Lihat ke Halaman Asli

Pudji Prasetiono

Perjalanan serta penjelajahan ruang dan waktu guna mencari ridho Illahi

Mahasiswa Semestinya Memberikan Contoh "Cerdas" dalam Penggalangan Dana Bencana

Diperbarui: 7 Oktober 2018   14:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sekelompok mahasiswa yang melakukan aksi penggalangan dana peduli gempa Sulteng disalah satu tempat keramaian umum (Dok. Pribadi)

Seminggu sudah waktu berjalan pasca gempa dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, pada 28 September lalu. Dengan kurun waktu yang sudah berjalan seminggu ini, daerah-daerah korban terdampak gempa meliputi Palu, Sigi, Donggala dan sekitar nya sudah mulai bangkit dan berbenah.

Dari data terakhir yang disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Bapak Wiranto selaku Menko Polhukam, total korban meninggal gempa dan tsunami saat ini sudah mencapai 1.649 orang pada jum'at malam hingga Sabtu dan diperkirakan masih akan terus bertambah.

Data tersebut belum termasuk jumlah korban luka berat dan luka ringan beserta korban hilang yang sejauh ini masih terus diupayakan pencariaannya oleh Basarnas dan tim terkait bersama TNI, mengingat masih dilaporkan korban hilang dari gempa yang terkubur direruntuhan puing-puing bangunan.

Sementara berbagai macam bantuan dari berbagai pihak, baik dari instansi pemerintah maupun dari berbagai pihak instnsi swasta serta berbagai yayasan yang mengatasnamakan peduli bencana terus mengalir ke lokasi. Baik berupa bahan-bahan makanan pokok, obat-obatan, pakaian, dan relawan mulai mengisi dan ikut meramaikan daerah-daerah terdampak gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

Begitu juga dengan pundi-pundi amal untuk korban gempa Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah terus dibuka. Baik dari dari dinas sosial pemerintahan, berbagai yayasan dan segenap elemen masyarakat yang mengatas namakan aksi cepat tanggap peduli gempa Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Simpati Masyarakat dan Penggalangan Dana Secara Seporadis

Simpati masyarakat dari berbagai elemen pun tidak tinggal diam, mereka juga banyak berpartisipasi dan melakukan berbagai model penggalangan dana secara seporadis berdasarkan inisiatif dengan berbagai cara mereka masing-masing. Baik yang terstruktur maupun pribadi, dan tak kurang yang mengatas namakan komunitas masing-masing dengan satu alasan "ikut peduli gempa Palu dan Donggala".

Tidak luput diberbagai daerah juga banyak dijumpai, terlebih di titik-titik atau spot pemberhentian lampu merah yang menyatakan dirinya relawan-relawan bencana dadakan. Mereka menyebar ke beberapa pengendara dan para pengguna jalan untuk meminta sumbangan seiklas dan serelanya dengan menodongkan kotak-kotak amal bertuliskan "peduli bencana gempa Palu dan Donggala".

Penulis juga mendapati sekumpulan anak-anak mahasiswa yang mengadakan aksi sosial penggalangan dana di lokasi-lokasi keramaian umum dengan membawa kotak-kotak amal dan banner di level tingkat bawah atau masyarakat. Seharunya seorang mahasiswa tidak melakukan penggalangan dana dengan model seperti ini, terlebih mereka tidak meggunakan almamater sebagai simbol identitas mereka.

Mereka sebenarnya masih bisa melakukan aksi sosial penggalangan dana di lingkungan kampus mereka sendiri atau melalui yayasan kampus terkait. Kemudian hasil yang terkumpul bisa langsung disalurkan atau disalurkan kembali ke cabang-cabang aksi tanggap sosial yang lebih terstruktur dan terpercaya, jika mereka tidak melakukan penyaluran dana bantuan tersebut secara langsung ke lokasi bencana.

Saya rasa metode tersebut lebih tepat dan seorang mahasiswa harus nya lebih mengetahui metode dan ketentuan dari pada warga masyarakat biasa.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline