Lihat ke Halaman Asli

Apa Benar Kopi Harus Digiling, Bukan Digunting? Serba-Serbi Kopi

Diperbarui: 11 Maret 2021   17:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Biji kopi adalah salah satu komoditas di dunia yang dibudidayakan oleh lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia. Hampir setiap pulau atau bahkan provinsi di Indonesia memiliki kebun kopinya masing-masing. Namun demikian, ada beberapa daerah yang lebih terkenal sebagai penghasil kopi karena memang kopi yang dihasilkan memiliki daya saing, baik secara local maupun secara global. Beberapa daerah penghasil kopi tersebut diantaranya adalah Gayo, Kerinci, Mandailing, Toraja, Wamena, Priangan dan lain-lain.

Setiap daerah tersebut memiliki ceritanya masing-masing tentang latar belakang budidaya tanaman kopi tersebut. Contoh yang paling terkenal ialah Priangan. Budidaya kopi di Priangan sangat berkaitan erat dengan sistem tanam paksa yang diberlakukan oleh Belanda pada saat jaman kolonial dahulu. Rupanya biji kopi yang dihasilkan di Priangan ini mampu menyita perhatian masyarakat Eropa sehingga biji kopi dari Priangan memiliki julukannya sendiri, seperti 'Java Preanger' atau 'a cup of Java'.

Namun terlepas dari sejarah kelam tersebut, kita sepatutnya bangga terhadap kopi yang dihasilkan oleh petani Indonesia. Tanpa jerih payah petani kopi, kita tidak akan dapat merasakan nikmatnya menyeruput kopi ketika kepala sedang dikacaukan oleh banyak persoalan, atau saling beradu suara seruput siapa yang paling keras saat berada di tongkrongan. Maka penting bagi kita untuk mengapresiasi petani.

Kesadaran untuk mengapresiasi petani kopi tersebut rupanya pernah hadir salah satunya dalam wujud kampanye yang mungkin sudah tidak asing lagi di telingan kita, yaitu 'kopi itu digiling, bukan digunting'. Yap, kampanye itu baik secara langsung maupun tersirat telah mendorong masyarakat untuk membeli produk biji kopi alih-alih kopi instan. Sehingga permintaan akan biji kopi tidak hanya lagi dari perusahaan pabrik kopi instan, melainkan ditambah oleh roastery untuk kemudian dijual lagi ke kedai kopi atau bahkan langsung ke tangan konsumen.

Saya sendiri pun sejujurnya merupakan 'korban' dari kampanye tersebut. Awalnya saya menganggap bahwa slogan kampanye tersebut terlalu berlebihan. Namun saya juga menyadari bahwa kopi yang tersedia di kedai kopi berbeda dengan kopi instan yang biasa saya seduh di rumah. Jangankan dengan kedai kopi, kopi instan dibandingkan dengan kopi Lampung yang biasa dikasih teman saya saja sudah cukup terasa perbedaannya.

Akhirnya, berbekal kesadaran tersebut dan juga pengetahuan yang saya peroleh melalui menonton banyak video di platform Youtube, saya memutuskan untuk membeli alat giling kopi yang sepaket dengan Vietnam dripper. Harga sepaket alat tersebut tidak terlalu mahal, hanya sekitar 120 ribu rupiah sudah termasuk ongkos kirim. Tentu kualitasnya sangat berbeda jauh bila dibandingkan dengan alat giling kopi lainnya dengan merek ternama, yang bisa dihargai sampai 4 jutaan rupiah. Namun alat murahan tersebutlah yang telah merubah persepsi saya sepenuhnya.

Dengan adanya alat giling kopi tersebut, kebiasaan ngopi saya sedikit demi sedikit berganti dari kopi sachetan ke biji kopi yang telah disangrai. Pertama kali mencoba, memang terasa sangat berbeda. Kopi yang harus digiling terlebih dahulu terasa lebih segar dan nikmat bila dibandingkan dengan kopi sachetan. Akhirnya lambat laun saya sepenuhnya meninggalkan kopi sachetan, karena memang di lidah saya sudah kurang terasa nikmatnya.

Hampir 8 bulan saya mengonsumsi biji kopi robusta, akhirnya saya memutuskan berganti haluan ke biji kopi arabika. Untuk yang masih bingung perbedaan robusta dan arabika, mudahnya kopi robusta adalah kopi yang berasa pahit, kopi ini adalah kopi yang akrab diminum oleh masyarakat Indonesia. Kopi arabika cenderung memiliki rasa asam selain pahit, walaupun sebenarnya ada kompleksitas rasa lain yang terkandung dalam biji kopi arabika. Rasa yang kompleks tersebut tergantung dari mana si biji itu berasal dan bagaimana biji tersebut diproses pasca panennya. Lebih lanjut, cara menyeduh kopi juga ikut mempengaruhi rasa kopi yang hendak disajikan, tentu dengan segala macam variabelnya yang bisa bikin pusing kepala.

Hal-hal menarik tersebut ternyata semakin membuat takjub saya. Maka semakin seringlah saya menonton video-video tentang kopi. Mulailah saya ke kedai kopi terkenal di Jogja untuk sekedar konsultasi dan berbincang ringan dengan ownernya. Dan karena saat ini saya adalah anak kost, maka saya sisihkan sebagian uang jajan saya untuk membeli biji kopi yang sedikit lebih mahal dari yang biasa saya beli, lagi-lagi karena penasaran.

Lalu, di jaman dimana semua orang bisa dengan mudah bersuara ini muncullah pertanyaan, "apakah kopi yang benar itu harus digiling?" "Apakah kopi yang digunting itu salah?"

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline