Lihat ke Halaman Asli

Telisik Data

TERVERIFIKASI

write like nobody will rate you

Asian Games 2018, Keamanan dan Keselamatan di Atas Kenyamanan

Diperbarui: 14 Agustus 2018   03:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Maskot Asian Games 2018, Bhin Bhin, Atung, dan Kaka. Ketiga nama tersebut berasal dari filosofi yang menjadi semboyan Bangsa Indonesia, "Bhineka Tunggal Ika" (dokpri).

Jakarta dan Palembang siap menyambut penyelenggaraan acara kebanggaan bangsa, Asian Games 2018 Energy of Asia, demikian disampaikan Anies Baswedan dan Alex Noerdin dalam Mata Najwa tempo hari.

Di Jakarta, setelah pemberontakan Kali Item melunak dan jembatan penyeberangan di Bundaran HI diganti pelican cross, belum ada lagi isu panas terkait persiapan pesta olahraga bangsa-bangsa Asia tersebut. Pengamatan penulis, tampak muka Jakarta memang sudah rapi dan cantik, di luar tiang penyangga pepohonan penghias jalan yang belum dilepas.

Namun begitu, dari segala upaya untuk memastikan meriahnya Asian Games 2018, dua hal ini harus tetap menjadi prioritas utama: keamanan dan keselamatan, bagi atlet, official team, panitia penyelenggara, dan penonton pertandingan. Nol toleransi.

Jumlah perkiraan tamu yang akan datang berkisar 15.000 orang, terdiri dari para atlet dan official dari 45 negara peserta, belum termasuk penonton dan suporter baik dari dalam maupun luar negeri. Sementara jumlah event ada 462 acara pertandingan dalam 32 cabang olahraga olimpiade dan 8 cabang non-olimpiade.

Asian Games 2018, mengambil pelajaran dari FIFA World Cup 2018

Sukses tidaknya suatu perhelatan akbar tingkat internasional dapat diukur dengan banyak parameter, salah satunya adalah faktor keamanan.

Kita ambil contoh penyenggaraan pesta sepakbola Piala Dunia FIFA 2018 di Rusia.

Analisis resiko keamanan World Cup 2018 di Rusia (Healix International).

Penyelenggaraan turnamen empat tahunan FIFA tersebut terbilang sukses dengan nyaris nihilnya gangguan keamanan dan ketertiban selama acara berlangsung, setidaknya dari kabar yang muncul di media.

Hari demi hari, penonton dibius oleh penampilan 32 timnas sepakbola terkuat sejagat hingga peluit akhir laga final ditiup. Analisis pertandingan, komentar, kecaman, hingga ramalan silih berganti muncul di linimasa media sosial, televisi, dan media cetak. Semuanya, nyaris tanpa breaking news insiden yang berarti.

Padahal, secara de facto Rusia di bawah pemerintahan Vladimir Putin ini adalah negara yang sedang terlibat perang.

Dalam operasi militer di Suriah, Rusia membantu pasukan pemerintah menumpas ISIS dan pasukan pemberontak yang juga didukung oleh negara lain. Sedangkan di dalam negeri dan perbatasan, Rusia sedang menghadapi gerilyawan Chechnya dan Ukraina. Ditinjau dari konteks situasi keamanan, Rusia cukup rawan gangguan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline