Lihat ke Halaman Asli

Remember The Titans: Pro-kontra dualisme kepemimpinan

Diperbarui: 13 November 2016   02:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hiburan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

Amerika Serikat (AS) pernah dan akan selalu menjadi negeri impian banyak orang yang bukan warga AS, atau minimal bagi mereka yang tidak menggunakan bahasa Inggris Amerika sebagai bahasa ibu. Poin ini dapat dilihat sebagai model kesuksesan hegemoni dari strategi kebudayaan AS yang bekerja menggiring imajinasi warga dunia ke-3, tentunya, selain orang yang berada di AS. Bahkan sampai hari ini jargon “The American Dreams” masih rutin berlalu lalang di kehidupan warga urban Jakarta. Lihat saja, misalnya, banyaknya ajang pencarian bakat dalam program televisi kita yang diadopsi dari program serupa di AS. 

Menurut Prof. Ariel Haryanto (Australian National University – ANU) dalam perbincangannya di media sosial, bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa Inggris dipakai di beberapa kafe untuk menu masakan Indonesia yang tak jarang kebarat-baratan (western food), di mana ini bagus untuk turis asing. Tetapi istilah Inggris juga bisa berhamburan dalam ucapan pelayan dengan tamu yang sesama orang Indonesia, dan bukan sebagai bentuk kalimat utuh dalam berbahasa Inggris. 

Ia menjadi taburan beberapa istilah Inggris dalam kalimat berbahasa Indonesia yang kadang membaur dengan logat kedaerahan penuturnya. Dengan kata lain, bahasa Inggris hanyalah sebagai kode sosial masyarakat urban. Menurut saya, ini merupakan upaya imajinatif orang-orang urban untuk menaikkan kelas. Toh, tak ada salahnya berandai-andai menjadi Amerika lewat bahasa.

Imajinasi menjadi Amerika dengan model lainnya telah kita saksikan melalui film Remember The Titans (2000) yang berlatar Amerika tahun 1970-an hingga sepuluh tahun berikutnya. Periode itu merupakan periode penting dalam transisi masyarakat Amerika menjadi seperti saat ini, sebagai representasi sempurna dari demokrasi neoliberal ala Amerika. Boleh jadi kita harus berterima kasih pada periode tersebut karena pada akhirnya Amerika dapat memiliki Barack Obama sebagai Presiden kulit hitam pertama di tengah lekangnya dominasi kulit putih terhadap kulit hitam di mayoritas negara Barat. 

Dalam Remember The Titans, wacana rasisme kulit hitam merupakan point of view yang terang-terangan disampaikan kepada penonton, selain pesan moral lainnya. Di samping itu, terdapat kredit plus yang perlu diketahui bahwa film ini diproduksi berdasarkan kisah nyata di mana berpengaruh terhadap skenario di dalamnya yang diangkat dari kisah nyata.

Remember The Titans merupakan film ber-genredrama dengan tema olahraga American Football, olahraga nomor #1 di Amerika. Menariknya, film bertema olahraga memiliki basis penontonnya sendiri sehingga terdapat istilah sports film sebagai genre yang memiliki sub-sub genre dalam film. Sports film hampir selalu berkisah seputar olahraga yang meliputi pertandingan dan atlet-atletnya. 

Seringkali sports film mengusung plot sederhana dengan drama yang dapat menguras energi karena penonton dibuat tertawa sekaligus sedih, seolah sedang melakukan olahraga. Akhirnya kita tidak bisa menyangkal bahwa cukup banyak  judul film yang sukses di Box Office yang mengusung genre sports film berdasarkan kisah nyata, seperti: The Pride of The Yankees, Raging Bull, Ali, termasuk Remember The Titans. Film seri Rocky (1976-2015) pun nampak tersimulasi secara nyata, sebagai film yang seolah memiliki kisah nyata.

“This is no democracy. It is a dictatorship. I am the law.”

Coach Herman Boone – Remember The Titans

Tidak jarang sports film selalu menampilkan “karakter pemimpin” yang direpresentasikan melalui figur/tokoh utamanya yang berperan sebagai atlet maupun pelatih. Tak terkecuali, dua karakter pemimpin saling bertolak-belakang yang diperankan oleh Denzel Washington (sebagai Coach Herman Boone) dan Will Patton (sebagai Coach Bill Yoast). Di luar itu semua, saya melihat bagaimana seringnya film-film Amerika berkutat pada wacana terkait kepemimpinan menunjukkan bahwa negara ini bukannya mengalami “kebanjiran pemimpin” namun sebaliknya: “krisis pemimpin”. 

Maka, bisa jadi persoalan kepemimpinan di Amerika telah menjadi komoditas yang patut diimajinasikan melalui media film kepada penonton di seluruh dunia; di mana karakter pemimpin ideal seakan boleh berasal dari Amerika sehingga Amerika-lah yang layak memimpin dunia. Produksi imajinasi inilah yang dilakukan melalui film sebagai strategi budaya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline