Lihat ke Halaman Asli

Akbarlian Putra

Menulislah, agar engkau dicatat oleh peradaban.

Puisi | Namanya Rindu

Diperbarui: 3 Februari 2019   23:04

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

https://unsplash.com

Merindumu tidak mengenal waktu. Bahkan, asal kau tahu saja, bahwa rinduku buta angka. Ia tidak tahu pukul berapa harus merindumu terlalu banyak, dan kapan harus menenggelamkan dirinya.

Aku sangat mengenalnya. Namanya, rindu. Ia begitu mencintaimu.

Aku hapal jadwal-jadwalnya; dimulai pukul dua dini hari, di mana orang-orang terlelap dalam mimpinya, atau saat beberapa sejoli sedang membagi cinta yang lagi hangat-hangatnya. Dia malah melakukan hal sebaliknya. 

Terbangun dari mimpi tentangmu, dengan napas yang memburu, kemudian merindumu. Ya, sepagi itu rinduku terbangun dari tidurnya. Kejadian itu terus berulang walaupun jam terbangnya kadang berubah-ubah, kadang pukul dua, kadang pukul satu, atau pukul tiga. Namun kesimpulan yang kutangkap ialah, rindu selalu bangun lebih pagi daripada kesadaranku.

Pukul lima atau enam subuh, rindu kembali terjaga. Satu-satunya teman ketika mataku baru saja terbuka, ketika mimpi perlahan melenyap dari ingatan. Aku terbangun dari kasurku, dari bantal yang berisi mimpi-mimpi buruk atau indah bersamamu.

 Menunaikan kewajiban. Dalam sujud dan simpuhku, aku bertemu lagi dengan rindu itu. Rindu yang bangun pukul dua dini hari. Rindu yang pertama menemaniku ketika kesadaranku baru mulai terkumpul. Dalam sujud, dan tengadah tangan yang berdoa, rindu memuisikanmu terlalu dalam. Kerap, sepasang matanya basah sembari menyebut namamu, lalu perlahan leleh oleh air mata yang jatuh ke wajah sajadah. Ya, sepagi itu ia mendoakanmu.

Pukul tujuh pagi, di mana aroma kopi masih kuat tercium di dapurku, rindu hadir lagi sebagai uap kopi yang mengepul di atas cangkirnya. Aromanya seolah-olah bagai nasabah yang sedang menabung receh-receh ingatan tentangmu. 

Mungkin mudahnya, seperti fragmen-fragmen yang menyusun utuh bayanganmu. Satu sesap, dua sesap, rindu kembali muncul. Ia mungkin teringat bagaimana aroma kopi lebih pekat bila dihirup oleh dua hidung yang berbeda. Bagaimana dua cangkir kopi terlihat lebih candu dari pada secangkir di atas meja. Dan bagaimana paduan rasa pahit-manis lebih mantap jika dinikmati berdua. Namun sayang, rindu lebih memilih menelan kecewa bersama pahit kopi itu dari pada harus mendepakmu dari ingatannya.

Pukul delapan, sampai sepuluh, rindu makin menggila. Dengan lagu-lagu yang ia putar lewat mp3 player miliknya, dia merindumu lebih banyak lagi. Lagu-lagu berisi kenangan yang tak habis-habis dia lamunkan. Seringkali kutatap matanya yang sayu sedang memutar bayanganmu di sana, dengan sisa-sisa ingatan yang makin hari makin kuat namun tipis seiring waktu melenyapkannya satu-satu. Tak jarang rindu bernyanyi terlalu keras, sampai tetangga-tetangganya heran dengan kelakuannya yang aneh di setiap pagi namun tak berani berkomentar di depannya. Suaranya yang cempreng dan tak jarang fals itu terdengar seribu kali memilukan di telingaku yang mendengarnya.

Pukul sebelas, adalah jam-jam di mana rasanya rindu ingin meledakkan tubuhnya sendiri ke udara. Saat-saat di mana mendung menggelayut di langit Januari, dan siap menumpahkan air kencingnya ke bumi.

Maka, diseduhlah kopi kedua, menghidupkan laptop dan semangat yang ia punya hari itu. Rindu memiliki blog. Jadi, setiap pukul sebelas, dia selalu duduk di meja kerjanya bersama laptop dan secangkir kopi--biasanya kopi itu berjenis cappuccino--lalu menuliskan dirinya sendiri lewat papan digital yang lagi dirabanya, ditekan-tekannya, dan disetubuhinya dengan kata-kata puitis tentang dirinya dan kau. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline