Lihat ke Halaman Asli

Sejuta Kenangan yang Hilang di Bus Kemenangan Surabaya-Jember: Part I

Diperbarui: 29 September 2016   15:30

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sebelum bercerita, saya ingin terlebih dahulu mengenalkan diri saya kepada para pembaca. Saya adalah maba FH di salah satu PTN di Jawa Timur yaitu Universitas Jember atau yang akrab disapa UNEJ. Saya orang asli Ponorogo yang kebetulan ketika mengikuti SBMPTN (tes masuk PTN) diterima di UNEJ sehingga berkuliah lah disini. Mengapa saya perlu menyampaikan ini ? Karena pasti nanti akan banyak yang bertanya - tanya "Mengapa kok orang Ponorogo jauh-jauh kuliah di Jember ? Padahal sekitarnya kan banyak ?" Hehe,

Menjelang maghrib, tepatnya pada tanggal 24 Agustus 2016 saya sudah berkemas-kemas karena ingin melakukan perjalanan ke Jember guna mengikuti KRS yang sangat penting bagi seorang maba. Kebetulan waktu itu saya membawa barang bawaan yang lumayan banyak, satu tas ransel berisi laptop & makanan, satu tas besar berisi rice cooker dan sejummlah pakaian. Setelah maghrib saya pun diantar oleh bapak ke terminal Seloaji Ponorogo. Sekedar info, bus tujuan Ponorogo - Jember tidak ada yang langsung sehingga untuk bisa ke Jember saya harus ke Surabaya dulu baru kemudian cari bus tujuan Jember. Sekitar pukul 19.30 WIB bus yang hendak saya tumpangi pun berangkat. Waktu itu saya naik bus patas PO Restu karena memang hanya itu yang ada.

Sampai di dalam bus saya langsung meletakkan tas-tas yang saya bawa demi mengurangi beban di tubuh. Tas besar saya taruh bawah, sedangkan ranselnya saya taruh di samping saya dengan posisi berdiri, mengingat saya pernah punya pengalaman layar laptop rusak karena tertekan di bagian layar. Sehingga saya lakukan itu demi tak mengulangi kejadian yang serupa. Sepanjang perjalanan Ponorogo - Surabaya tak ada kendala yang berarti, suasana kondusif. Keneknya ramah dan sopirnya pun tak ugal-ugalan. Saya pun memutuskan untuk tidur guna menjaga diri agar tak mengantuk di keesokan hari.

Pukul 23.50 WIB akhirnya saya sampai juga di terminal Purabaya, Bungurasih. Karena belum makan malam saya pun berniat hendak menyempatkan diri untuk makan dan istirahat sejenak di ruang tunggu terminal. Sambil makan saya pun mengamati bus-bus tujuan ke Jember yang silih ganti berangkat, setidaknya ada tiga bus yang berangkat selama saya makan itu. Setelah semuanya selesai, dan kurang lebih telah 45 menit beristirahat saya memutuskan untuk ke parkiran bus dan mencari bus yang sekiranya nyaman ditumpangi untuk melanjutka prjalan ke Jember (kebetulan ada dua bus yang mengantre).

Karena saya merasa lelah dan barang bawaan saya lumayan berat, saya pun coba mendekat ke seseorang yang telah saya amati sebelumnya. Ia terlihat membantu membawakan barang - barang penumpang menuju ke bus. Dan tidak ada hal lain yang ia lakukan selain membawakan barang. Atas dasar itu saya pun tak menolak ketika dia ingin membantu membawakan tas saya. Dari kejauhan terlihat bus Akas berada di depan dan siap berangkat, dilihat dari body luarnya bus itu masih mulus. Saya berniat ingin naik bus itu.

Namun rasa tak mengenakan mulai muncul, ketika seorang mas-mas yang memberikan bantuan tadi memberikan tas saya ke seseorang yang entah siapa itu . Dia masih remaja pakaiannya pun tak memperlihatkan kalau dia kenek atau crew bus. Namun saat itu juga mas-mas yang tadi dengan bahasa jawa berkata "Nyoh, kernet'e kan kowe" (Nih, keneknya kan kamu). Mendengar perkataan dia, saya pun akhirnya lega. Dalam hati saya berujar, "Mungkin mas-masnya keberatan dan menyerahkan tas saya ke orang yang bertanggung jawab dengan busnya, yaitu si kenek".

Namun dalam hitungan detik, saya kembali was-was. Sebab anak remaja tadi tak membawakan tas saya ke bus Akas yang berada di depan, melainkan malah di bawa ke bus di belakangnya yaitu bus Kemenangan. Waktu itu saya belum menaruh curiga, karena saya berpikir mungkin anak remaja tadi adalah kenek atau calo bus Kemenangan. Sehingga wajar jika dia membawa tas saya ke busnya. Saya sempat merasa kecewa karena busnya jelek, atau biasa dikatakan bumel. Selain itu otomatis berangkatnya lebih belakangan dibanding bus Akas tadi.

Namun karena tas saya lumayan berat dan kondisi saat itu lelah plus ngantuk, saya pun memutuskan untuk naik bus ini walau sedikit menyesal karena kondisi bus yang jelek tadi. Sepuluh menit menunggu bus pun akhirnya jalan, karena besoknya harus pagi-pagi sudah ke kampus maka saya pun ergegas meletakkan tas-tas saya dan hendak tidur. Posisi tas saya sama persis dengan ketika perjalanan Surabaya-Ponorogo, tas besar di bawah dan ransel disamping. Saya duduk di seat dua dengan saya berada di pinggir dekat jalan penumpang.

Di perjalanan Surabaya - Jember itu, bus tak terlalu penuh juga tak terlalu sepi. Saya pun memutuskan untuk tidur karena sepertinya tak ada tanda-tanda yang akan merugikan saya. Saya tidur dengan sesekali bangun untuk mengecek barang bawaan, hal itu terus saya lakukan. Singkat kata 2/3 perjalanan telah saya lampaui. Tepatnya di pasar Wonorejo, Lumajang saya kembali terbangun. Dan ya, betapa kagetnya saya ketika melihat resleting ransel saya terbuka, hal tak mengenakan langsung terlintas di pikran saya (mungkinkah laptop saya hilang). Dan setelah saya cek ternyata benar, laptop saya sudah raib diambil orang.

Rasa sedih, menyesal, jengkel bercampur jadi satu. Untuk pertama kalinya saya mengalami hal seperti ini. Hal yang selama ini hanya saya lihat di film, kini saya mengalaminya sendiri. Dalam hati, "Kok tega sekali ada orang yang mengambil laptop seorang mahasiswa baru ?" (Yah, namanya juga maling... tak kenal siapa dan dimana kalee, hehe). Seketika itu juga saya coba cari di sekitar tempat duduk saya. Namun hasilnya nol, tak ada laptop itu. Saya pun coba melapor ke kenek, namun justru saran konyol yang saya dapat. Saya disuruh turun dan kembali ke pasar Wonorejo guna mendapatkan kembal laptop dari seoorang maling tadi. LOL.

Di pagi buta, hari masih gelap, tak tau arah tapi disarankan turun untuk mencari orang yang sebelumnya tak saya ketahui. Logika apa yang diapaki kenek ini ? Karena tiap kali saya curhati jawabannya sama, saya pun jadi malas bicara dengannya. Akhirnya saya kembali duduk, kali ini di dekat seorang penumpang lain yang saya curhati juga. Beda dengan kenek tadi, orang ini justru terlihat ikut iba ketika tahu musibah yang baru saja saya dapatkan. Saya pun mulai curiga jangan-jangan kenek itu yang mengambil, karena tingkah anehnya tadi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline