Lihat ke Halaman Asli

Suryana Alfathah

Santrizen Millenial

Tawassuth dalam Islam

Diperbarui: 21 Agustus 2021   09:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Source: umma.id

"Sebaik-baiknya perkara adalah di tengah-tengah"

Salah satu ajaran yang dianut oleh paham Ahlussunnah Wal Jama'ah adalah Tawassuth (Moderat). Tawassuth adalah sikap berada di tengah-tengah, tidak condong ke kanan maupun condong ke kiri. Seimbang antara aqli (akal) dan naqli (Al-Qur'an). Tidak memihak pada siapapun tetapi justru lebih kepada menengahi. Sikap ini merupakan karakter yang sudah sangat melekat pada jati diri umat Islam sejak dahulu.

Tawassuth berasal dari akar kata bahasa Arab yang artinya "di tengah-tengah". Ibnu Manzhur dalam Kitab Lisanul 'Arabi mendefinisikan kata Wasatha sebagai   yang artinya "berada di tengah-tengah sesuatu atau berada di antara dua pihak". Dalam pemahaman masa kini kita mengenal dengan nama Islam Moderat. Allah SWT berfirman:

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (QS. Al-Baqarah: 143)

M. Quraish Shihab, seorang mufassir Indonesia ketika menafsirkan ayat tersebut dalam Al Misbah mengatakan bahwa posisi pertengahan menjadikan manusia tidak memihak ke kiri maupun ke kanan, sehingga dapat mengantar manusia untuk berlaku adil. Posisi pertengahan menjadikan seseorang dapat dilihat siapapun dalam penjuru yang berbeda, dan ketika itu  ia dapat menjadi teladan bagi semua pihak. Allah menjadikan umat Islam pada posisi pertengahan agar kamu, wahai umat Islam, menjadi saksi atas perbuatan manusia yakni umat lain.

Sikap moderat dalam Islam sangat mudah diterima oleh kaum muslim dimanapun karena menjadi penengah antara Islam yang terlalu keras (fundamentalis) dan Islam yang terlalu bebas (liberalis) serta moderasi ini menjadi obat dari penyakit Tatharruf (ekstremis) yang pada masa sekarang telah menjangkit muslimin Indonesia. Fenomena menghakimi orang lain tanpa alasan yang jelas, mudah mengkafirkan orang lain, berkonspirasi dalam hal kejahatan dan sebagainya adalah contoh-contoh penyakit akut yang dialami umat muslim Indonesia.

Muh. Makhdum (anggota Lajnah Ta'lif Wan Nasyr PCNU Kabupeten Tuban) beropini bahwa  sikap ekstrem jelas bertentangan dengan ajaran agama manapun. Sikap berlebihan tidak hanya sulit membuat orang berlaku adil dan lurus, tetapi juga dapat menjerumuskan manusia pada tindakan bodoh. Berlebihan dalam mencintai dan membenci, sering membuat orang bersikap konyol. Orang yang berlebihan mencintai diri sendiri, dapat kehilangan penalaran warasnya, sebagaimana ada orang yang mengangkat dirinya sendiri sebagai imam, nabi, bahkan malaikat jibril. Berlebihan dalam mencintai tokoh idola dan panutan juga sering membuat orang kehilangan nalar sehatnya. Jika berlebihan dalam mencintai saja dapat berdampak sedemikian rupa, tentunya berlebihan dalam membenci akan menimbulkan dampak yang jauh lebih berbahaya.

Tawassuth perspektif Ahlussunnah Wal Jamaah menyelam ke dalam beberapa aspek agama Islam yaitu:

1. Tawassuth dalam Akidah

Maksudnya adalah bahwa paham Ahlussunnnah Wal Jamaah berada di tengah-tengah ajaran paham-paham ekstrim yaitu antara paham Qadariyyah dan Jabariyyah. Sunni (Aswaja) dalam akidah berwajah kepada Imam Abu Musa Al Asy'ari dan Abu Mansur Al Maturidi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline