Lihat ke Halaman Asli

AGUS WAHYUDI

TERVERIFIKASI

setiap orang pasti punya kisah mengagumkan

Mesin Handpress KH Ahmad Dahlan Nangkring di Museum Pendidikan Surabaya

Diperbarui: 15 Agustus 2022   20:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mesin handpress milik KH Ahmad Dahlan. foto: dok/pri

Tak banyak yang tahu jika warisan benda bersejarah milik KH Ahmad Dahlan ada di Surabaya. Benda itu berupa mesin handpress buatan Tiongkok.

Mesin handpress tersebut hingga kini tersimpan rapi di Museum Pendidikan Surabaya. Lokasinya di Jalan Genteng Kali Nomor 10, Surabaya.

"Mesin handpress milik KH Ahmad Dahlan ini sebelumnya dipakai di percetakan Muhammadiyah di Karangkajen, Yogyakarta,"  ungkap Mochammad Triatmanto Agus, kurator Museum Pendidikan Surabaya, Selasa (9/8/2022).

Museum Pendidikan ini diresmikan Tri Rismaharini (waktu itu menjabat wali kota Surabaya dan kini Mensos RI) pada 25 November 2019. Salah satu museum tematik untuk pelestarian sejarah dan budaya. Keberadaannya untuk mendukung kegiatan edukasi, riset, dan rekreasi di Kota Pahlawan.

Menurut Agus, mesin handpress ini didatangkan pada tahun 2019 atas bantuan Komunitas Numismatik. Mesin ini dioperasikan menggunakan tenaga manusia. Caranya adalah dengan memutar kendali menggunakan tangan.

Beberapa plat cetak yang masih disimpan. foto: dok/pri

"Beberapa plat yang dipakai untuk mencetak juga masih tersimpan. Ada plat yang berbentuk huruf Arab pegon, huruf Jawa, dan lainnya," jelas Agus.

Selain plat, beberapa barang cetakan berupa rapor sekolah-sekolah Muhammadiyah juga disimpan di dalam museum ini. 

Terpisah, Ali Budiono, kolektor dari Komunitas Numismatik, mengaku membeli mesin handpress peninggalan KH Ahmad Dahlan itu pada tahun 2019. Barang itu dibeli dari Toni Lubis, kawan sesama kolektor yang tinggal di Yogyakarta.

“Pak Tony Lubis membeli mesin itu dari keluarga KH Ahmad Dahlan yang memiliki percetakan. Ada tiga mesin handpress yang saya beli. Salah satunya yang saya hibahkan untuk Museum Pendidikan Surabaya. Dua mesin masih ada di rumah,” tutur Ali.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline