Lihat ke Halaman Asli

Benci, Penyesalan, dan Hari Pahlawan

Diperbarui: 20 November 2022   08:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokumen pribadi

Bagiku, sangat sedikit hal yg dipelajari dalam kesenangan. Namun, banyak hal yg dipetik dari perenungan dan penderitaan.

Bulan ini, bulan yg nuansa emosionalnya begitu kental. Beberapa siswa meneteskan air mata sebelum satu patah kata pun keluar dari mulutnya.

"Tidak perlu untuk menangis, karena air mata merupakan saksi dari keberanian manusia yang paling besar, yaitu keberanian untuk menderita."-Victor Frankl


Mungkin tangisnya selama ini disembunyikan dengan baik. Kebenciannya akan sekitar ditutupinya dengan goresan di tangan atau cakaran di bagian badan.


Walau di mabul di edisi sebelumnya, sudah kutuliskan mengenai derita di tengah kesehatan mental. Nyatanya, kita memang tidak baik-baik saja.


Di beberapa momen, aku tersadar bahwa memang pada perjalanan hidup Masing-masing, kita seolah bersembunyi dibalik jendela penyesalan. Yang seorang pun tak boleh tahu.


Benci dan penyesalan tadi diungkapkan dengan cara melukai diri sendiri. Menyakiti. Menyayat. Menggores. Menyakar. Menghakimi. Meratapi. Mengasihani.


Tanpa meragukan kesetiaan keluarga, orang spesial, sahabat dan teman, nyatanya diri kita sendiri adalah tameng terakhir dari setiap kemungkinan-kemungkinan baik dan buruk yg terjadi.


Bagaimana mungkin dirimu tega melukainya?


Self-love, katanya, adalah ungkapan untuk menyatakan cara mengungkapkan cinta dan sayang pada diri sendiri. Sudah kah kita lakukan? Atau kita lebih karib mencintai orang lain terlebih dahulu dan mengabaikan diri sendiri?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline