Lihat ke Halaman Asli

Achmad Siddik Thoha

TERVERIFIKASI

Pengajar dan Pegiat Sosial Kemanusiaan

Kartu Pintar: Terobosan Baru Memotivasi Masyarakat Merehabilitasi Hutan

Diperbarui: 24 Juni 2015   23:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

1348752759236364136

[caption id="attachment_208344" align="aligncenter" width="246" caption="Kartu Pintar yang digagas oleh LSM LATIN dan KAIL di Jember Jawa Timur (dok. LATIN 2012)"][/caption]

Di sebuah pedalaman Kalimantan, seorang dokter bekerja dengan penuh dedikasi. Selain melayani masyarakat berobat dan memotivasi hidup sehat, dokter juga melakukan hal lain yang sangat mulia. Sang dokter yang mendirikan klinik kesehatan juga meringankan biaya bagi masyarakat yang melestarikan hutan. Sebuah tindakan yang unik namun sangat mengena. Masyarakat dimotivasi melestarikan hutan dengan cara mendapat layanan spesial ketika mereka berobat. Dalam arti lain Sang Dokter ini telah memberikan apresiasi dalam bentuk layanan kesehatan pada warga yang telah ikut serta memelihara hutan.

Ide sang dokter ini ternyata menginspirasi Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) untuk mengadopsi model apresiasi layanan kesehatan menjadi sebuah insentif model baru bagi masyarakat yang memiliki peran dalam melestarikan hutan. Model insentif atau apresiasi bagi jerih payah masyarakat yang secara swadaya ikut melestarikan hutan kemudian mulai dikembangkan LATIN bersama beberapa kelompok masyarakat di beberapa desa disekitar Kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Kabupaten Jember Jawa Timur. Tidak hanya apresiasi pada pelayanan kesehatan pada masyarakat yang melestarikan hutan, LATIN bersama KAIL (Konservasi Alam Indonesia Lestari), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal, menambahkan apresiasi pada layanan pendidikan dan insentif ekonomi.

Selama ini model insentif bagi masyarakat yang mau ikut terlibat dengan pelestarian hutan hampir semuanya dalam bentuk bantuan uang tunai. Misalnya, pemberian biaya perawatan pohon per tahun selama beberapa tahun sebesar sekian rupiah. Sebut saja program Adopsi Pohon, Pohon Asuh, Donasi Pohon dan insentif lain yang berujung pada hibah uang untuk pemeliharaan pohon baik di kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. Dengan model apresiasi yang dikembangkan oleh LATIN, diharapkan bisa lebih tepat sararan dan menyentuh langsung pada kebutuhan dasar masyarakat.

Ide apresiasi bagi upaya rehabilitasi hutan ini tidak mengalami banyak kendala dalam sosialisasi di masyarakat. Menurut Arif Aliadi, Direktur LATIN menyatakan bahwa penerimaan ide apresiasi ini melalui beberapa tahap. Awalnya ide ini disosialisasikan kepada petani yang sudah berhasil merehabilitasi hutan sejak tahun 1994 dan tahun 2001 dengan total penerima sebanyak 50 orang.” Pada lokasi yang ditanam sejak tahun 1994, lahan yang berhasil dihutankan kembali seluas tujuh hektar dan saat ini menjadi demonstration plot (demplot) bagi kegiatan Rehabilitasi Hutan di Zona Rehabilitasi TNMB. Kemudian sosialisai dilanjutkan kepada para istri dari 50 orang petani yang merehabilitasi hutan tersebut. Sosialisasi kemudian makin meluas hingga menjangkau kepada petani yang lahan di area rehabilitasinya relative kosong dan belum rimbun.

[caption id="attachment_208349" align="aligncenter" width="448" caption="Kawasan Zona Rehabilitasi di TNMB yang berhasil direhabilitasi oleh masyarakat dengan fasilitasi LATIN dan KAIL (dok. pribadi)"]

13487530451249386150

[/caption]

Bagaimana respon petani dengan tawaran model insentif ini? “Petani yang mendapat apresiasi sangat senang sekali karena mereka merasa pekerjaan menanam dan memelihara pohon selama ini dihargai. Demikian juga bagi petani lain yang belum mendapat apresiasi, mereka mendapat motivasi untuk bisa menghutankan lahannya,” ungkap Arif, pria yang selama puluhan tahun aktif memberdayakan kelompok pengelola hutan komunitas Indonesia

[caption id="attachment_208351" align="aligncenter" width="448" caption="Staf LSM KAIL sedang berdiskusi tentang lokasi rehabilitasi di kawasan TNMB (dok. pribadi)"]

1348753113865934246

[/caption]

Untuk memberikan apresiasi kepada para petani yang berhasil menghutankan kembali lahan yang kritis di TNMB, LATIN memiliki kriteria yang mudah namun obyektif. Apresiasi akan diberikan kepada petani yang sudah berhasil merehabilitasi lahan. LATIN bersama LSM lokal sudah mengidentifikasi tingkat keberhasilan rehabilitasi dan mengelompokkannya mulai Kelas 1- 6. Kriteria Kelas1 adalah lahan masih kosong dari pepohonan atau masih ditumbuhi oleh semak belukar dan alang-alang. Adapun Kelas 6 mencerminkan lahan yang sudah dipadati oleh pepohonan dan kondisi pepohonan sudah besar-besar dan tinggi, sehingga sepintas sudah mirip hutan.

Proses identifikasi dan pengelompokan lahan berdasarkan kepadatan pepohonan dilakukan sejak bulan September 2011 selama 4 bulan, dan itu hanya dilakukan di areal rehabilitasi seluas 410 ha, yang diakses atau dikelola oleh 708 petani dari Desa Curahnongko. Sementara itu data total, ada sekitar 3.000 ha lahan rehabiilitasi yang harus diidentifikasi dan melibatkan lebih dari 5.000 petani. Untuk tahap awal, LATIN mencoba memberi apresiasi kepada 50 orang petani yang sudah mengelola lahan Kelas 6, yaitu 43 orang petani yang sudah merehabilitasi lahan di zona rehabilitasi TNMB seluas 7 ha sejak tahun 1994, dan 7 orang petani yang merehabilitasi sejak tahun 2001.

[caption id="attachment_208353" align="aligncenter" width="448" caption="Peta Kawasan Rehabilitasi oleh Masyarakat di Desa Curahnongko Kec. Tempurejo Kab. Jember (dok. LATIN)"]

13487532172078172399

[/caption]
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline