Lihat ke Halaman Asli

Adi Prayuda

Seorang dosen, penulis, dan murid meditasi

Hal Paling Penting Ketika Ingin Move On

Diperbarui: 13 November 2022   15:52

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar: Ryu Orn (Unsplash.com)

Kita semua pasti pernah menjadi orang yang dicurhati teman atau keluarga kita, bukan? Siapa yang sering? Orang yang sering menerima curhat-an pasti sangat menguasai ilmu yang satu ini. 

Apa itu? Ini terkait dengan 3 tugas penting seorang penerima curhat. Tugas utama dari seseorang yang dicurhati yaitu MENDENGARKAN. Tugas kedua yang juga penting yaitu mendengarkan dengan seksama. 

Tugas ketiganya yaitu mendengarkan dengan empai. Intinya mendengarkan. Tugas mendengarkan seperti ini tidaklah mudah teman-teman. Kadangkala mucul pertarungan dalam diri juga. Emosi kita seringkali terbawa juga ketika kita mendengarkan curhat-an orang lain. 

Kita, sebagai orang yang mendengarkan, seringkali malah ikut-ikutan jengkel, akhirnya ikut marah-marah, ikut sedih, ikut benci dengan keadaan, ikut gregetan. Nah, kalau sudah begini, semuanya pada ingin cerita, meluapkan emosinya masing-masing, jadilah masalahnya tambah besar dan banyak.

Makanya, ada satu benda yang bisa kita jadikan contoh yang sangat baik ketika kita menjadi penerima curhat. Ada yang tahu? Tempat sampah! Bukan tempat sampah sembarangan tentunya, tapi tempat sampah yang bagian bawahnya bolong! Tempat sampah yang tidak beralas. 

Dengan menjadi seperti "tempat sampah yang tidak beralas" kita tidak menjadi penampung sampah (uneg-uneg), tapi menjadi pengalir sampah tersebut. Akhirnya, kita tidak ikut terbebani oleh emosi-emosi orang lain. Memperhatikan ceritanya, tapi tidak menampung emosinya. Kita tetap relatif netral, sehingga nantinya bisa memberikan saran yang seobjektif mungkin, semampu kita, walaupun memang subjektivitas tidak bisa dihilangkan semuanya.

Kenapa ini penting terkait kesehatan mental? Karena dengan mengetahui hal-hal seperti itu, kita menjadi tahu bagaimana memaknai ulang sesuatu sehingga pendar cahaya kebahagiaan kita semakin besar dan terang, tidak terhalangi oleh awan-awan emosi yang tidak produktif. 

Terkait dengan curhat, aktivitas itulah yang menyebabkan perpindahan emosi dari hati seseorang ke luar. Emosi butuh ruang untuk bisa bergerak "ke luar". Bila tidak? Emosi-emosi itu akan menghantam "ke dalam". Dan itu biasanya menyesakkan. Orang-orang yang curhat itu kan sebenarnya butuh orang yang mendengarkan uneg-unegnya, memberikan kasih sayang, perhatian, dukungan kepadanya. 

Solusi dibutuhkan, tapi tidak begitu banyak porsinya. Solusi itu justru seringnya datangnya dari orang yang curhat itu sendiri. Setelah semua bebannya tertumpah keluar, akhirnya ada "ruang kosong" di hatinya. Nah, "ruang kosong" itulah yang membuat dirinya bisa melihat lebih jelas, lebih luas, lebih logis, lebih bijaksana. "Ruang kosong" itu juga yang nantinya diisi oleh aliran inspirasi. Solusi biasanya terkandung di dalamnya.

Beberapa orang pernah curhat kepada saya dengan tema yang sama. Mereka ingin "melupakan" masa lalu dan memulai "hidup baru" dengan cinta, semangat, dan antusias yang baru dan lebih membara. Mereka melakukan banyak hal baru, menyibukkan diri dengan apa saja agar tidak "teringat" kenangan di masa lalu. Berhasil? Tentu saja berhasil...berhasil membuat mereka sangat kelelahan dan semakin mengingat kenangan itu. 

Semakin dilupakan, justru semakin teringat. Apa yang ingin kita lupakan akan semakin kita ingat karena proses pertama dari melupakan adalah mengingat! Cara terkeren untuk mengatasi ini ada 2 hal. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline