Lihat ke Halaman Asli

Ziddan Alghifari

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Berbahagialah dalam Menghadapi Kematian

Diperbarui: 6 April 2021   14:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi orang merenung (sumber:islampos.com)

Kematian sering bahkan selalu dianggap suatu hal yang menakutkan. Akan tetapi, jika berpikir dengan cara yang "sedikit" berbeda, kita bisa menyikapi kematian menjadi suatu hal yang biasa-biasa saja, bahkan menggembirakan. Kita harus memahami dan menanamkan dalam diri, bahwa kematian merupakan bagian dari alam atau bagian dari kehidupan yang mau tidak mau, siap tidak siap harus dihadapi.

Sebenarnya, jika kita dapat menelaah secara benar, kematian ditakuti banyak orang adalah karena persepsi, anggapan, gambaran, dan  bayang-bayang yang kita buat sendiri perihal kematian. Jika gambaran kita mengenai kematian adalah sesuatu yang menakutkan, bukan tidak mungkin, reaksi kita mengenai kematian adalah negatif dan kita akan ketakutan sendiri ketika berbicara mengenai kematian. Begitu juga sebaliknya, jika kita memberikan anggapan bahwa kematian bukanlah suatu yang menakutkan, bukan tidak mungkin, kita akan lebih tenang dalam menghadapi kematian, bahkan berbahagia dalam menghadapinya.

Pada hakekatnya, kematian adalah sebuah objek mati dan kita sendirilah yang memiliki peran untuk memberikan stigma positif atau negatif. Kita sendiri yang mengatur akan menganggap kematian sesuatu hal yang menakutkan, kemudian kita cenderung ketakutan dan menghindarinya, atau mengangap kematian adalah suatu jalan hidup yang memang harus ditempuh dan siap tidak siap kita akan menghadapinya. Jika kita mengambil pilihan yang kedua, kita cenderung akan lebih tenang dan biasa-biasa saja dalam menyikapi kematian.

Jika dapat memahami makna kehidupan secara sebenarnya, hidup berapa pun umurnya akan menjadi panjang jika kita paham bagaimana menggunakannya. Sebaliknya, hidup akan menjadi sangat pendek jika kita tidak bijak dalam menggunakannya dan hanya terbuang untuk hal yang sia-sia. Hidup akan menjadi sangat percuma, mekipun 100 tahun, jika hanya diisi dengan kegiatan yang sia-sia, seperti cemas, khawatir, iri, dengki, mengejar kekayaan terus-menerus, penakut, dan hal-hal menyedihkan lainnya.

Kita seringkali tidak sadar bahwa waktu tidak dapat diputar balik. Kita tidak sedikit melakukan kegiatan sia-sia. Hingga pada akhirnya, penyesalan datang di akhir. Tidak sedikit cerita-cerita orang tentang orang-orang yang terlalu terobsesi dengan jabatan, harta, dan kekayaan hingga melupakan "quality time" bersama keluarga. Kemudian penyesalan datang di akhir, karena lebih mementingkan harta duniawi daripada keluarga sendiri. Padahal, pepatah yang berbunyi kekayaan tidak dibawa mati memang benar adanya. Saat kita mati, kita tidak membawa apa pun kecuali yang melekat pada diri kita -- kain kafan jika muslim.

Selain terobsesi dengan harta, benda, kekayaan, jabatan, dan kegilaan duniawi lainnya, manusia juga terobsesi dengan ketenaran, ingin dikenal dan dikenang banyak orang. Tidak sedikit orang yang ingin dikenang banyak orang, diketahui khlayak ramai, dikenal seluruh negeri, bahkan luar negeri -- dengan cara apa pun, artis, politikus, olahragawan, penulis, selebgram, youtuber, dll. Orang-orang seperti ini juga menambakan untuk tetap dikenang sepanjang hayatnya, bahkan saat sudah meninggalkan dunia sekalipun.

Padahal, ketenaran yang sangat didambakan banyak orang bersifat sementara. Sungguh patut dipertanyakan orang-orang yang mengejar ketenaran, padahal ketenaran bersifat sementara. Orang-orang yang ingin dikenang sepanjang hidupnya -- hingga meninggal -- sering lupa, bahwa orang yang mengenangnya pun juga akan meninggal juga. Begitu juga generasi-generasi berikutnya, tidak ada yang abadi di dunia ini. Perlahan tapi pasti, kenangan-kenangan akan orang-orang besar akan lenyap dari semua ingatan, kecuali nama-nama besar yang diabadikan menjadi nama jalan dan diulang-ulang di dalam buku pelajaran sejarah sekolah.

Kita harus memahami hakekat dari kehidupan, bahwa kita ada di dunia ini bukan atas kehendak kita sendiri. Kita semua lahir, ada di dunia ini di luar kemauan kita. Jika menggunakan pendekatan biologis, kita lahir disebabkan oleh pertemuan sel sperma dan sel telur orang tua kita. Itu pun juga di luar kemauan dan kendali kita. Kematian pun demikian, kita juga tidak memiliki kendali di mana kita mati, dengan cara apa kita mati, dan bersama siapa kita mati. Jika kita bisa menerima realitas alam bahwa kita tidak memiliki kuasa atau kendali mengenai kehidupan dan kematian, maka kita bisa sedikit berhenti bersusah hati dan stres mengenai kematian, karena pada dasarnya kematian merupakan bagian dari alam.

Untuk memiliki kehidupan yang berkualitas, minimal dalam hidup kita haruslah terbebas dari emosi negatif -- ketakutan, kecemasan, kemarahan, iri-hati, dengki, menuruti hawa nafsu,  keserakahan, dsb. -- sebaliknya, kita harus mengedepankan kehidupan di atas kebajikan -- keberanian, keadilan pada sesama, kemampuan menahan diri, serta bijak dan berhati-hati dalam menentukan pilihan. Kita harus mengedepankan nalar kita dalam bertindak di setiap aspek dalam kehidupan, tidak hanya menuruti emosi dan nafsu. 

Cermat dalam menginterprestasi kejadian-kejadian di sekitar. Hidup tidak berlebihan dan selalu siap dalam menghadapi risiko terburuk sekalipun. Hidup saling tolong-menolong dengan orang lain, terutama bersabar. Hidup tanpa membeda-bedakan siapa pun, ras apa pun, dan tanpa mendiskriminasi siapa pun dengan alasan apa pun.

Niscaya, jika kita dapat mengedepankan kebijaksanaan dalam kehidupan kita, hidup kita terasa akan lebih membahagiakan, berkualitas, dan tidak takut lagi dalam menghadapi kematian. Kapan pun, di mana pun hidup harus berakhir, kita tidak akan cemas lagi, karena kita telah melakukan berbagai hal kebaikan sepanjang hidup kita.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline