologi ini patut dimaknai untuk menjadi garda keberlangsungan hidup umat manusia, dikarenakan metode pendekatan kolaboratif (Foot, 2012; Foot & Hopkins, 2010) yang diusung dapat menawarkan prospek baru untuk membenahi kelompok/masyarakat yang dirugikan/ditindas/ditelantarkan. Dirujuk dari perihal tersebut, paham community development mengandung tujuan sebagai alat identifikasi dan pembangun kerangka kekokohan aset dari setiap individu dan masyarakat (Kretzmann & McKnight, 1996). Pun sama halnya dalam memumafakti  potensi kapasitas, keterampilan, pengetahuan, koneksi, dan sportivitas dalam suatu tatanan masyarakat (Foot, 2012).

Kilas balik kembali pada tahun 1958 (Samonte, 1982), pemerintah Filipina telah meluncurkan program community development melalui the Philippine Assistance on Community Development (PACD). Program ini menerapkan pendekatan dengan fokus perkembangan daerah rural dan populasinya yang bersiklus pada empat mata tujuan dalam mempromosikan penghidupan (livelihood), pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan sendiri (self-government). PACD hanya mengalami kesuksesan sementara karena banyaknya aspirasi dan besarnya ekspektasi dari stakeholder semacam petani, wanita rural, dan pemuda jalanan. Lalu, dirancanglah the first Philippine Community Development Plan (Luna, 1999a) yang menegaskan tentang peran unit pemerintah daerah dalam menguatkan demokrasi wilayah melalui kegiatan pengembangan masyarakat yang melibatkan proses kepemimpinan. Pada tahun 1960an, hanya konsep pemberdayaan dan partisipasi masyarakat lokal yang berlaku, tidak sampai 1980an, metode pendekatan community-led dan community-based terhadap program-program pengembangan masyarakat baru diimplementasikan secara nyata (SELN, 2006).

Community forestry di pelataran Amerika Utara contohnya. Di British Columbia pada tahun 1945, terefleksi suatu alternatif untuk meningkatkan skala industri perhutanan ke seluruh daerah Amerika Utara dengan perencanaan pengelolaan hutan di tingkat kotamadya (Pinkerton, 2018). Berdasarkan definisi yang diutarakan Mather (2001), post-industrial forestry yang dipetakan oleh komunitas kehutanan di Kanada (British Columbia Community Forest Association), bahwa manajemen operasional hutan meliputi multifungsi, nilai intrinsik, dan bersifat konsultatif. Pengelolaan ini strukturnya dari otak sampai penggerak, dikendalikan oleh warga setempat dalam meningkatkan potensi wilayah pada sektor kehutanan terhadap peningkatan moneter pun peningkatan manfaat lain yang dihasilkan, yang pada akhirnya ditujukan untuk memakmurkan pembangunan daerah mereka sendiri (BCCFA, 2019a).

Bukti empiris lainnya dari pengaplikasian community development pada segelintir masyarakat mikro yang berdampak pada masyarakat makro, begitupun sebaliknya. Seperti pada pengembangan afiliasi pada payung organisasi seperti Industrial Areas Foundation dan the Grameen Bank. Konsep community development dipakai oleh beragam organisasi, dari lingkup kecil, yang berdiri sendiri, pun lingkup masyarakat luas. Seperti halnya pada negara demokratis (i.e. AS, Britania Raya, dan India), pada demokrasi transisi (i.e. negara tinggalan Uni Soviet), dan bahkan pada negara otoriter sekalipun (i.e. Cina) (Bhattacharyya, 2004). Hal ini dapat diwujudkan karena adanya sistem partnership yang menyediakan wadah kepada pelaku untuk bersama-sama memegang peranan penting dalam sektor kinerja pemerintahan, perancangan (design), dan fasilitator (Brooks & Kendall, 2013; Bull et al., 2013; Foot, 2012; Foot & Hopkins, 2010; Morgan & Ziglio, 2007; Morgan et al., 2010).

KONSEP TEORI

Menurut Flora dan Flora (1993), community development berasal dari dua kata, yaitu, community dan development. Jika dikombinasikan, jalannya korelasi kedua kata tersebut bergantung pada interaksi antara sekelompok orang yang tergabung pada suatu agensi kolektif. Dalam menunjang peranannya sebagai peningkatan kualitas masyarakat, community development memiliki paralel dengan inovasi kemasyarakatan yang difondasikan oleh konsep placemaking, konsep tersebut adalah antidote untuk menstabilisasikan perkembangan zaman dengan kebutuhan masyarakat (Scoones, 2009; Markusen & Gadwa, 2010).   

Community development menjuruskan pada usaha untuk membangun solidaritas dan pelayanan melalui penerapan self-help (menolong diri sendiri), felt needs (kebutuhan yang dirasakan), dan partisipasi (Bhattacharyya, 1995). Konsep ini merupakan cita-cita fleksibilitas yang jika sekali konsep ini dibelenggu oleh sejumlah restriksi, agen sosial akan merasa terpaksa dan berujung terjadinya separatisme paham (Denise & Harris, 1990: 7). Kontribusi seluruh aspek yang bersangkutan akan sangat shahih dalilnya jika terkumpul niatnya yang memang berfokus pada dialektika/problematika hari ini dengan bercermin pada masa lalu untuk penunjang masa depan (Biddle, 1966: 12).

Konsep terminologi ini merupakan sebuah teknik dan/atau alat untuk mengakses dan menjaring jangkauan masyarakat dengan segala kandungannya yang kemudian mengambil langkah untuk direvitalisasi tujuan serta metodenya seunik mungkin dalam mencapai pemahaman pengawasan implementasi yang lebih mutakhir (Christenson & Robinson, 1989; Ferguson & Dickens, 1999). Menurut Lee Cary, pendiri the Community Development Society pada pertemuan the Illinois State Chapter of the Community Development Society, ia menyatakan bahwa konseptual ini bisa juga disebut sebagai Locality Development, karena model praksis yang similar. 

Kenny (2007) menyatakan bahwa community development hanyalah konsep dinamis dan usaha menantang yang ditujukan untuk menghadapi segala situasi dalam mencari jalan keluar pun juga untuk mengembangkannya. Masyarakat dengan segala masalahnya tidak bisa ditahan oleh hanya satu metode pendekatan yang seragam, justru community development hadir untuk merumuskan variasi tersebut untuk keunikan pada masing-masing masalah. Formulasi community development dalam mempromosikan solidaritas dan agensi, dapat digunakan pada projek demokrasi yang akan memberdayakan masyarakat yang berkelanjutan dalam meraih kebebasan kesempatan sesuai kehendaknya yang berafirmasi (Bhattacharyya, 1995; Walzer, Phillips, & Blair, 2022). 

Indikator yang harus dipegang teguh dalam harapan kesuksesan berjalannya community development sebagai berikut:

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline